WISNUARYOSETIO

Lilin

 

Akhirnya setelah berkontemplasi cukup lama, saya memiliki sesuatu yang layak saya jadikan harapan saya tahun ini. Mungkin harapan ini akan terdengar sangat sederhana. Tapi bagi saya, harapan yang ini jauh lebih sulit dilaksanakan dari harapan-harapan saya yang lain:

Saya hanya ingin melukiskan senyum di wajah orang-orang yang saya cintai.

Rupanya, selama ini saya hidup bersama puluhan cermin yang saling berefleksi satu dan lainnya. Satu senyum yang terlukis akan melukiskan seribu senyum lain, dan satu air mata yang terjatuh akan meneteskan ribuan tangis lainnya.

Maka itu, saya hanya ingin membalas senyum mereka semua. Saya ingin menjadi sang cermin yang memantulkan kebahagiaan. Energi yang positif. Kebaikan. Saya selalu berusaha berhenti menjadi orang yang saya tidak sukai, tetapi selalu gagal. Mengapa? Usaha saya kurang keras.

Tahun ini, saya harus berusaha lebih keras lagi.

1.

Kebanyakan orang yang mengenal saya cukup dekat, pasti bisa mengetahui apa-apa saja sifat buruk saya. Yang cukup kentara, gemar bergunjing, misalnya. Atau bermulut tajam. Atau… menyebalkan. Bossy. Paling merasa pintar. Sombong. Frontal. Bicara tanpa dipikir. Segalanya, silahkan sebut!

Saya tidak akan kaget jika dilempari kata-kata seperti itu. Karena saya sendiri sadar akan semua tindakan-tindakan saya yang brengsek itu. Dan saya sendiri sedang berusaha mengubahnya. Tapi inilah yang terjadi sampai saat ini.

Ketika orang-orang yang saya cintai jatuh dan menangis, mungkin dulu saya hanya bisa mengucapkan sepatah dua patah kata motivasi yang tidak ada artinya. Bahkan mungkin ketika orang yang saya tidak suka menangis, saya akan menari diatas penderitaannya. Tetapi apa yang terjadi ketika saya menangis? Ribuan bahu muncul di hadapan saya sebagai tempat bersandar. Ribuan mulut bicara, mendoakan yang terbaik.

Ketika ada orang yang menyakiti saya, apa yang bisa saya lakukan? Mengutuk dan merutuk. Menyalahkan keadaan. Tanpa berefleksi pada diri sendiri. Tanpa bertanya, “Apakah saya terlebih dahulu menyakiti dia hingga dia harus menyakiti saya?”

Ketika ada orang yang tak baik perilakunya, saya hanya bisa mengatainya tanpa membantunya berubah. Padahal, orang-orang tersebut adalah orang yang selalu membantu saya bercermin dan memperbaiki diri.

Dengan segala cacat dan keburukan itu, saya rasa, saya sudah cukup beruntung memiliki orang-orang yang mau menerima saya apa adanya. Saya yang egois dan pemarah. Saya yang selalu dipermainkan emosi sendiri. Saya yang bermulut tajam dan seringakli bicara tanpa berpikir. Saya yang memiliki ribuan cacat lainnya. 

Saya bertemu dengan banyak orang yang luar biasa selama enam belas tahun perjalanan saya. Mereka masih mau saya ajak bicara, berbagi cerita, dan mereka selalu berhasil membuat saya tersenyum. Apakah muluk ketika saya juga berharap bahwa saya ingin bisa melukiskan senyum di wajah mereka?

Halo, kalian semua.
Ada orang-orang yang mungkin baru saya kenal setengah tahun, satu bulan, ada pula yang bertahan di samping saya dari tiga tahun lalu.

Kalian semua pasti sudah hafal sifat-sifat saya seperti apa,
Kalian juga pasti jengah mendengar ucapan maaf saya yang terlalu sering terlontar, tanpa termanifestasikan menjadi sesuatu yang nyata. Mungkin di mata kalian saya memang omong doang, nggak ada aksinya.

Tapi saya jujur, saya selalu berusaha. Sekuat tenaga.
Saya tahu saya bukan orang yang paling teguh dalam menjalani perubahan dalam diri saya. Mungkin sifat buruk ini memang bawaan dari sananya. Tapi saya pun tidak suka memilikinya.

Doakan saja saya agar suatu hari usaha saya berhasil. Agar semakin hari, semua harapan saya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi menjadi nyata. Jika kalian bilang “Wish you All the Best!”, inilah All the Best bagi saya. Berubah. 

Saya ingin berada di puncak bersama kalian semua.

Saya ingin memenangkan kejuaraan debat untuk kalian. Keluarga saya, yang telah mendukung saya dengan semua doa dan semangat. Untuk pelatih-pelatih dan kakak-kakak saya yang tak segan membagi ilmunya tanpa henti. Untuk saudara-saudara saya yang selalu ada di samping saya, mendukung tanpa henti-hentinya. 

Saya ingin berada di ranking 10 besar bersama kalian. Orang-orang yang tak pernah bosan saya minta belajar bersama. Orang-orang yang mewarnai hari-hari saya di kelas. Orang-orang yang selalu membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Kalian, saya tahu kok susah bagi kita untuk merealisasikannya, tapi saya ingin kita semua maju bersama. Bisa, ya?

Saya ingin menjadi pencerita yang baik bersama kalian. Orang-orang yang memiliki selera musik yang sama, kesukaan yang sama, dan sudah dua tahun bersama-sama. Suatu hari kita bisa membuka kebun binatang tempat anak-anak mendengarkan cerita bersama ya? Cerita dan gambar yang kita jalin sendiri.

Saya ingin menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana untuk kalian. Orang-orang yang pernah saya pimpin lalu saya kecewakan, tapi tidak pernah mengecewakan saya. Di masa yang lalu kita semua pernah menjadi bagian dari acara yang hebat, di masa depan kalian semua adalah bagian dari negeri terhebat.

Saya ingin menjadi teman di saat suka dan duka untuk kalian. Orang-orang yang selama ini selalu saya jadikan pelarian untuk bersenang-senang saat saya berduka, tetapi saya tak pernah ada untuk kalian ketika kalian berduka. Saya ingin belajar menjadi teman yang baik bagi kalian. Saya ingin melepaskan semua stress saya bersama kalian sekali lagi, seperti di saat-saat dulu.

Saya ingin menjadi penulis terkenal bersama kalian. Orang-orang yang tak hentinya menjadi sumber inspirasi saya. Menyebarkan ide-ide kita yang luar biasa tentang kuantum waktu dan adam hawa bersama kalian. Mencari Tuhan bersama kalian. Merasakan cinta bersama kalian. Menyelami hidup bersama kalian, serta mencintainya juga dengan tulus. Saya ingin beranjak bijak dengan kalian.

Dan saya ingin menjadi segala yang lebih baik bagi kamu, yang tak pernah lelah berusaha.

Kalian semua adalah orang-orang yang melukiskan senyum di wajah saya. Semoga Tuhan selalu melukiskan senyum di wajah kalian juga. Semoga saya bisa menjadi salah satu penggores kuasnya.

Saya bahagia sekali bisa bertemu dengan kalian semua, terima kasih! :D

2.

Kedua orang tua saya sudah tidak lagi muda. Saya bisa melihat rambut-rambut putih mulai bertumbuhan di kepala mereka. Saya bisa meraba kerutan di wajah mereka. Saya tidak buta sehingga tidak bisa melihat obat yang harus mereka tenggak setiap pagi.

Dalam keadaan seperti itu, mereka tak pernah gagal membuat saya tersenyum. Ketika telepon genggam saya hilang karena keteledoran sendiri, mereka menawari ganti yang dua kali lebih bagus. Mereka melengkapi saya dengan mobil yang kelewat mewah dan supir yang selalu siaga, untuk apa? Saya tidak pernah membawa mobil itu ke tempat ibadah. Saya membawanya ke tempat dimana secangkir kopi berharga selembar biru. 

Sementara ketika saya menghisap aroma kopi-kopi itu, dengan mengenakan sepatu, baju, jam, dan parfum yang baru, apa yang orang tua saya lakukan? Bekerja. Menghitungi lembar demi lembar uang, meneliti pemasukan, melakukan penghitungan rumit yang saya tak pernah bisa melakukannya.

Apa yang saya sisakan untuk mereka? Kertas-kertas tagihan yang menggunung. Nilai-nilai yang mungkin belum cukup.Ditambah ketika di malam hari saya pulang, masih mengenakan seragam, saya hanya bisa memberi jawaban-jawaban pendek pertanda kelelahan untuk pertanyaan ramah mereka. 

Lebih parah lagi, terkadang saya menyisakan mereka air mata untuk mereka tangisi sendiri. Saya menyisakan mereka kekecewaan.

Tiba-tiba terlintas bayangan ketika Ayah saya berbaring di rumah sakit tahun lalu, dengan selang oksigen menempel di hidungnya. Saya bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah bisa saya berikan untuk mereka?

Maka dari itu, jika kalian bertanya apa yang membuat saya ada di sini. Menulis, berdebat, berpikir, memperkaya diri dengan ilmu, dan hal lainnya yang membuat saya ambisius. Saya hanya punya satu keinginan. 

Untuk membuat kedua orang tua saya tersenyum.

Mami, Papi, kalau kalian baca ini (dan saya yakin, kalian pasti bakal baca)
Aku berusaha mam, pap.
Aku pengen jadi pemenang ISDC taun ini.
Aku pengen berangkat ke Skotlandia taun depan.
Aku pengen dapet seribu sertifikat.
Supaya aku bisa masuk kuliah gampang.
Supaya aku ga ngecewain kalian lagi kaya waktu SMA 3 kemaren.

Aku pengen bisa hidup sehat, olahraga teratur, nggak sakit-sakitan. 
Supaya aku ga sering pilek dan kalian harus mahal-mahal beli antibiotik.

Aku pengen jadi orang paling pinter sedunia,
Supaya aku bisa kerja yang bener dan jadi kaya
Dan suatu hari mimpi aku ngajak kalian pergi Umroh atau Naik Haji lagi kesampaian.
Ditambah pulangnya, aku pengen ngajak kalian pergi ke Dubai.
Dan beliin kalian satu apartemen di Burj Khalifa.
Aku pengen beliin kalian banyak banget Mercedes-Benz, supaya setiap kali Mami dapet apa yang mami harepin, Mami ga ngomong “Coba aja tadi ngarep Mercy, ya?”
Aku pengen beliin Papi satu toko elektronik, sekalian sama radio polisi yang banyak.

Satu lagi, aku tau, selama ini aku kafir. Aku ga pernah Shalat.
Aku pengen berusaha pap, mam, buat deket sama Allah. 
Aku pengen jadi anak yang shaleh.
Kenapa?
Karena misal suatu saat kalian ga ada di samping aku lagi,
Aku tetep bisa terus-terusan doa’in kalian.

Terakhir,
aku pengeeen banget ngasih Papi sama Mami cucu yang cantik sama ganteng.

Dan seribu pengen lainnya yang ngga akan cukup aku tulis.

Aku ngga ngerti gimana caranya bikin ini semua jadi nyata,
tapi aku berusaha pap, mam.

Setiap sertifikat yang aku masukin ke amplop itu, semoga bisa buat kalian bangga.
Setiap nilai yang aku ukir, semoga bisa buat kalian bangga.
Setiap ilmu yang aku tahu, semoga bisa buat kalian bangga.
Setiap do’a yang aku ucapin, semoga bisa buat kalian… bahagia.  

Walaupun cinta aku ngga akan bisa nyaingin besarnya cinta kalian,
I still love you the most, mom, dad. :)

I’ve never been
The one to raise my hand
That was not me
And now that’s who I am
Because of you
I am standing tall

My heart is full
Of endless gratitude
You were the one
The one to guide me through
Now I can see
And I believe
It’s only just beginning

This is what we dream about
But the only question with me now
Is do I make you proud
Stronger than I’ve ever been now
Never been afraid of standing out
Do I make you proud

I guess I’ve learned
To question is to grow,
That you still have faith,
Is all I need to know,
I’ve learned to love,
Myself in spite of me,
And I’ve learned to
Walk on the road I believe.

This is what we dream about
But the only question with me now
Is do I make you proud
Stronger than I’ve ever been now
Never been afraid of standing out
Do I make you proud

Taylor Hicks – Do I Make You Proud

P. S. Ulang Tahun kali ini saya lewatkan tanpa meniup lilin. Tapi saya ingin menjadi lilin yang menerangi kalian semua. Amin!

XVI

Tidak ada kilas balik, karena masa lalu adalah sesuatu yang akan mengikat kita.

Tidak ada resolusi, karena ambisi membelenggu kita.

Saya adalah manusia yang bebas,

yang hidup untuk hari ini.

Yang ada hanya syukur.

Just Don’t Read This.

Have you ever realized that after all this time, the only person, the only thing you love is yourself? I’ve just realized that tonight. After watching Sex and The City The Movie. Well, I know that was weird, but never mind about that. 

Let me give you one simple example. Every second, a person die in this planet. We know it is happening, right? We also know, that death is scary. Death terrifies us. But why don’t we cry every second? Why don’t we mourn for a soul that should stop searching for something in this world because his time has come? 

And when our lovely pet die (even when you know that you can still buy those lovely bunnies easily at a pet shop) we grieve deeply. We cry. We curse ourselves for being late to give them carrot. And when you stop mourning, you still can’t stop remembering them. Once again, it’s only a rabbit, for God’s sake. But why can’t you just stop crying?

There is one explanation for this. 

We are selfish.

Let’s imagine that our life is a public company and every people in your life holds a share for it. Usually, the biggest percentage is held by God. And then come the parents, the love-of-my-life, the bestfriends, the arch-enemies, and deskmates, chatmates, online buddies, pets, and the list goes on. When one of them leave, you lost a piece of your life. You lost something. You are not mourning for their lost, but you are sad because your life won’t be this perfect anymore.

And this always happens. You pray five times a day just because you don’t want to be punished in hell. Just because you want to taste those extra-delicious virgins in heaven. You ask for happiness. You ask for a full stomach, for a thick wallet, for a shiny car, for a spacious penthouse. All of them only have one sole purpose: to keep yourself happy. To keep that greedy mind satisfied all the time.

An earthquake hit Padang. You saw people running, asking for help. A tear rolled down from your eyes. Why? Because you asked yourself, “What If I got hit by that Earthquake?” And you can imagine yourself running, asking for help. No one can help you. You’ll be left alone. Our selfish minds don’t want that to happen. That is why you cry. It’s not because you feel sad for them. But it’s more because you don’t want that happen to you. You can’t even imagine if that happen to you.

A song is playing on the radio. You heard the lyrics. And spontaneously you said, “This is so me.”

A yearbook is lying on the table. You open the book, and spontaneously, you skip to your class portion. The first face you want to see is your face, right? Do I look good?

And this article. I know that a lot of people will curse me because of the nasty grammar. But I don’t care. I’ve realized that the next thing you’ll say after cursing this article is “My grammar is better than you.” 

Life is always about me. And me. And me.

I am being egoistic right now, and I don’t know what I’m saying.

But my life, my writing, my blogs, are all about me. Just me, simply me. I am tired of writing nonsense. I am tired to see people praising my writings as something good, magnum opus, or stuffs. This blog of mine is pure crap. I wrote those articles to keep the readers happy. To keep them satisfied. What for? So that I can be famous. I wanted to be recognized as someone who have a good and inspiring writings.

That time has gone since few months ago. All that left is the old me. The old self who writes just for the sake of writing.

Back then, my blog is the only output I have for expressing my emotions. But since I have Twitter, and Facebook, and 24/7 BlackBerry messenger and Yahoo! Messenger, I don’t have to mumble on my blog anymore. With one push on the trackball, I can PING!!! them to tell them that I’m happy, I’m sad, I’m angry, I’m mad, etc. Suddenly, I feel that they are not enough. I still need a place to release some of my excess emotions that can’t be described in 140 characters. The only thing I have is blog. Unfortunately, I have a lot of blogs. And this blog is the last place I want to fill in.

People used to see me as the whiz-kid who always have a great wisdom. Even my teachers! They are fooled by this blog. And I don’t want to fool them anymore. I don’t want to fool those people who gave comments like “I adore you, you are Indonesia’s next future blah blah” after they watched Perspektif Wimar back then.

This is me. I always repeated swear words like Fuck You or Anjing everyday. I ate too much and I gained too much weight. I stopped writing. I blamed myself all the time. I am more desperate than those Alays wH0 tYp3d Lik3 tHi5. 

I want to stop lying. I want to start writing honestly. I want to start writing things like, “Dear Blog, today was a pretty boring day… You know, blah blah blah.” 

I want to start writing for myself. Not for you. Not for the soon-to-be-a-bestseller-book-yang-sampe-sekarang-ga-ada-kejelasannya-bakal-diterbitin-atau-ngga-sama-sekali.

I used too much I until it becomes very annoying. 

I love you but I love myself more.

I want to end this but I can’t.

Panca.

image by goddess_spiral @ flickr

image by goddess_spiral @ flickr

Selamat pagi, Mata. Terima kasih untuk mau membuka kelopakmu dan mengantarkan rangsang cahaya pada saya. Dari yang saya amati, sepertinya matahari belum datang. Cahaya terang ini adalah cahaya lampu dan layar yang membuat saya pusing.

Selamat pagi, Telinga. Terima kasih untuk mau menggetarkan gendangmu dan mengantarkan rangsang bunyi pada saya. Dari yang saya bisa dengar, sepertinya jalanan masih sepi. Hanya ada satu atau dua bunyi mesin, dan sisa yang saya dengar hanyalah bunyi berisiki keyboard komputer.

Selamat pagi, Hidung. Terima kasih untuk tetap mengantar oksigen selama saya beristirahat. Tanpa kamu, saya tiada.

Selamat pagi, Kulit. Terima kasih untuk mau kembali meraba. Pagi ini cukup dingin, ya?

Selamat pagi, Lidah. Terima kasih untuk mau kembali merasa. Keripik kentang yang tadi cukup enak juga ternyata.

Pagi ini saya mengumpulkan kalian semua bersama-sama dalam keadaan sadar karena saya baru saja mendapatkan sebuah pemikiran baru. Siap untuk mendengarnya bersama-sama?

Tidak siap? Apa maksud kalian? Tidak ada alasan untuk menjadi malas di pagi hari! Masih ngantuk?

Sudahlah, biar saya akan jelaskan sekarang. Mulai hari ini saya semua akan menuduh kalian semua para indera sensorik sebagai pembohong.

JANGAN MARAH DULU! Kalian bahkan belum mendengar penjelasan saya!

Mmm… Mari kita mulai dari… Ah baiklah. Ehem, tugas saya sebagai otak adalah mengumpulkan informasi dari kalian semua bukan? Saya akan memprosesnya, dan menyampaikan hasilnya pada separuh bagian lain dari individu yang kita huni ini: namanya Jiwa. Tentu saya akan menerima semua berita dari kalian. Tapi akhir-akhir ini saya melihat banyak sekali data yang janggal…

Misalnya, Mata.

Eits, jangan bicara dulu! Saya percaya kok dengan visualisasi yang berhasil kamu tangkap, meski semua yang kamu antar itu sebenarnya bayangan maya bukan?

Kamu belum tahu?

Jari, berhenti mengetik! Coba buka dulu kacamata yang menempel di depan Mata.

Oops, saya bahkan tidak bisa melihat layar komputer. Pasang lagi! Nah, ini lebih baik.

Saya tidak akan menyalahkan kamu hanya karena lensamu pejal dan kamu tidak bisa berakomodasi, atau karena kamu buta warna. Tapi bagi saya, apa yang kamu sajikan tentang dunia itu sebenarnya hanyalah sebuah kebohongan yang besar.

Mari kita lihat contoh kasus. Kemarin, kamu memperlihatkan pada saya seorang pengemis yang tua dan terlunta-lunta. Didorong oleh lobus humanis (HAHA PANDAI SEKALI SAYA MENGARANG NAMA!) milik saya, saya memerintahkan jari untuk memberi uang seribuan.

Lalu tak lama kamu berpaling, kamu mendadak bilang kalau pengemis itu menenteng telepon genggam? Gila sekali. Yang mana yang harus saya percaya?

Sudah, jangan berargumen dulu! Saya belum selesai bercerita.

Telinga, giliran kamu.

Detik pertama kamu bilang ada orang yang berkata bahwa misalnya, berbohong demi kebaikan itu baik, lalu kamu menyampaikan lagi bahwa bohong itu dosa. Terlalu sering kamu mengombang-ambing saya dalam kontradiksi sehingga sulit bagi saya untuk mengambil keputusan!

Lalu bagi hidung, kulit, dan lidah. Saya tahu sulit bagi kalian untuk berbohong. Tapi jujur, informasi yang kalian sampaikan seringkali dibantah oleh dua indera teman kalian tadi. Misal kamu, lidah. Suatu hari kamu menyampaikan sebuah rasa yang luar biasa, mendadak telinga bilang makanan tersebut dosa hukumnya karena dibuat dari babi. Kenapa kamu tidak bilang?

Lalu kamu, kulit. Kamu mulai bisa menipu saya dengan tekstur-tekstur palsu, rupanya. Kulit cantik milik wanita itu jangan-jangan silikon pula?

Lalu hidung, makin banyak saja bau-bauan artifisial yang kamu berikan. Padahal saya tahu, dibungkus parfum apapun, sampah tetap saja sampah!

Atau contoh kasus terakhir. Kalian berlima memperkenalkan saya pada orang itu. Orang yang di mata saya selalu terlihat baik dan sempurna. Orang yang di mata saya layak jadi contoh. Orang yang baunya harum dan kulitnya lembut (walau saya tidak tahu rasanya enak atau tidak, lidah tidak pernah menjilatnya). Ternyata menurut telinga dia berbuat jahat? Dia berbuat curang? Dia berbuat licik? Bagaimana saya bisa percaya pada salah satu dari kalian jika kalian terus menerus memberikan kontradiksi?

Sekarang saya harus bagaimana? Belahan tubuh lain yang bernama Jiwa (kalian akan kagum jika bertemu dia!) selalu bertanya-tanya. Mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang harus dipercaya dan mana yang tidak.

Jujur, saya sudah menganggap apa yang kalian sampaikan pada saya sebagai ilusi belaka. Saya sudah menjadi bagian tubuh paling skeptis, yang selalu menganggap bahwa kadang kebenaran tidak bisa terukur bahkan dengan lima informasi dari kalian yang disatukan sekalipun.

Lalu kalian pasti akan bertanya, kebenaran itu apa? Yang seperti apa?

Asal kalian tahu, bagian lain kita yang separuh itu, sang Jiwa tadi, memiliki episentrumnya sendiri. Kalau saya tidak salah, namanya Hati.

Saya sendiri sebagai kebalikan dari Hati, awalnya selalu mempercayai apa yang kalian katakan, karena bagi saya itu semua nyata. Ada buktinya, kan?

Tapi Hati tidak. Ia tidak semudah itu percaya dan Ia seringkali berargumentasi dengan saya. Walaupun saya selalu menjadi pihak yang bersuara lantang dan menggebrak meja, Ialah yang selalu menang. Ialah yang ternyata benar.

Baru saja tadi Ia bilang, hal-hal yang sebenar-benarnya nyata dan benar tidak akan pernah bisa diraih oleh indera manapun. Kalian semua, wahai reseptor, tidak akan pernah bisa merasakannya.

Tapi hati-lah yang bisa. Sang Jiwa punya mata, telinga, lidah, kulit, dan hidung yang terpisah dari dunia nyata ini. Mereka sedang berusaha merasakan sesuatu yang mungkin bagi kita semua fana, tapi justru malah merupakan yang paling nyata.

Kalian kenal Tuhan?

Itu, telinga, kamu pernah bilang bahwa dia yang menciptakan kita semua kan?

Benar. Sekarang, pernahkah kamu mendengarnya bicara lantang dari langit? Mata, pernahkah kamu melihatnya? Kulit, pernahkah kamu merabanya?

Tidak ada yang pernah. Saya sendiri juga tidak pernah.

Tapi jujur, saya akan bertanya pada kalian semua. Apakah kalian percaya padaNya?

Tumben kalian semua mengangguk bersamaan. Hahaha.

Mata, apakah kamu bisa menangkap bayangan dari semua hal di dunia ini yang merupakan ciptaanNya? Bisa. Tapi kamu tidak bisa melihatnya, kan?

Itulah, kawan-kawan, kenyataan yang sebenarnya. Kebenaran yang sebenarnya.

Satu kata kunci yang harus kita semua pegang, saat menjalani tugas sebagai alat indera di tubuh pemilik kita ini hanya singkat saja:

Kita harus punya kepercayaan yang kuat, bahwa sebenarnya, yang paling nyata adalah sesuatu yang tidak nyata sama sekali. Kita harus semakin jeli memilah informasi sebelum kita percayai begitu saja. Saya akan lebih sering lagi berkoordinasi dengan Hati beserta Sang Jiwa untuk menentukan mana yang nyata dan mana yang fana. Kalian pun harus begitu!

Sekian ceramah saya untuk pagi ini. Sekarang kalian semua cepatlah kembali bekerja dan sampaikan lagi informasi-informasi lainnya bagi saya. Jangan berbohong!

Apa, naik gaji?

Bandung, 26 Juni 2009. 05:47 WIB.

PilihanNya, Pilihan yang Terbaik.

Saya mungkin memang hambaNya yang kurang suka disuruh bersujud lama-lama. Tapi jika saya harus mengutarakan betapa kagumnya saya pada Yang Maha Kuasa, maka ratusan buku-pun tidak akan bisa mengutarakannya. Sungguh Ia telah menuliskan kehidupan kita dengan begitu berliku dan penuh tantangan (bukan rintangan!), sehingga hidup kita yang pendek ini jadi ribuan kali lebih menarik untuk dijalani.

Ada banyak masa dalam kehidupan kita yang singkat ini, ketika langit berwarna biru terang. Ketika bunga-bunga terlihat lebih cantik dari biasanya. Ketika segala sesuatunya berjalan seperti semestinya. Ketika kita mencapai puncak kesuksesan dan bergelimang kebahagiaan. Ketika senyum seolah tak bisa pudar dari wajah.

Masa-masa itu adalah masa yang sungguh menggembirakan. Tapi apakah itu yang kita sebut dengan bahagia? Mungkin iya.

Hidup saya selama beberapa tahun kebelakang memang tidak sempurna. Tapi bagi saya, anugerah ini selalu lebih dari cukup. Jika saya melakukan kilas balik, saya baru menyadari betapa banyak takdirNya yang mampu melukiskan senyum di wajah saya. Punya mimpi jadi ketua OSIS? Terwujud. Ingin membuat pentas seni? Sukses. Segala sesuatunya memang mudah bagi saya sehingga kadang, kehidupan ini menjadi semu dan saya berubah menjadi individu yang congkak serta sangat egois. Kebahagiaan ternyata tidak selalu menghasilkan kebaikan.

Dan di masa ketika saya sudah berjalan di jalan yang tidak lurus, Ia menunjukkan saya kembali arah yang benar dengan kejadian yang tak terduga. Rupanya inilah jawaban dari kalimat (yang dulunya hampa) “Tunjukkanlah saya jalan yang lurus” yang saya ulang beberapa kali sehari layaknya mantra.

Ia memperkenalkan saya pada kegagalan.

Read the rest of this entry »

Pahlawan Pendidikan Bagi Saya – Bagian Dua.

“Semogalah, Masa Depan Lebih Cerah… Dam di dam di dam dam dam dam…”

Setiap kali saya menyalakan televisi dan menyimak satu persatu pariwara di setiap acara, saya pasti menemukan iklan ini. Cut Mini, sebagai Bu Muslimah, bernyanyi dan berdendang riang dengan logat Melayu. Merayakan sebuah kelegaan hati karena ada “Sekolah Gratis di sana-sini!”

Di akhir pariwara, muncul seorang bapak-bapak gagah yang berkata lantang “SEKOLAH? HARUS BISA!”

Hati kecil saya sebagian bahagia, tapi sebagian menjerit dan menghina dengan sinis. Harus bisa? Saya tahu, anggaran pendidikan kita SANGAT besar. Tapi apakah anggaran saja cukup untuk membuat kita bisa? Apakah semua bisa menjadi “bisa!” hanya gara-gara uang? Apakah gratis saja cukup?

Sudahlah, tidak ada gunanya mempertanyakan apalagi mempermasalahkan. Tidak ada masalah, dan tidak ada yang salah. Bapak-bapak botak “Harus Bisa” di televisi itu tidak salah. Bapak satu lagi yang hobi me”Lanjutkan!” juga tidak salah.

Mungkin satu-satunya yang salah adalah kebenaran itu sendiri.

Di zaman seperti ini, batasan salah dan benar yang kita pegang sepertinya sudah mulai berubah arah. Bahkan sesekali hanya ada sehelai benang tipis tak tampak yang membedakan keduanya. Hal ini juga saya temui dalam sistem pendidikan kita sekarang. Saya sudah bosan membahas soal benar vs. salah lagi. Saya tidak ingin mempertanyakan adil atau tidak adilnya sistem sekarang, seperti Ujian Nasional itu. Saya muak membahas antara jujur melawan kecurangan.

Yang saya butuhkan hanyalah harapan.

Harapan untuk dapat pergi ke sekolah, mendapat nilai yang sempurna tanpa berbuat licik dan semena-mena. Harapan untuk menjadi pintar yang sesungguhnya. Harapan untuk dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi. Harapan untuk dapat menjadi seorang hamba yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

Tuhan memiliki banyak rahasia, dan sepertinya Ia juga memiliki malaikat dimana-mana.

Salah satunya, adalah seorang guru yang menjadi pahlawan pendidikan bagi saya, saat ini.

Beliau adalah Ibu Tati Solihati.

Read the rest of this entry »

Loading…

OUT OF TOPIC #1

Adakah sejarawan unggul yang bisa menjelaskan kepada saya, siapakah yang menentukan konsep waktu? Atau jangan-jangan sebenarnya hal ini sudah saya ketahui tapi saya lupakan begitu saja? Siapakah yang dengan semena-mena menentukan satu detik adalah sekian, datu menit adalah sekian, dan seterusnya? Lalu mana awalnya? Lalu kapan ujungnya?

Sudahlah. Topik tadi terlalu berat, kapasitas otak saya yang sudah setengah trance ini tidak mampu untuk berandai-andai sampai sejauh itu.

Saat ini, hampir semua manusia modern yang saya kenal di kota besar sungguh menjadi tidak sabaran soal waktu. Semua orang dikejar waktu. Bahkan saya yakin, deadline bagi sebagian orang yang bekerja akan jauh lebih menakutkan dibandingkan dedemit jenis apapun. Saya yakin.

Satu invisible-countdown-clock yang pasti dihadapi semua manusia adalah jelas, kematian. Mungkin selain itu, masing-masing manusia punya countdown dengan versi yang berbeda-beda. Kapan Ujian Nasional? Kapan Sidang Skripsi? Kapan Kerja? Kapan Kawin? Kapan Punya Anak? Kapan Punya Rumah? Kapan-kapan, kita berjumpa lagi.

Saya sendiri (ada yang masih ingat? lirik-lirik postingan sebelumnya dong!) masih terus menerus dikejar waktu. Terus menerus dihantui countdown menuju ujian nasional di mana-mana. Di tembok bimbingan belajar, di papan tulis kelas, sampai di profile facebook. Rasanya setiap detik menjadi begitu sia-sia jika kita lewatkan tanpa belajar. Tanpa rumus. Tanpa angka. Padahal siapa yang tahu, mungkin detik-detik yang saya pergunakan untuk belajar itu yang sia-sia. Sementara detik yang saya habiskan untuk melamun, justru malah mendadak melahirkan sebuah jalan cerita novel yang brilian? Mungkin.

Jadi kesimpulannya, saya sudah belajar satu hal. Waktu adalah uang. Waktu adalah emas. Waktu adalah… Segalanya! Eh, itu tiga ya?

Oke, pernah nonton film Click? (nyambung ya?)

Kalau bertanya sinopsis, imdb.com saja. Saya hanya ingin membahas sedikit ceritanya. Si tokoh yang bosan dengan kehidupan sehari-hari, akhirnya menemukan kebahagiaan ketika dia bisa fast-forward waktu. Saya juga ingin sekali memiliki kelebihan ini! Lewat saja bagian Ujian Nasional, langsung masuk SMA. Tapi coba lihat apa yang terjadi pada Adam Sandler di akhir film!

Dia…

Read the rest of this entry »

Seratus.

Seratus. 100. Hundred.

Dalam dollar, 100 adalah pecahan terbesar. Dalam rupiah, 100 adalah pecahan terkecil. Dunia ini memang penuh angka. Tapi angka-angka itu akan berbeda di setiap pasang mata manusia yang memandangnya.

Bagi saya, saat ini, hari ini, seratus adalah hal yang sangat sakral.

Seratus mungkin bisa saja diberi tambahan kata Rupiah. Atau Dollar. Atau Kilometer. Atau Kilogram. Tapi yang saya takutkan dan yang saya perjuangkan adalah kata seratus yang ditambahkan kata hari.

Seratus hari.

Untuk mempercantik dan mempertegas, mari kita tambahkan kata ‘lagi’

Seratus hari lagi.

Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama Tahun Ajaran 2008/2009.

Seratus hari lagi.

Read the rest of this entry »

Live High, Live Mighty.

(Oops, tulisannya panjang!)

Saya ingin memulai tulisan kali ini dengan berbagai flashback. Pertama, di tahun 1994, lima belas tahun sebelum hari ini, lahir seorang bayi yang kurus kecil dan diberi nama Wisnu Aryo Setio. Bayi kurus itu sekarang berubah menjadi manusia yang tidak kurus (saya cuma tidak ingin bilang gemuk) dan rajin memandangi layar komputer sambil sesekali mengetik di keyboardnya. Lalu, dua tahun yang lalu, seorang Iyo memutuskan untuk pindah dari blog lama miliknya di blogspot, dan mulai menulis tulisan pertamanya.

Tentu pembaca sudah bisa menebak kemana arah tulisan ini. Saya ingin menjadikan tulisan ini sebagai nisan prasasti, sebuah pendanda akan berbagai macam hal yang berhubungan tentang saya, sifat saya, beserta tulisan-tulisan saya sebelumnya. Tepat di tulisan ini, blog saya di http://simplyiyo.com berulang tahun yang ke dua. Dan juga menginjak lima puluh tulisan. Saya tahu bahwa ini bukanlah prestasi. Lima puluh dalam dua tahun adalah bukti bahwa Iyo yang dulu adalah Iyo yang tidak produktif, Iyo yang hanya menulis sesuai dengan moodnya. Apakah Iyo yang lima belas tahun akan memiliki sifat yang sama, dan di peringatan tiga tahun blog ini saya akan mencapai angka tujuh puluh lima? Semoga… Tidak!

Mari kita terus melakukan flashback, satu tahun yang lalu saya menuliskan berbagai resolusi yang sangat amat muluk-muluk untuk dicapai. Semuanya terasa begitu sulit, dan jauh sekali untuk dicapai, ketika saya menulis itu. Tapi pertanyaannya, apakah semua resolusi itu kini sudah terpenuhi seperti apa yang saya tulis satu tahun lalu?

Jawabannya… akan saya jawab dengan sebuah jawaban yang menggantung. Dengan sebuah flashback lagi. Dengan perkataan (yang sebenarnya sangat tidak berhubungan dengan pertanyaan) dari salah satu idola baru saya. Inspirasi saya dalam berbagai hal: Jason Mraz. Di bawah ini adalah beberapa kutipan dari blog miliknya, yang sangat saya suka. Sebenarnya dia juga mengutip sebuah berita di koran ternama, hehe. :p

Gratitude is Good for Your Health

Finally, some research reports coming in on the power of Saying Thank You. This is from today’s pages of USA Today.

Stepping up the gratitude
Giving thanks year-round can make you healthier

Your Health By Kim Painter

Thursday, in between the cheese ball appetizers and the pumpkin pie desserts, most of us will indulge in something proven to have powerful health benefits.

No, it’s not that extra serving of stuffing. It’s the expression of gratitude — the simple act of thanking God, thanking others or just counting your blessings. Saying thanks, it turns out, isn’t just pious or polite. It’s good for you.

But there’s a catch: You have to do it even when the calendar does not say “Thanksgiving.”

“It doesn’t really work if you do it only once a year,” says Sonja Lyubomirsky, professor of psychology at the University of California-Riverside.

Practicing gratitude is like exercising, says Robert Emmons, professor of psychology at the University of California-Davis: Use it, and you won’t lose it, even when times are tough, as they are for many folks right now.

Lyubomirsky and Emmons are among researchers who have studied the power of gratitude and learned, for example, that:

  • People with high blood pressure not only lower their blood pressure, but they feel less hostile and are more likely to quit smoking and lose weight when they practice gratitude. This was demonstrated by calling a research hotline once a week to report on the things that make them grateful.
  • People who care for relatives with Alzheimer’s disease feel less stress and depression when they keep daily gratitude journals, listing the positive things in their lives.
  • Those who maintain a thankful attitude through life appear to have lower risks of several disorders, including depression, phobias, bulimia and alcoholism.
  • Most people can lift their mood simply by writing a letter of thanks to someone. Hand-deliver the letter, and the boost in happiness can last weeks or months.

Practicing gratitude in these systematic ways changes people by changing brains that “are wired for negativity, for noticing gaps and omissions,” Emmons says. “When you express a feeling, you amplify it. When you express anger, you get angrier; when you express gratitude, you become more grateful.”

And grateful people, he says, don’t focus so much on pain and problems. They also are quicker to realize they have friends, families and communities to assist them in times of need. They see how they can help others in distress as well, he says.

Maaf, dalam bahasa Inggris. Saya tidak punya cukup banyak waktu untuk menerjemahkannya. Inti yang bisa saya ambil dari tulisan tadi adalah bahwa sepotong kata simpel yaitu “Terima Kasih” kepada Tuhan, kehidupan, bahkan dunia dan isinya dapat membuat hidup kita lebih sehat dan lebih bahagia. Sayang, orang Amerika sana sering kali lupa bersyukur, berterima kasih. Mereka hanya melakukannya setiap setahun sekali di momen Thanksgiving. Sedangkan saya memiliki kesempatan emas untuk melakukannya setiap saat, setidaknya lima kali satu hari. Dalam ayat kedua surat pertama yang selalu saya baca berbunyi, “Alhamdulillahhi Rabbil Al Amin.” Segala Puji Bagi Tuhanku, Penguasa Alam.

Lalu apa hubungannya dengan resolusi saya tahun lalu?

Setelah saya baca kembali, memang tidak ada resolusi yang bisa saya penuhi secara sempurna. Bahkan ada yang belum sama sekali saya lakukan setelah satu tahun. Tapi dengan melakukan proses sedikit demi sedikit, itu sudah merupakan anak tangga bagi saya untuk mencapai semua yang saya inginkan itu. Saya memang belum bisa memasak, tapi saya pernah memasak dan hasilnya enak. Saya memang belum jago mengendarai mobil, tapi saya pernah dan saya tidak menabrak. Saya memang bukan seorang atlet berperut kotak-kotak, tapi saya sudah berdamai dengan treadmill dan lari pagi. Semua berjalan lambat, tetapi pasti. Tidak ada hal yang instan di dunia ini, kan?

2008, serta umur 14 tahun, telah memberikan kenangan yang teramat sangat manis bagi saya. Semua dimulai dari hal-hal kecil yang menyenangkan sampai hal-hal besar yang tak terduga. Di umur empat belas saya juga perlahan-lahan mulai mengetahui rahasia-rahasia bagaimana cara “menghidupi” hidup. Dan salah satu yang saya temukan di umur empat belas tahun, salah satunya adalah ilmu bersyukur. Setelah saya mempraktekannya di dunia nyata, saya sempat ingin mati. Mengapa? Bukan karena saya depresi! Tapi karena pada saat itu, hidup saya terasa begitu bahagia dan sempurna sehingga saya ingin mengabadikannya. Syukurnya saya tidak sebodoh itu. Dan kehidupan saya sampai saat ini telah melukiskan sebuah senyum besar di wajah saya yang membuat saya ingin terus dan terus bersyukur.

Bahwa saya telah diberikan kesempatan untuk hidup, dan menjalani kehidupan ini beserta semua manis dan pahitnya.

Read the rest of this entry »

Selamat, Tody!

“Terima kasih banyak. Terima kasih banyak. Istri saya nggak bisa berhenti senyum. Dia bilang, ini pesta ulang tahun terbaik yang pernah dia alami sepanjang hidup. Dia bener-bener nggak nyangka bakal ada kejutan kayak gini.”

“Sama-sama, pak. Saya senang bapak mau menjadi klien kami.”

“Saya juga nggak percaya, bapak mau langsung datang untuk memantau acara langsung. Saya kira, bapak pasti sibuk di kantor.”

“Ah, nggak. Saya memang suka melihat langsung kerja anak-anak buah saya. Lagipula saya harus ketemu client juga di Starbucks. Oh iya, gimaa tadi, video pendek buatan kami sudah cukup bagus? Kuenya enak?”

“Wah, bagus sekali pak. Saat credits mulai rolling, istri saya sudah hampir berdiri, eh tiba-tiba ada film pendek. Saya sendiri juga nggak nyangka bakal sampai sebegitunya. Sekali lagi, terima kasih banyak.”

“Saya senang mendengar bapak dan istri bapak senang.”

Tody memegang handphonenya sambil mondar-mandir. Ia terus-terusan melihat angka angka penunjuk waktu. Bukan jam yang ia perhatikan, melainkan tanggal. Baginya, melihat deretan angka itu membentuk seperti ini adalah sesuatu yang langka. Sama langkanya dengan getar dan bunyi yang masih ia tunggu.

Ia memutuskan untuk mencuci muka dan turun saja ke lantai lima. Ia ingin berenang, menenggelamkan dirinya dan semua penantian kosongnya dalam air berkaporit. Segera ia melangkah keluar dari pintu. Tiba-tiba seorang cleaning service menghampirinya.

“Pak Tody… Kamarnya mau dibersihkan?”

“Oh… Nggak usah.”

“Baik pak. Oh iya, selamat ulang tahun. Langka ya, saya bisa ucapkan seperti ini ke bapak. Beda sama penghuni-penghuni lain di sini.”

Tody tersenyum.

“Ternyata kamu teliti kalau lihat kalender, Jang. Terima kasih.”

Senyum Tody mendadak luntur setelah ia berbalik muka. Ia menuju lift, dengan wajah yang semakin suram saja.

Ketika ia masuk, lift itu mendadak macet. Entah kenapa.

Selamat Ulang Tahun, Tody!

“Halo, betul ini kantor Voila Event Organizer?”

“Betul, pak. Ada yang bisa saya bantu?”

“Anak saya besok ulang tahun yang ke-19. Bisa nggak dibuatkan surprise party?”

“Wah, besok ya pak? Sepertinya sulit, tapi coba saya konsultasikan dengan pimpinan kami dulu.”

*

“Halo. Mbak… mbak… sepertinya saya nggak jadi saja.”

“Lho, kenapa pak? Padahal ternyata schedulenya sudah kosong.”

“Saya nggak ada uangnya.”

“Wah, tapi biaya kami tidak mahal kok pak. Untuk sekedar planning tanpa booking lokasi dan menyebar undangan, biasanya hanya kami charge sekitar satu juta saja, itu juga bisa nego.”

“Mahal sekali, Mbak! Kalau begitu lebih baik saya datang langsung besok ke rumah anak saya, nggak usah pake kejutan. Lumayan, uangnya bisa buat dia kuliah.”

“Oh, bapak nggak niat nego dulu?”

“Mmm…”

*

“Halo? Pak, ternyata biayanya bisa gratis.”

“Wah, bener, Mbak? Masa sih?”

“Ya betul pak. Pak Direktur ternyata ingin langsung menangani pesta anak bapak. Bapak tinggal sebutkan alamat dan waktu kosong untuk persiapan bersama kami saja. Besok pak Direktur akan datang.”

“Alhamdulillah! Semoga bapak Direktur yang baik itu dapat balasan dari Allah!”

Tody sudah kehabisan akal. Tugas dari salah satu dosennya yang harus ia kumpulkan hari ini belum selesai dicetak. Tengah malam terlewati. Ia duduk dengan segelas kopi yang mulai dingin di tangannya. Menunggu mesin keparat bernama printer itu menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Di saat-saat seperti ini ia selalu terbayang-bayang teman-temannya yang lain. Yang bisa dengan mudah mencetak kertas-kertas itu dengan mudah di rumah masing-masing. Tinggal menunngu sambil tidur di kasur empuk, dan keesokan paginya kertas-kertas itu akan tersedia. Ia iri.
Tapi setelah melihat sang penjaga rental komputer merobek kalender. Hari ini, setelah bertahun menunggu, kalender itu menunjukkan angka dan bulan yang begitu ia tunggu, tapi begitu ia benci. Rasa iri dalam hatinya tambah menjadi-jadi.

Beberapa hari yang lalu, kampus Tody sempat dihebohkan oleh sebuah pesta ulang tahun. Memang, pesta yang satu ini benar-benar luar biasa. Bayangkan, tiba-tiba sebuah grup band yang waktu itu sedang sangat naik daun, didatangkan mendadak ke lapangan basket kampus. Mereka tiba-tiba bermain secara akustik, spesial untuk salah satu anak dari jurusan lain. Yang memanggil band itu adalah pacarnya, dengan uang pribadinya sendiri.

“Mas, printer kita kayaknya habis tinta.”

Tody masih melamun.

“Ini, hasil cetakannya.”

“Apa, mas?”

Gelas kopi itu menumpahkan sebagian isinya ke atas kertas-kertas yang masih hangat, baru selesai diberi tinta.

“Aww, shit!”

Selamat Ulang Tahun, Tody!

“Pak, minggu ini saja kita dapat tiga belas order pesta! Saya rasa, kita harus tambah karyawan.”

“Silahkan, gimana baiknya menurut kamu. Tapi di recruitment test kita, saya ingin kita tambah satu syarat.”

“Apa itu, pak?”

“Siapapun dia. Melamar di posisi apapun. Orang yang ingin bergabung bersama Voila harus punya kemampuan untuk…”

“Pak?”

“Mengingat ulang tahun orang.”

Tody hari ini belajar soal tahun ganjil di kelasnya. Ia yang saat itu masih sangat muda dan polos sempat tidak percaya kepada konsep ini. Menurutnya, waktu tidak pernah punya hitungan yang pasti. Siapa yang tahu, selain Tuhan? Lagipula menurutnya penanggalan kalender itu hanya akal-akalan bangsa Romawi saja saat itu, supaya kalender tetap seimbang.

“Jadi, anak-anak, ada pertanyaan soal tahun ganjil?”

“Emm… Pak, kalau orang yang lahir di tahun ganjil, gimana?”

“Ya biasa saja. Memang kenapa, Tody?”

“Bukan, pak! Maksud saya, hari ganjil. Seperti hari ini pak, 29 Februari.”

“Kamu ulang tahun hari ini, Tody?”

Ia mengangguk.

“Pak, Tody pasti kena kutukan! Dia nggak akan bisa nambah tua. Nambah umurnya empat tahun sekali!”

“Hah, apa? Kamu bener?”

“Tody kena kutukan! Tody nggak bisa tua! Huuuu. Jangan deket-deket Tody, nanti kita kena kutuk juga!”

“Tody, jangan percaya, kata-kata teman kamu tidak benar!”

Tody menangis.

Selamat Ulang Tahun, Tody!

“Selamat siang, Pak.”

“Selamat siang juga, mbak.”

“Kami dari majalah BusinessWeek Indonesia. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan.”

“Oh, silahkan mbak. Tentang apa ya?”

“Saya ingin tahu, ide membuat event organizer spesialis Surprise Party ini masih cukup langka di Indonesia. Saya ingin tahu, alasan bapak mendirikan usaha semacam ini. Apalagi di usia bapak yang masih sangat muda.”

“Yaa… usaha ini sebenarnya saya dirikan sebagai ajang balas dendam saja. Ada hal-hal yang tidak pernah saya dapat, dan saya ingin memberikannya pada orang lain.”

“Maksud bapak?”

“Bagi saya, kata Selamat Ulang Tahun itu mewah. Langka. Sangat spesial. Di zaman yang begitu modern seperti ini orang punya banyak sekali cara untuk mengucapkannya. Mulai dari telepon, sms, atau sekedar memberi Wall di Facebook. Tapi, lama-lama ucapan ulang tahun itu sudah tidak terasa lagi jika cuma sekedar huruf-huruf maya saja. Saya ingin sekali orang-orang mendapat kembali perasaan spesial itu. Caranya… ya dengan membuat pesta kejutan.”

“Tapi selain itu, nggak ada alesan lain? Pribadi, mungkin?”

“Sebenarnya sih ada. Memang bagi saya kata Selamat Ulang Tahun itu langka sekali. Pertama, saya lahir di tahun ganjil. Tepatnya di hari ganjil, 29 Februari. Jadi orang-orang bingung jika dipaksa menyimpan nama saya di kalender mereka. Dan mereka juga bingung ketika harus mengucapkan, tanggal 28 atau tanggal 1? Selain itu setiap kali 29 Februari tiba, empat tahun sekali, hari itu selalu berubah menjadi hari yang buruk. Seperti contohnya, tadi pagi saya ingin berenang, tiba-tiba lift apertemen saya mati. Dan banyak setiap empat tahunnya. Ini yang mendorong saya untuk menciptakan ulang tahun yang sempurna bagi orang lain. Karena saya tidak ingin mereka merasakan apa yang saya rasa selama ini.”

“Wah, menarik sekali kisah Pak Tody. Oh iya, selamat ulang tahun juga bagi bapak. Yang ke berapa, pak?”

“Delapan tahun.”

“Hahaha bapak ini jago bercanda ya! Eh, tapi pak, sepertinya…”

“Ada apa?”

“Voice recorder saya belum menyala tadi. Bisa ulang lagi dari awal?”

Selamat Ulang Tahun, Tody!

Tody terlahir sebagai seorang bayi laki-laki yang tampan. Kulitnya yang merah baru saja merasakan seperti apa debu-debu dunia. Tapi, baru beberapa menit ia lahir, wanita yang melahirkannya meninggal dunia. Saat itu, jam menunjukkan pukul dua belas lebih sepuluh menit. Suster di front office baru saja merobek kalender. Di atasnya, tertera 29 Februari 1976.

Selamat datang di dunia nyata, Tody! Apakah kamu percaya kutukan?

Bandung, 4 Januari 2009, 01:03 AM.
Selamat Ulang Tahun, Iyo!