WISNUARYOSETIO

Selamat, Tody!

“Terima kasih banyak. Terima kasih banyak. Istri saya nggak bisa berhenti senyum. Dia bilang, ini pesta ulang tahun terbaik yang pernah dia alami sepanjang hidup. Dia bener-bener nggak nyangka bakal ada kejutan kayak gini.”

“Sama-sama, pak. Saya senang bapak mau menjadi klien kami.”

“Saya juga nggak percaya, bapak mau langsung datang untuk memantau acara langsung. Saya kira, bapak pasti sibuk di kantor.”

“Ah, nggak. Saya memang suka melihat langsung kerja anak-anak buah saya. Lagipula saya harus ketemu client juga di Starbucks. Oh iya, gimaa tadi, video pendek buatan kami sudah cukup bagus? Kuenya enak?”

“Wah, bagus sekali pak. Saat credits mulai rolling, istri saya sudah hampir berdiri, eh tiba-tiba ada film pendek. Saya sendiri juga nggak nyangka bakal sampai sebegitunya. Sekali lagi, terima kasih banyak.”

“Saya senang mendengar bapak dan istri bapak senang.”

Tody memegang handphonenya sambil mondar-mandir. Ia terus-terusan melihat angka angka penunjuk waktu. Bukan jam yang ia perhatikan, melainkan tanggal. Baginya, melihat deretan angka itu membentuk seperti ini adalah sesuatu yang langka. Sama langkanya dengan getar dan bunyi yang masih ia tunggu.

Ia memutuskan untuk mencuci muka dan turun saja ke lantai lima. Ia ingin berenang, menenggelamkan dirinya dan semua penantian kosongnya dalam air berkaporit. Segera ia melangkah keluar dari pintu. Tiba-tiba seorang cleaning service menghampirinya.

“Pak Tody… Kamarnya mau dibersihkan?”

“Oh… Nggak usah.”

“Baik pak. Oh iya, selamat ulang tahun. Langka ya, saya bisa ucapkan seperti ini ke bapak. Beda sama penghuni-penghuni lain di sini.”

Tody tersenyum.

“Ternyata kamu teliti kalau lihat kalender, Jang. Terima kasih.”

Senyum Tody mendadak luntur setelah ia berbalik muka. Ia menuju lift, dengan wajah yang semakin suram saja.

Ketika ia masuk, lift itu mendadak macet. Entah kenapa.

Selamat Ulang Tahun, Tody!

“Halo, betul ini kantor Voila Event Organizer?”

“Betul, pak. Ada yang bisa saya bantu?”

“Anak saya besok ulang tahun yang ke-19. Bisa nggak dibuatkan surprise party?”

“Wah, besok ya pak? Sepertinya sulit, tapi coba saya konsultasikan dengan pimpinan kami dulu.”

*

“Halo. Mbak… mbak… sepertinya saya nggak jadi saja.”

“Lho, kenapa pak? Padahal ternyata schedulenya sudah kosong.”

“Saya nggak ada uangnya.”

“Wah, tapi biaya kami tidak mahal kok pak. Untuk sekedar planning tanpa booking lokasi dan menyebar undangan, biasanya hanya kami charge sekitar satu juta saja, itu juga bisa nego.”

“Mahal sekali, Mbak! Kalau begitu lebih baik saya datang langsung besok ke rumah anak saya, nggak usah pake kejutan. Lumayan, uangnya bisa buat dia kuliah.”

“Oh, bapak nggak niat nego dulu?”

“Mmm…”

*

“Halo? Pak, ternyata biayanya bisa gratis.”

“Wah, bener, Mbak? Masa sih?”

“Ya betul pak. Pak Direktur ternyata ingin langsung menangani pesta anak bapak. Bapak tinggal sebutkan alamat dan waktu kosong untuk persiapan bersama kami saja. Besok pak Direktur akan datang.”

“Alhamdulillah! Semoga bapak Direktur yang baik itu dapat balasan dari Allah!”

Tody sudah kehabisan akal. Tugas dari salah satu dosennya yang harus ia kumpulkan hari ini belum selesai dicetak. Tengah malam terlewati. Ia duduk dengan segelas kopi yang mulai dingin di tangannya. Menunggu mesin keparat bernama printer itu menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Di saat-saat seperti ini ia selalu terbayang-bayang teman-temannya yang lain. Yang bisa dengan mudah mencetak kertas-kertas itu dengan mudah di rumah masing-masing. Tinggal menunngu sambil tidur di kasur empuk, dan keesokan paginya kertas-kertas itu akan tersedia. Ia iri.
Tapi setelah melihat sang penjaga rental komputer merobek kalender. Hari ini, setelah bertahun menunggu, kalender itu menunjukkan angka dan bulan yang begitu ia tunggu, tapi begitu ia benci. Rasa iri dalam hatinya tambah menjadi-jadi.

Beberapa hari yang lalu, kampus Tody sempat dihebohkan oleh sebuah pesta ulang tahun. Memang, pesta yang satu ini benar-benar luar biasa. Bayangkan, tiba-tiba sebuah grup band yang waktu itu sedang sangat naik daun, didatangkan mendadak ke lapangan basket kampus. Mereka tiba-tiba bermain secara akustik, spesial untuk salah satu anak dari jurusan lain. Yang memanggil band itu adalah pacarnya, dengan uang pribadinya sendiri.

“Mas, printer kita kayaknya habis tinta.”

Tody masih melamun.

“Ini, hasil cetakannya.”

“Apa, mas?”

Gelas kopi itu menumpahkan sebagian isinya ke atas kertas-kertas yang masih hangat, baru selesai diberi tinta.

“Aww, shit!”

Selamat Ulang Tahun, Tody!

“Pak, minggu ini saja kita dapat tiga belas order pesta! Saya rasa, kita harus tambah karyawan.”

“Silahkan, gimana baiknya menurut kamu. Tapi di recruitment test kita, saya ingin kita tambah satu syarat.”

“Apa itu, pak?”

“Siapapun dia. Melamar di posisi apapun. Orang yang ingin bergabung bersama Voila harus punya kemampuan untuk…”

“Pak?”

“Mengingat ulang tahun orang.”

Tody hari ini belajar soal tahun ganjil di kelasnya. Ia yang saat itu masih sangat muda dan polos sempat tidak percaya kepada konsep ini. Menurutnya, waktu tidak pernah punya hitungan yang pasti. Siapa yang tahu, selain Tuhan? Lagipula menurutnya penanggalan kalender itu hanya akal-akalan bangsa Romawi saja saat itu, supaya kalender tetap seimbang.

“Jadi, anak-anak, ada pertanyaan soal tahun ganjil?”

“Emm… Pak, kalau orang yang lahir di tahun ganjil, gimana?”

“Ya biasa saja. Memang kenapa, Tody?”

“Bukan, pak! Maksud saya, hari ganjil. Seperti hari ini pak, 29 Februari.”

“Kamu ulang tahun hari ini, Tody?”

Ia mengangguk.

“Pak, Tody pasti kena kutukan! Dia nggak akan bisa nambah tua. Nambah umurnya empat tahun sekali!”

“Hah, apa? Kamu bener?”

“Tody kena kutukan! Tody nggak bisa tua! Huuuu. Jangan deket-deket Tody, nanti kita kena kutuk juga!”

“Tody, jangan percaya, kata-kata teman kamu tidak benar!”

Tody menangis.

Selamat Ulang Tahun, Tody!

“Selamat siang, Pak.”

“Selamat siang juga, mbak.”

“Kami dari majalah BusinessWeek Indonesia. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan.”

“Oh, silahkan mbak. Tentang apa ya?”

“Saya ingin tahu, ide membuat event organizer spesialis Surprise Party ini masih cukup langka di Indonesia. Saya ingin tahu, alasan bapak mendirikan usaha semacam ini. Apalagi di usia bapak yang masih sangat muda.”

“Yaa… usaha ini sebenarnya saya dirikan sebagai ajang balas dendam saja. Ada hal-hal yang tidak pernah saya dapat, dan saya ingin memberikannya pada orang lain.”

“Maksud bapak?”

“Bagi saya, kata Selamat Ulang Tahun itu mewah. Langka. Sangat spesial. Di zaman yang begitu modern seperti ini orang punya banyak sekali cara untuk mengucapkannya. Mulai dari telepon, sms, atau sekedar memberi Wall di Facebook. Tapi, lama-lama ucapan ulang tahun itu sudah tidak terasa lagi jika cuma sekedar huruf-huruf maya saja. Saya ingin sekali orang-orang mendapat kembali perasaan spesial itu. Caranya… ya dengan membuat pesta kejutan.”

“Tapi selain itu, nggak ada alesan lain? Pribadi, mungkin?”

“Sebenarnya sih ada. Memang bagi saya kata Selamat Ulang Tahun itu langka sekali. Pertama, saya lahir di tahun ganjil. Tepatnya di hari ganjil, 29 Februari. Jadi orang-orang bingung jika dipaksa menyimpan nama saya di kalender mereka. Dan mereka juga bingung ketika harus mengucapkan, tanggal 28 atau tanggal 1? Selain itu setiap kali 29 Februari tiba, empat tahun sekali, hari itu selalu berubah menjadi hari yang buruk. Seperti contohnya, tadi pagi saya ingin berenang, tiba-tiba lift apertemen saya mati. Dan banyak setiap empat tahunnya. Ini yang mendorong saya untuk menciptakan ulang tahun yang sempurna bagi orang lain. Karena saya tidak ingin mereka merasakan apa yang saya rasa selama ini.”

“Wah, menarik sekali kisah Pak Tody. Oh iya, selamat ulang tahun juga bagi bapak. Yang ke berapa, pak?”

“Delapan tahun.”

“Hahaha bapak ini jago bercanda ya! Eh, tapi pak, sepertinya…”

“Ada apa?”

“Voice recorder saya belum menyala tadi. Bisa ulang lagi dari awal?”

Selamat Ulang Tahun, Tody!

Tody terlahir sebagai seorang bayi laki-laki yang tampan. Kulitnya yang merah baru saja merasakan seperti apa debu-debu dunia. Tapi, baru beberapa menit ia lahir, wanita yang melahirkannya meninggal dunia. Saat itu, jam menunjukkan pukul dua belas lebih sepuluh menit. Suster di front office baru saja merobek kalender. Di atasnya, tertera 29 Februari 1976.

Selamat datang di dunia nyata, Tody! Apakah kamu percaya kutukan?

Bandung, 4 Januari 2009, 01:03 AM.
Selamat Ulang Tahun, Iyo!

Babi.

Babi.
oleh Bramara Arthamanggala.

Ayahku Haji. Ibuku Pegawai Negeri. Aku ingin makan babi.

**

Ayah tidak kerja, ia pengangguran. Kerjaannya mengaji, membaca Al-Qur’an. Kepalanya selalu dibungkus sorban. Ialah calon penghuni surga teladan. Shalatnya pasti tiap selesai adzan.

Ayah bilang makan babi itu dosa. Nanti bisa masuk neraka. Dihukum aku selamanya. Dipanggang di atas bara. Panasnya tidak terkira. Badanku gosong dibuatnya.

Aku tak ingin peduli. Aku ingin makan babi.

**

Ibuku pegawai negeri rendahan. Gajinya kecil tidak punya lebihan. Anaknya tiga, yang satu kuliahan. Bagaimana cara ibuku mampu bertahan?

Beli ayam saja ibu tak mampu. Paling mahal makan tempe atau tahu. Kadang-kadang aku tak mau. Langsung ibu memarahiku.
Ia bilang aku tak tahu malu. Aku membisu, Ia memukuliku.

Kami tak mampu membeli nasi. Apalagi beli daging babi?

**

Tadi malam aku mimpi jadi kaya. Makan enak bisa beli apa saja. Harta berlimpah rumah puluhan jumlahnya. Naik pesawat bisa pergi keliling dunia.

Aku tak butuh menjadi kaya. Sekarang, mana daging babinya?

**

Mari kembali ke dunia nyata. Ayah makin relijius saja rupanya. Ia sebutkan semua hadis dan juga fatwa. Makan babi itu haram, ujarnya. Aku sudah tahu dari sejak dulu kala.

Aku pura-pura tidak tahu. Hanya daging babi yang aku mau.

Semakin dilarang, aku semakin penasaran. Tidak bisa kusembunyikan perasaan. Daging babi begitu menggoda iman. Rasanya sudah tak bisa kutahan.

Aku cuma ingin makan babi. Walau hanya untuk sekali.

Negara ini negara Islam taat. Kota ini kota pesantren paling hebat. Semua kafir dipaksa untuk bertobat. Penjual babi dipaksa jadi petani tomat. Daging babi sudah habis dibabat. Jika muncul paling hanya untuk sesaat.

Untuk sekarang aku akan taat. Tapi akan kucari babi itu suatu saat.

**

Temanku namanya Galang. Anaknya baik tidak kepalang. Ibunya cantik, bapaknya garang. Hobinya makan Babi Panggang. Babi itu enak, dia bilang. Pikiranku melayang. Imajinasiku terbang.

Aku ikut terbang. Bersama babi panggang.

Ia adalah Kristen sejati. Hari ini baginya hari yang suci. Natal ia rayakan bersama sanak famili. Di Gereja ia berdoa dan bernyanyi. Pulang-pulang, di rumah berjajar makanan surgawi. Salah satunya, ya daging babi tadi!

Iri aku kepadanya. Makan babi tanpa perlu merasa dosa.

**

Kakakku bilang aku harus bersabar saja. Di surga nanti semua makanan tersedia. Daging babi bertumpuk berjuta-juta. Aku bisa makan-makan sepuasnya!

Siapa yang jamin aku bisa masuk surga? Aku mau daging babi sekarang juga!

Apakah perlu aku pindah agama? Atau menganggap Tuhan tidak ada? Atau mungkin, aku makan babi saja! Masalah dosa biar waktu yang menjawabnya. Misalnya iya kan aku tinggal tobat saja.

Sepertinya aku suka opsi kedua. Daging babi, aku segera tiba!

**

Kutabung uangku sembunyi-sembunyi. Sedikit sedikit kusisihkan dengan rapi. Takkan kutemukan daging babi kota ini. Aku akan kabur, suatu hari nanti. Ketika uangku sudah sangat mencukupi.

Ku menunggu saat-saat itu. Saat intim bersama babi idamanku.

Hari demi hari terlewati. Lembar demi lembar tersusun menjadi tinggi. Koper, pakaian, sudah kubungkus tadi pagi. Ini adalah sebuah perjalanan yang suci. Pertemuanku dengan hidangan yang kunanti.

Tinggal beberapa jam lagi. Daging babi lezat sudah menanti.

**

Inilah dia tempatnya. Rumah makan yang sederhana. Tak ada logo halal di depannya. Yang ada aksara-aksara cina. Aku yakin ini tempatnya. Jantungku berdebar dibuatnya.

Teringat akan Ayahku yang Haji. Dan Ibuku yang Pegawai Negeri. Dan kakakku yang sabar menanti sajian surgawi. Dan duniaku yang dulu tidak warna-warni. Semua akan berganti. Setelah aku melahap apa yang terhidang di depanku ini.

Daging Babi harum baunya. Tapi seperti apa rasanya?

Read the rest of this entry »

tidak mudah menjadi hijau.

salah satu warna kesukaan saya yang terbaru, hijau, seringkali diasosiasikan dengan berbagai hal. mulai dari tamak, karena mencerminkan warna dari lembaran dollar terbesar, sampai dengan lingkungan. malam ini, poin terakhir mengusik saya dalam-dalam. membuat saya kembali ke bulan september, satu tahun yang lalu.

saat itu saya dan ketua pelaksana pentas seni sekolah sedang mencari tema untuk acara yang akan kami selenggarakan. saya, entah setelah membaca tentang apa, muncul dengan sebuah konsep yang cukup menarik pada saat itu: lingkungan. dengan nama envision (singkatan dari the environmental mission), saya mengajukan ide ini kepada teman-teman, dan mereka setuju.

ide saya adalah untuk membuat sebuah pentas seni yang skala-nya lebih kecil, dengan konsumsi listrik yang tidak terlalu besar. semua dekorasi awalnya harus dibuat dari barang-barang bekas sehari-hari. stand bazaar juga harus menyediakan banyak tempat sampah, didekorasi tanpa menggunakan pylox, dan tidak boleh menggunakan bungkus dari styrofoam ataupun plastik. selain itu, asalnya saya ingin sekali mengadakan edukasi lingkungan disela-sela pertunjukan musik yang hingar bingar.

sampai pada suatu hari, selembar poster pentas seni sebuah sma tertempel di majalah dinding sekolah saya. posternya sederhana, hanya menampilkan pohon-pohon dan menggunakan warna primer hijau. saya berfirasat buruk. ternyata benar, konsep kami seketika menjadi pasaran. terlebih ketika pada bulan desember diadakan konferensi tentang perubahan iklim. dunia berubah, indonesia berubah, bandung berubah. seketika semua orang menjadi hijau. greeneration, mereka bilang. mendadak semua orang membeli dvd an inconvinient truth, memasukannya kedalam favourite movie di facebook walau mungkin mereka tak mengerti apa arti film itu (sebenarnya saya juga tidak! hehe). fenomena ekstrim ini diikuti perubahan tren juga. munculnya tas I’m Not A Plastic Bag (fashionistas pasti tahu) yang menghebohkan itu misalnya. atau supermarket yang berlomba-lomba membuat tas ramah lingkungan. dengan sedikit google, anda akan menemukan berita tentang sebuah hypermarket yang MENJUAL tas-tas dengan label ‘ramah lingkungan’ yang bertuliskan slogan di atasnya. warnanya juga hijau daun! pas sekali dengan warna kesukaan para greeneration ini. tapi sayangnya, tas itu terbuat dari plastik. hmm.

kembali ke pentas seni. para pembaca blog ini pasti tahu bahwa pentas seni saya mengubah sedikit tujuannya. dengan konsep pahlawan, kami berusaha tetap menampilkan konsep awal kami. tapi jujur, menjadi hijau itu sulit. sebagai kemasan proposal untuk sponsor, saya menginginkan tas yang kami bawa terbuat dari kain, tapi ternyata itu mahal. saya juga menginginkan agar cover proposalnya tidak dibungkus plastik, tapi itu mahal. saya ingin mendatangkan narasumber tentang lingkungan, tapi itu membosankan dan mahal.  ketika saya mensosialisasikan tentang tema kebersihan yang menjadi isu utama di stand-stand bazaar, satu angkatan di atas saya pada saat itu marah besar dan memutuskan untuk tidak membuka stand sama sekali. saya hancur mendengarnya.

kermit the frog memang benar! it’s not that easy being green.

Read the rest of this entry »

membunuh mimpi, membunuh nyawa.

di blog ini, saya punya satu kategori khusus yang diberi nama ‘mimpi’

john lennon dengan sangat jelas bilang you may say i’m a dreamer, but i’m not the only one. saya memang orang yang suka berharap, senang bermimpi. saya suka future tenses. dan sejauh ini, sudah banyak yang tercapai. alhamdulillah. orang lain juga pasti banyak yang seperti itu. anak-anak tk dan sd diajarkan untuk bermimpi menjadi dokter, perawat, atau pilot. di smp dan sma, cita-cita mulai berubah menjadi lebih realistis seperti musisi, diplomat, atau ‘menantu di keluarga bakrie’ (hahaha, cita-cita ini asli milik teman saya). gelembung-gelembung mimpi memang menarik untuk dipelajari dan, hopefully, suatu saat dijalani, bukan?

tapi kembali lagi, gelembung mimpi memanglah setipis gelembung. mempertahankannya susah, memecahkannya mudah. banyak sekali cara untuk memecahkan mimpi ini, menjauhkannya dari kenyataan. satu yang akhir-akhir ini jelas tertangkap oleh mata saya adalah… narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. narkoba.

bapak dan ibu guru sekolahku tersayang, ayah dan ibu para orangtua siswa tercinta, jika suatu saat anda membaca tulisan ini, janganlah memberikan saya e-mail atau buru-buru menekan BUZZ pada Y!M saya untuk bertanya. tentu nama-nama oknum akan saya rahasiakan demi kebaikan bersama ;)

di pergaulan kelas sembilan ini saya menemui banyak teman-teman baru. dan sungguh, semakin banyak saya bertemu manusia, semakin berbeda juga perilaku dan sifatnya. satu yang sangat saya khawatirkan adalah kebiasaan sebagian kecil dari mereka yang sudah mengenal rokok. dan sebagian kecil alkohol.

memang resiko bersekolah di tempat favorit seperti saya adalah terbentuknya stereotipe. saya mengakui bahwa di sekolah saya ada beberapa ‘kelompok peer-groups’ yang keren (atau menganggap diri mereka keren), dan orang-orang yang bukan kelompok. jurangnya memang tidak jauh, tapi terbaca. anak-anak dari kelompok ini pastilah memiliki kelebihan tersendiri (menulis blog tidak termasuk!), seperti tampan, kaya raya, pandai olahraga, pandai alat musik, atau setidaknya memiliki modal gaul atau berani saja sudah cukup. dan para perempuan juga membuat kelompok tersendiri untuk membagi sebuah kebiasaan ngerumpi atau ngegosip yang sama, atau sekedar jalan ke bioskop untuk menonton film terbaru. saya sangat mendukung! adanya kelompok untuk mempererat solidaritas, untuk melatih organisasi, semua itu jelas tidak salah.

tapi hal-hal menjadi berbahaya ketika anak-anak ‘keren’ tersebut bermaksud untuk menambah ke’keren’an mereka, ke’macho’an mereka, ke’gaul’an mereka dengan mencoba hal-hal yang buruk seperti rokok atau alkohol. saya mengakui kalau saya memang bukan anak yang paling keren, atau macho, atau gaul di sekolah. tapi saya tidak berminat merokok hanya untuk terlihat keren! bahkan ketika saya bertanya kepada teman-teman wanita saya (termasuk si pacar), mereka tidak suka dengan laki-laki perokok. saya sendiri sebagai laki-laki juga merasa SANGAT RISIH jika melihat perempuan merokok, tentunya.

semua panca indera saya menjadi peka terhadap rokok akhir-akhir ini. duduk di samping kawan, tercium bau asap rokok. membuka tas teman, terlihat kotak rokok. saya merasa khawatir jika hal ini terus bertambah buruk. berhenti merokok adalah hal yang sangat menyulitkan. saya melihat dan merekam perjuangan ayah saya bergelut dengan rokok, dan saya tidak mau juga teman-teman saya mengalami hal yang sama. jika saya bisa, saya ingin sekali merebut kotak-kotak rokok itu lalu membuangnya jauh-jauh dari tas teman-teman saya. tapi saya tak berdaya. memang dulu saya punya jabatan, kini saya juga punya jabatan. tapi saya juga tidak mau mengambil resiko untuk digebuki sepulang sekolah hanya karena melakukan hal itu. lagipula, di depan sekolah saya, dengan menyebrangi satu zebra cross saja, sudah terdapat warung yang menjual segala jenis rokok. apa gunanya saya membuang dan digebuki, kalau begitu?

lain rokok lain juga alkohol. ada yang tahu apa itu MIX MAX? bagi yang tahu, saya hanya bisa menyarankan untuk JANGAN meminumnya. bagi yang tidak tahu saya hanya bisa menyarankan untuk JANGAN mau dekat-dekat dengan benda itu. teman saya yang meminumnya pada saat kami karaoke mengaku dia tidak merasakan efek apa-apa memang. tapi kami semua yang bersamanya melihat, jalannya menjadi limbung. di karaoke ia menjadi agak liar. ia mabuk ringan! dan minuman jenis ini bisa diperoleh dengan SANGAT MUDAH, dalam harga yang SANGAT MURAH, di semua tempat perbelanjaan. termasuk salah satu mini mart berlogo bundar merah yang sekarang tersohor atas koleksi alkohol dinginnya.

mereka semua yang sudah mulai merasa candu ini memang punya alasan mereka masing-masing. saya sangat menghargai mereka sebagai sahabat-sahabat saya, teman-teman saya. tapi saya tidak menghargai tindakan mereka. bagi saya, sebaik apapun mereka menjadi sahabat, jika mereka sudah melakukan hal itu saya akan mengurangi rasa hormat saya pada mereka. termasuk juga rasa hormat saya kepada (mohon maaf yang sebesar-besarnya) guru-guru yang bahkan membiarkan puntung-puntung rokok mereka bergeletakan di seluruh sekolah. saya merasa malu, kesal, dan juga bingung menghadapi masalah ini. dan di dunia nyata, tidak banyak hal yang bisa saya lakukan.

teriaki saya pengecut karena saya hanya bisa berani berbicara lantang melalui blog ini. tapi dalam kenyataannya, saya sudah memberitahu mereka dengan baik-baik. rokok tidak baik, alkohol tidak baik. perlahan juga akan saya beritahu mereka bahwa kedua benda haram jaddah itu bisa membawa mereka kepada ganja dan narkoba-narkoba berbahaya lainnya. tapi saya hanyalah seorang teman. beberapa malah menganggap saya hanya kenalan, atau hanya seorang mantan ketua osis yang obesitas dan cuma bisa membual. satu-satunya cara yang bisa saya lakukan melalui blog ini hanyalah untuk mencegah.

bagi pembaca yang berumur masih muda belia, smp atau sma terutama di kota, rokok dan alkohol memang sulit dihindari. mereka ada dimana-mana! entah makan-makan santai bersama teman atau sekedar mengerjakan proyek iseng bersama, bisa mengantarkan kita menuju pengalaman pertama mencoba rokok atau alkohol. inilah yang harus kita semua hindari! kita tidak boleh membiarkan sebuah pengalaman pertama terjadi. tidak ada pengalaman pertama bagi rokok dan alkohol!

semua pengalaman pertama akan berlanjut kepada pengalaman yang kedua, jika kita tidak memiliki keyakinan yang teguh.

sekarang, coba jujur pada diri sendiri, adakah remaja seumur kita yang memiliki prinsip teguh? saya sendiri pun tidak memilikinya. itulah tujuan saya menulis ini, agar tulisan ini bisa menjadi pegangan saya jika saya khilaf atau terlupa. agar tulisan ini yang menjadi pengingat saya.

“yo, maneh mau nyobain?”

“makasih. babeh aing udah susah-susah, berbulan-bulan nyoba buat berhenti ngerokok cuma demi aing, gara-gara waktu itu aing asthma. masa sekarang aing tiba-tiba ngerokok?”

itulah kata kunci saya untuk menghindarinya. pasti masih banyak kata-kata lain yang bisa kita gunakan untuk menolak.

bukan hanya SAY NO, tapi langsung AVOID!

zaman sekarang bukan lagi zaman pemaksaan! dengan menulis ini, sebenarnya saya sendiri juga masih takut digebuki beramai-ramai, tapi saya rasa, di situs ini saya berbicara DEMI KEBAIKAN! jadi saya tidak perlu takut. tentu, bagi pembaca lain juga jangan takut untuk menolak rokok dan alkohol.

dan sekarang jika diantara para pembaca tulisan ini, sudah ada yang mencandu rokok atau alkohol, saya hanya bisa mengingatkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk berhenti. ayah saya sendiri jujur pada saya, ia memulai merokok dari kelas satu sekolah menengah pertama. memang sebuah rekor yang sangat memalukan! tapi pada usianya yang menjelang lima puluh, ia berhasil berhenti total, membuang semua kebiasaannya selama puluhan tahun di masa lalu. jika ia tidak memiliki motivasi yang kuat, saya yakin sekali dia akan mulai merokok lagi. tapi dia tidak, karena dia yakin bahwa merokok itu tidak baik! hal inilah yang menginspirasi saya untuk TIDAK merokok, walau hanya satu hisap. dan hal ini juga yang membuat saya makin kagum dan mencintai ayah saya.

kembali ke paragraf-paragraf saya di awal tentang mimpi. rokok dan alkohol jelas merupakan gerbang terdekat menuju ganja dan narkoba lainnya. jenis-jenis narkoba itu juga merupakan gerbang bagi kerusakan otak permanen beserta kematian. mimpi tentu akan bisa menjadi kenyataan jika seseorang yang memimpikannya, berusaha untuk menjadikannya nyata. bagaimana kita bisa menjadikan mimpi itu nyata jika kita sudah terlanjur mati di usia muda? mungkin mimpi mimpi itu hanya bisa sampai sebatas batu nisan.

rokok dan alkohol memang masih penuh kontroversi. tapi saya yakin, kita semua sudah bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk bagi kita. tugas saya disini hanyalah untuk menulis sebanyak mungkin, dan mengingatkan sesering mungkin.

kini yang harus kita lakukan tidak cukup dengan berkata tidak, tapi juga dengan menghindarinya bersama-sama.

wisnu aryo setio.
duta pelajar anti narkoba kota bandung 2008.

tulisan ini juga akan saya post di notes facebook, tumblr, link di plurk, dan bulletin friendster. jika anda mau membantu, please help me spread the word. tuliskan lagi kata-kata motivasi anda untuk menghindari narkoba, atau cukup dengan copy paste tulisan ini ke sebanyak mungkin mailing list, atau situs social networking yang anda geluti. yang sekarang dibutuhkan bukan pemuda yang hanya bisa bicara, tapi juga bergerak! 

rujak, gado-gado, lotek, karedok.

sabtu kemarin saya habiskan dengan sangat sia-sia belaka. saya memutuskan untuk memberhentikan semua “kegiatan-sabtu” saya (contoh: jalan-jalan ke mall sampai tengah malam) dan menjadi anak rumahan. semua saya lakukan demi meraih sebuah titik produktivitas yang sedang saya kejar mati-matian. tapi entah mengapa saya gagal. saya malah jatuh ke titik terendah saya.

plurk, facebook, friendster (yang thank god masih juga maintenance), dan yahoo messenger, adalah hanya sedikit saja dari puluhan racun-racun yang ditawarkan oleh internet. kesemuanya perlahan-lahan akan menggerogoti kehidupan kita, meracuni otak-otak kita, termasuk ratusan otak remaja perkotaan yang seharusnya masih murni.

hal ini tentu saja mudah dibuktikan. sekarang, hampir 90% siswa di sekolah saya menyalakan handphone di saat pelajaran kosong. sebagian bahkan di saat pelajaran masih berlangsung! (termasuk saya, ehehe). untuk apa? tentu bukan menelepon. bagi yang konvensional, mereka akan main game dan sms. tapi bagi yang sedikit maju tentu aplikasi seperti ebuddy, shmessenger, semuanya sangat menggiurkan untuk dibuka. sarana komunikasi yang murah, mudah, dan sangat praktis. dan ada juga golongan yang sangat melek teknologi, sibuk dengan plurk mobile, facebook mobile, dan mobile-mobile lainnya. saya sendiri sekarang ketagihan membawa notebook saya setiap pergi ke sekolah. bukan untuk mengerjakan tugas, apalagi belajar! tapi untuk membuka facebook, plurk, dan yang lainnya. tapi saya lebih maju, tentu, karena saya buka yang asli, dan bukan yang mobile!

seperti itulah gambaran hidup saya akhir-akhir ini. saya ingin menjadi orang yang merdeka! terbebas dari segala tetek-bengek social networking yang lama-lama menjemukan itu. tapi sejauh ini saya tidak bisa. dan situs-situs sialan itulah yang sepertinya telah membuat sebuah tembok yang menghalangi laju kreatifitas saya.

di tes IQ yang pernah saya jalani, kelemahan terbesar saya dapat ditebak secara tepat. apakah itu? membuat prioritas. saya adalah orang yang cukup sibuk, setidaknya dengan urusan dunia maya dan nyata yang keduanya saya jalani bersamaan. kadang, dua dunia itu saling bersinggungan, dan saya harus bekerja diantara dua-duanya. seperti yang sudah dijelaskan panjang lebar di atas. bagi seorang wisnu aryo, tidaklah mungkin membuka browser tanpa membuka plurk atau facebook. itu nyata! sehingga jika saya akan mengadakan riset untuk proyek-proyek yang saya kerjakan, akhirnya saya terjebak juga di situs-situs itu dan sulit sekali untuk sekedar menekan close. dan saya masih terjebak di situ tanpa menyelesaikan satupun proyek yang harusnya sudah selesai! tidak!

proyek. pekerjaan. cita-cita. mimpi. semua itu orientasinya masih masa depan. tapi tentu saja sebagai seorang manusia yang memanfaatkan waktu dengan baik, kita harus memulainya dari sekarang. kadang, apa yang kita pikir sebagai sesuatu yang tidak mungkin dicapai, bisa saja menghampiri dalam waktu yang tidak terduga. kakak saya mungkin bisa dijadikan contoh yang sempurna. dia senang sekali berandai-andai, memiliki barang-barang mahal atau masuk ke universitas yang dia impikan. awalnya semua itu masih terasa sulit untuk dicapai. tapi law of attraction beraksi. dia memasukkan semua keinginan itu di handphonenya. dan secara bertahap, satu demi satu keinginannya tercapai. ajaib, bukan?

dan saya sendiri hari ini ingin memperkenalkan cita-cita baru saya:

menjadi presiden.

Read the rest of this entry »

Milikmu, Seutuhnya

kisah cinta pertama dari saya. yang absurd, banget. kalau bingung, silahkan kasih pertanyaan? kalau jelek, silahkan dicela. enjoy!

Milikmu, Seutuhnya
oleh Wisnu Aryo Setio

Kamu tak akan pernah mencintaiku seperti aku mencintaimu. Tak akan mungkin. Tak akan bisa terjadi. Bagiku kau lebih dari hidup, tapi bagimu aku mati. Aku milikmu, seutuhnya. Tapi kamu tak akan pernah bisa jadi milikku.

Aku berusaha mengingat kenangan pertamaku bersamamu. Saat itu aku senang, akhirnya ada juga tangan kekar yang memegangku, tanpa harus memakai sarung tangan. Tangan itu milikmu. Aku suka melihat sidik-sidik jarimu tercetak di sekujur badanku yang putih dan ramping ini. Di masa itu kamu telah membawa aku menuju kehidupan. Tapi mungkin kamu juga yang nantinya akan membunuhku, perlahan-lahan.

Kamu tak pernah ragu saat menjadikan aku sahabat setiamu. Atau mungkin lebih dari itu. Hal yang paling kau cintai di muka bumi. Tapi itu dulu! Saat-saat aku masih begitu cantik dan pintar. Saat-saat aku masih begitu diimpikan dan layak untuk dibanggakan. Semua teman kantormu pasti bosan mendengar ceritamu tentangku. Dan di tempatku, aku hanya bisa tersenyum. Tersenyum tanpa wujud yang bisa kamu lihat apalagi kamu rasakan.

Saat-saat itu aku selalu berada bersamamu, sepanjang waktuku. Menemanimu tegang menunggu waktu rapat, atau sekedar melihatmu berkeringat di pusat kebugaran yang selalu kau kunjungi. Aku membangunkanmu dari tidur, melihatmu acak-acakan. Tapi kamu selalu tampan. Apakah aku, yang pertama kau sentuh di pagi harimu, pernah sekalipun kau anggap cantik?

Aku merindukan baju-baju yang engkau berikan, dengan bermacam warna dan bentuk yang tak pernah luput engkau ganti. Tapi kini? Semuanya  sudah teronggok begitu saja di lemarimu yang berdebu. Aku saja sudah tak pernah kamu pedulikan, apalagi baju-bajuku?

Dan hal yang paling aku rindukan dari kamu yang dulu adalah kemampuanmu mengajariku, perlahan membuat aku menjadi lebih pintar setiap harinya. Jika pada awalnya kemampuan hitunganku hanya terbatas di angka-angka sederhana, berkatmu dan ketabahanmu menanganiku, aku bisa menghitung Sin Cos Tan dengan begitu mudahnya. Aku juga kini sudah bisa melantunkanmu lagu-lagu yang kau suka ketika kau tidak rasakan bahagia. Aku ikhlas, melakukannya semua untukmu. Aku rela. Demi kamu serta kebahagiaanmu.

Aku rindu kamu yang dulu. Tapi aku tahu kamu tak akan pernah merindukan aku. Bahkan didalam mimpiku.

Read the rest of this entry »

Benteng.

jakarta, 4 oktober 2008. 21.30 malam. grand indonesia.

4 orang anak berpakaian lusuh keluar tanpa permisi lewat pintu lobby amerta sambil membawa setumpuk tiket hadiah hasil bermain arkade di lantai empat dan lima mall itu. mereka tidak merasa canggung, padahal disebelahnya, seorang artis ibukota masih sibuk melaksanakan ritual cium pipi sebelum melangkah anggun menaiki alphard peraknya. di tangannya tergantung paperbag massimo dutti. sungguh, keadaan yang kontras. anak-anak itu masih tertawa bahagia, berbicara dengan logat betawi, sambil berjalan menjauh melewati lampu-lampu mall yang gemerlapan. saya yang sedang menunggu valet, termenung. dan beberapa jam sesudahnya, lahirlah benteng.

Benteng
oleh Wisnu Aryo Setio

Di kampung kami, masih saja banyak anak-anak yang berdoa setiap kali pesawat terbang lewat, berharap orang-orang didalamnya membagi-bagikan uang kaget. Padahal kami semua tahu, jendela-jendela pesawat tidak bisa dibuka. Koran, televisi, listrik, telepon, dan teknologi telah menyerbu kampung kecil ini sejak bertahun lalu. Tapi tetap, kami bukan manusia-manusia dinamis. Pemikiran kami tetaplah tertanam di satu masa yang sulit berubah. Semua hanya karena benteng-benteng ini.
Lokasi rumah-rumah sederhana kami memang terlalu strategis. Hanya sedikit di belakang gedung-gedung tinggi yang menjulang di Jalan Sudirman. Jika malam datang, lampu-lampu gedung akan menyulitkan mata kami untuk tertutup. Tapi sekligus memberikan latar belakang yang kontras. Rumah-rumah kardus melawan gedung-gedung mewah.

Semenjak para pengembang mulai membangun gedung-gedung di sekitar sini, lahan kampung kami mulai menyempit. Terlebih karena semua orang-orang kaya itu juga selalu membangun benteng-benteng yang tinggi lengkap dengan kawat-kawat berdurinya. Mungkin mereka pikir, karena kami miskin maka kami akan mencuri. Tapi kami tidak serendah itu. Benteng-benteng besar itu hanya berfungsi sebagai penegasan jurang status sosial saja. Kami, yang miskin. Dan mereka, yang kaya raya.

Suatu hari, para sesepuh kampung ini memanggil kami semua. Ia bilang, kampung kami akan segera digusur total. Kami semua harus pindah, jauh sekali ke pinggiran kota. Ini semua akan dilakukan karena lokasi kami yang strategis akan digunakan untuk membangun sebuah pusat perbelanjaan yang terbesar di Jakarta. Megamall Indonesia namanya. Saya pernah sekali melihat iklannya di koran yang saya jual kemarin pagi. Yang saya ingat, mall itu memiliki kolam renang terbesar se-Indonesia, akuarium ikan laut terbesar di-Asia Tenggara, bioskop dengan jumlah teater terbanyak se-Jakarta, dan fasilitas yang ‘terbesar-terbesar’ lainnya. Desainnya sendiri menyerupai bahtera nabi Nuh. Besar, berkilauan, tapi mengintimidasi. Seolah siap melibas apa yang berdiri di dekatnya.

Tentunya kami warga-warga yang lebih muda menolak. Walau uang kompensasinya besar, tapi dimana kami akan bekerja nantinya? Bagaimana dengan pekerja-pekerja kantoran yang butuh baca koran tiap pagi itu? Bagaimana juga dengan anak-anak yang sudah kami usahakan setengah mati untuk tetap sekolah? Berminggu-minggu, berbulan-bulan, kami selalu protes setiap akan terjadi negosiasi. Akhirnya mereka mengalah. Kampung kami akan dibiarkan tetap berada di tempatnya. Tapi jalan keluar kami dari kampung dibuat berbelit-belit, karena jalan utama kami akan menjadi jalan utama mall itu juga. Yang paling parah, mereka akan membangun sebuah benteng yang super-tinggi dan tebal, yang tak akan mungkin ditembus. Ini semua hanya demi supaya orang-orang kaya yang sedang hura-hura didalam mall tidak usah melihat keadaan kami. Kami yang sebentar lagi akan tinggal di sebuah kandang binatang raksasa.

Pembangunan dimulai. Kami bisa melihat iklan Megamall dimana-mana. Tapi kami juga bisa melihat dengan jelas, atap-atap rumah kami yang mulai tertutup debu. Anak-anak mulai terkena penyakit. Kami kesulitan air bersih. Jalan keluar masuk kami sangatlah terbatas. Penduduk kampung mulai tersiksa. Terlebih setelah mereka merampungkan pembuatan benteng tinggi itu. Kami benar-benar terjebak di tengah ibu kota, secara harfiah.

Setelah dua tahun penuh kesengsaraan, Mall besar itu akhirnya selesai dibangun. Pembukaannya dilaksanakan di malam tahun baru. Anak-anak kami hanya bisa merengek, saat kembang api besar-besar yang orang-orang ledakkan tertutup separuh oleh benteng yang terlalu tinggi. Setiap malam, semakin sulit bagi kami untuk tidur karena lampu dari mall terus menyala benderang sampai tengah malam. Apalagi jika ada pertunjukkan yang mereka selenggarakan. Bisingnya bukan main.

“Bapak, Iqbal ingin berenang di kolam renang Megamall,”

Anak saya sudah menyebutkan kalimat tadi tiga kali selama sehari ini. Awalnya saya tidak menjawab apa-apa. Tapi ia terus merengek, sampai saya tak tahan.

“Kamu tahu, nak, untuk berenang di situ, bapak harus membayar lima ratus ribu satu orang. Itu cukup untuk membenarkan bocor di genteng kita dan membuat dinding baru mengganti yang rubuh itu, nak. Kamu pilih mana, berenang atau tidur nyenyak?”

“Tidur nyenyak, pak. Tapi kenapa setiap hujan kita masih kebasahan, pak?”

“Karena bapak tidak pernah punya uang lima ratus ribu.”

Anak saya hanya terdiam, sambil berkaca-kaca.

“Sudahlah, kapan-kapan bapak ajak kamu ke pemandian, ya. Di sana lebih murah. Sama-sama berenang juga kan?”

“Tapi pak, Iqbal mau naik itu!” seru anak saya sambil menunjuk. Dari halaman rumah kami, terlihat jelas ada sebuah menara tinggi. Dari atas menara itu, anak-anak biasa berseluncur ke bawahnya sambil menjerit. Kami tidak tahu, apa yang menanti mereka di bawahnya, karena benteng besar ini masih saja menghalangi pandangan kami. Tapi tak lama setelah anak-anak itu berseluncur, kami semua bisa mendengar deburan air kencang. Anak saya tahu persis, dibalik benteng besar itu, menunggu taman air yang menurut koran-koran, paling besar dan paling mewah sepanjang masa.

Read the rest of this entry »

Selalu Saja Datang Terlambat

spesial saya persembahkan pada para pembaca, kategori baru di blog saya: cerita pendek. untuk edisi pertama yang jatuh di bulan Ramadhan ini, saya berikan karya yang berbau religi. dan spesial untuk kategori ini saya terpaksa menggunakan kembali sahabat lama saya, capslock. selamat menikmati! :)

Selalu Saja Datang Terlambat
oleh Wisnu Aryo Setio

Di depan saya saat ini terhampar Neraka. Neraka sesungguhnya. Lengkap dengan apinya yang menjilat-jilat, menghanguskan ribuan tubuh yang hanya bisa tergolek sambil meneriakkan nama Tuhan berkali-kali. Ratusan yang lain sibuk menangis saat direbus di sebuah panci besar dengan air yang bergolak. Tubuh saya basah. Oleh keringat, darah, dan air mata. Kulit-kulit mulai menghitam, mengelupas. Mata saya perih, dan pandangan saya kabur. Bau yang sangat busuk memenuhi udara. Saya takut, dan saya tersungkur.

“Cukup.” ujar sebuah suara yang berat. Saya tak berani memalingkan muka. Terjatuh saya dalam sujud yang penuh dengan air mata.

“Tuhan, beri saya kesempatan. Beri saya kesempatan.” ujar saya dengan lirih.

Sebuah cahaya yang sangat terang menghampiri lagi, persis seperti beberapa waktu lalu di saat Truk besar itu menabrak saya tanpa ampun. Dalam kecepatan yang tinggi, oleng, menyeruduk layaknya banteng kesurupan. Saya tergolek, penuh darah, dengan rasa sakit yang bertubi-tubi menyerang. Lalu datang cahaya itu. Cahaya yang belum pernah saya lihat. Ia terang, layaknya matahari pagi yang baru terbit, tetapi tanpa rasa silau. Yang ada adalah damai.

Setelah itu saya berada di suatu tempat yang saya sebut dengan “Kehampaan”. Saya telanjang, terbaring layaknya bayi yang baru lahir, di sebuah tempat yang tak memiliki lantai ataupun langit-langit. Hanya putih. Putih yang tak berujung. Tapi di tempat itu pula saya bisa melihat bayangan saya sendiri terpantul di mana-mana, dengan kejadian yang berbeda.

Saya bisa melihat jelas wajah wanita pertama yang pernah saya tiduri saat saya berumur enam belas tahun. Saya bisa melihat jelas adegan demi adegan, dosa demi dosa. Dan saya juga bisa melihat jelas wajah saya yang berseri-seri setelahnya, bukan wajah bersalah, yang seharusnya tampak. Setelah itu muncul saya yang mendobrak lemari Ayah saya dengan sengaja. Lalu mengambil jam tangan emas untuk saya jual lagi. Setelahnya, muncul saya dengan puluhan botol bir. Meracau dan muntah-muntah. Saat dulu saya mengalami itu, saya pingsan. Saya tidak tahu bahwa setelahnya, Ibu dengan telaten membersihkan mulut saya dari muntahan-muntahan itu. Sambil menangis tertahan, melihat anaknya yang begitu berantakan.

Saya ikut menangis. Tapi tak ada airmata yang keluar. Lalu saya berpikir sejenak. Hati saya mulai tenang. Dan saya berkata lirih dalam hati, “Selamat datang di kematian.”

Hari ini saya juga berulang tahun yang ke delapan belas.

Read the rest of this entry »

saya berharap, ini adalah hari terakhir saya hidup di dalam kardus.

“menulis adalah sebuah proses kreatif yang sangat egois” kata sang pembaca kartu tarot yang kamis kemarin saya temui di potluck, sebuah kafe nyaman yang telah menjadi tempat saya memeras otak selama berjam-jam. mungkin pembaca belum tahu, bahwa akhir-akhir ini saya cukup diganggu oleh sebuah proyek baru. proyek menulis. menulis apa? belum perlu saya beritahu! yang pasti, saya sangat excited dengan proyek ini dan saya juga bangga karena saya telah menemui sebuah motivasi baru, setelah menjalani hari-hari hampa tanpa motivasi belakangan.

walau saya belum bisa memberitahu apa yang saya tulis. tapi saya bisa memberitahu sedikit dengan siapa saya menulis. thursday people! rangkaian dua pria dan satu wanita lintas generasi yang entah mengapa bisa bertemu dan: klik! saya sendiri merasa sungguh beruntung, bisa bekerjasama dengan dua orang yang sangat inspirasional bagi saya :)

  1. tubagus andhika nugraha: mulai dari kritikan tertajam sampai garingan terparah ia bisa berikan dengan santainya, dan ia juga yang memberikan saya motivasi untuk menulis blog, yang membuat saya iri dengan blognya yang ramai komen (karena sering memuat lirik lagu top40, huahahaha)!
  2. rara sekar larasati: gadis amerika (haha!) yang bisa membuat saya sadar, betapa indahnya hidup saya dan betapa saya harus mensyukurinya, walaupun ia menyadarkan saya hanya lewat YM! dan saat itu kami berada belasan zona waktu jauhnya. ia yag membuat saya termotivasi untuk melakukan banyak hal, termasuk membuat saya terpancing pengen masuk HI!

dua orang yang telah menemani saya di setiap kamis sore sejuk, untuk sekedar berbagi tawa dan berbagi kebuntuan ide. saya harap, thursday people bisa sukses mewujudkan proyek besar ini! amin…

ampun deh itu poni saya!

seperti yang telah saya singgung sebelumnya, bahwa beberapa minggu kebelakang saya menjalani hidup yang amat sangat suram dalam arti sesungguhnya. rasanya saya menjadi seorang antisosial mendadak yang hidup bersama dua orang teman: ipod dan the alchemist. saya memang hidup ditengah suasana baru kelas sembilan yang menurut saya sangat mengintimidasi, dan dengan mudah mengubah orang jadi depresi. kekacauan hati saya bahkan tergambar dengan sangat jelas di tulisan sebelumnya. tulisan saya yang pointless, yang nggak ada maknanya, yang dibuat hanya untuk meluapkan perasaan yang udah terlalu kacau. sebuah kehampaan yang saya nggak pernah suka.

lalu akhir-akhir ini saya tambah disibukkan dengan menulis. kembali ke kata pembaca tarot tadi, menulis memang sangat egois! saya makin menenggelamkan diri saya dalam karakter yang saya buat. kebetulan, karakter ini adalah seorang yang sepi dan melankolis, menggambarkan apa yang saya rasakan. efeknya? saya tambah kacau, tambah kosong, tambah hampa, tambah tuli dan buta. saya menutup diri. dengan bodohnya saya malah menyangka bahwa orang-orang yang menjauhi saya. padahal saya yang tidak mau beranjak dari tempat nyaman saya. saya justru menjauh saat mereka akan mendekat.

oh iya, kamis kemarin juga istimewa, karena akhirnya the alchemist itu saya tamatkan juga. silahkan teriaki saya dengan kata “basi banget!” atau apapun itu, yang pasti buku itu juga membantu proses penyadaran diri saya. terlebih lagi, bagi para pembaca yang juga sudah membaca the alchemist, buku itu mengajarkan tentang semua hal di dunia yang berhubungan, bukan? saat rara bertanya pada si pembaca tarot, jawabannya juga sama. tarot bukanlah mistik mempercayai masa depan, namun hanyalah cara untuk menyampaikan sesuatu yang sudah tersimpan sebagai suara hati kita, tapi sulit bagi kita menyadarinya. kartu-kartu itulah manifestasi dari perasaan terpendam kita. maka itu, saya cukup mempercayai hasilnya, karena ternyata apa yang diucapkan oleh sang pembaca tarot juga sama dengan apa yang saya pikirkan!

pertama, saya bertanya soal kehidupan sekolah. ia berkata saya terlalu mudah menyerah akhir-akhir ini. saya setuju dan itu benar adanya. lalu, pertanyaan kedua dan yang menurut saya cukup berkesan:

kenapa akhir-akhir ini saya selalu merasa bahwa saya akan ditinggalkan oleh orang-orang yang saya sayangi?

lalu sang pembaca tarot menjawab dengan jawaban yang sangat bagus…

Read the rest of this entry »

time for a change, time to move on.

memandangi deretan tombol putih yang telah menemani saya selama satu setengah tahun ke belakang seringkali membuat saya sedih. entah kenapa, akhir-akhir ini saya merasa kesulitan untuk bisa menyampaikan apa yan terpendam. saya tidak tahu, apakah ini kesedihan? kebahagiaan? kemarahan? atau sebuah rasa haru yang tersirat? saya benar-benar tidak tahu. semenjak beranjak ke kelas sembilan di menengah pertama, saya seolah mengambang. saya merasa layaknya sebuah perahu kertas. dilepaskan oleh harapan-harapan ke kali yang dangkal, entah dimana akan berhenti. apakah saya akan sampai ke samudera atau berakhir bersama sampah, saya masih tidak tahu.

saya berusaha untuk berubah. akhir-akhir ini, terungkaplah bahwa beberapa, atau bahkan banyak, orang yang membenci saya. saya hanya berusaha untuk menjadi diri sendiri, tapi saya mulai sadar bahwa kebanyakan sifat saya adalah salah. kebanyakan sifat saya menyakiti orang lain. saya mulai harus belajar untuk mengendalikan diri, untuk tidak menyakiti lebih banyak orang lain. terkadang saya merasa begitu jelek, begitu hancur, begitu menyedihkan. tapi sekali lagi, saya hanya ingin menjadi diri saya. mungkin saya salah. dan saya ingin meminta maaf. walau saya belum ikhlas memaafkan. walau kamu, yang benci saya, juga mungkin belum ikhlas.

saya membutuhkan sebuah bintang pembimbing. sebuah harapan yang membuat saya terbangun dan menjalani hari dengan senyum. apapun yang terjadi, sebanyak apapun yang benci. saya hanya membutuhkan sebuah tujuan. sebuah tujuan yang akan dengan susah payah saya kejar. sebuah tujuan yang akan menjadi prioritas kehidupan. sebuah tujuan yang entah telah lari kemana. mungkin jauh ke sana, menuju kenangan. mungkin tujuan utama saya adalah berlari ke masa lalu yang mana tak mungkin terulang kembali.

tadi pagi hujan. jalan tol licin dan lengang. lantunan lagu-lagu mengiringi. untuk kesekiankalinya saya tertidur di mobil. terbangun di tempat yang sama. berjalan di jalan yang sama. tanpa sebuah tujuan. saya merasa begitu hampa. saya ingin memutus kebosanan ini tetapi ini adalah area nyaman saya. saya sudah terlalu mati rasa untuk beranjak ke sebuah kebiasaan baru. tapi secercah harapan masa datang menghampiri:

yang saya inginkan agar lembar jawaban komputer saya sepuluh bulan lagi, terhitamkan di tempat yang tepat. dan sebuah surat dari dinas pendidikan akan melayang ke meja belajar saya, dengan tertulis diatasnya nilai-nilai yang sempurna. dan pada saat itu sebuah sujud syukur akan terlaksana dengan lafadz alhamdulillah berulang kali terucap di dalamnya.

lalu, belitung nomor delapan dan gerbangnya yang tinggi akan saya langkahi dengan pasti.

amin.

berhentilah bermimpi!

kapan saya akan beranjak untuk menjadikan mimpi itu nyata? sementara hidup yang seharusnya dinamis ini saya jalani dengan begitu statis. tanpa sebuah perubahan, apakah mimpi itu bisa terwujud? apakah saya bisa pintar tanpa belajar? kurus tanpa olahraga? bisa bahasa prancis dengan translator google? bisa menyetir mobil dengan main need for speed? bisa main gitar dengan membaca chordnya saja?

berubahlah demi kebaikan, wisnu aryo setio!

p. s. judul tulisan diambil dari judul album kompilasi pure saturday. nice songs!