Selamat pagi, Mata. Terima kasih untuk mau membuka kelopakmu dan mengantarkan rangsang cahaya pada saya. Dari yang saya amati, sepertinya matahari belum datang. Cahaya terang ini adalah cahaya lampu dan layar yang membuat saya pusing.
Selamat pagi, Telinga. Terima kasih untuk mau menggetarkan gendangmu dan mengantarkan rangsang bunyi pada saya. Dari yang saya bisa dengar, sepertinya jalanan masih sepi. Hanya ada satu atau dua bunyi mesin, dan sisa yang saya dengar hanyalah bunyi berisiki keyboard komputer.
Selamat pagi, Hidung. Terima kasih untuk tetap mengantar oksigen selama saya beristirahat. Tanpa kamu, saya tiada.
Selamat pagi, Kulit. Terima kasih untuk mau kembali meraba. Pagi ini cukup dingin, ya?
Selamat pagi, Lidah. Terima kasih untuk mau kembali merasa. Keripik kentang yang tadi cukup enak juga ternyata.
—
Pagi ini saya mengumpulkan kalian semua bersama-sama dalam keadaan sadar karena saya baru saja mendapatkan sebuah pemikiran baru. Siap untuk mendengarnya bersama-sama?
Tidak siap? Apa maksud kalian? Tidak ada alasan untuk menjadi malas di pagi hari! Masih ngantuk?
Sudahlah, biar saya akan jelaskan sekarang. Mulai hari ini saya semua akan menuduh kalian semua para indera sensorik sebagai pembohong.
JANGAN MARAH DULU! Kalian bahkan belum mendengar penjelasan saya!
Mmm… Mari kita mulai dari… Ah baiklah. Ehem, tugas saya sebagai otak adalah mengumpulkan informasi dari kalian semua bukan? Saya akan memprosesnya, dan menyampaikan hasilnya pada separuh bagian lain dari individu yang kita huni ini: namanya Jiwa. Tentu saya akan menerima semua berita dari kalian. Tapi akhir-akhir ini saya melihat banyak sekali data yang janggal…
Misalnya, Mata.
Eits, jangan bicara dulu! Saya percaya kok dengan visualisasi yang berhasil kamu tangkap, meski semua yang kamu antar itu sebenarnya bayangan maya bukan?
Kamu belum tahu?
Jari, berhenti mengetik! Coba buka dulu kacamata yang menempel di depan Mata.
Oops, saya bahkan tidak bisa melihat layar komputer. Pasang lagi! Nah, ini lebih baik.
Saya tidak akan menyalahkan kamu hanya karena lensamu pejal dan kamu tidak bisa berakomodasi, atau karena kamu buta warna. Tapi bagi saya, apa yang kamu sajikan tentang dunia itu sebenarnya hanyalah sebuah kebohongan yang besar.
Mari kita lihat contoh kasus. Kemarin, kamu memperlihatkan pada saya seorang pengemis yang tua dan terlunta-lunta. Didorong oleh lobus humanis (HAHA PANDAI SEKALI SAYA MENGARANG NAMA!) milik saya, saya memerintahkan jari untuk memberi uang seribuan.
Lalu tak lama kamu berpaling, kamu mendadak bilang kalau pengemis itu menenteng telepon genggam? Gila sekali. Yang mana yang harus saya percaya?
Sudah, jangan berargumen dulu! Saya belum selesai bercerita.
Telinga, giliran kamu.
Detik pertama kamu bilang ada orang yang berkata bahwa misalnya, berbohong demi kebaikan itu baik, lalu kamu menyampaikan lagi bahwa bohong itu dosa. Terlalu sering kamu mengombang-ambing saya dalam kontradiksi sehingga sulit bagi saya untuk mengambil keputusan!
Lalu bagi hidung, kulit, dan lidah. Saya tahu sulit bagi kalian untuk berbohong. Tapi jujur, informasi yang kalian sampaikan seringkali dibantah oleh dua indera teman kalian tadi. Misal kamu, lidah. Suatu hari kamu menyampaikan sebuah rasa yang luar biasa, mendadak telinga bilang makanan tersebut dosa hukumnya karena dibuat dari babi. Kenapa kamu tidak bilang?
Lalu kamu, kulit. Kamu mulai bisa menipu saya dengan tekstur-tekstur palsu, rupanya. Kulit cantik milik wanita itu jangan-jangan silikon pula?
Lalu hidung, makin banyak saja bau-bauan artifisial yang kamu berikan. Padahal saya tahu, dibungkus parfum apapun, sampah tetap saja sampah!
Atau contoh kasus terakhir. Kalian berlima memperkenalkan saya pada orang itu. Orang yang di mata saya selalu terlihat baik dan sempurna. Orang yang di mata saya layak jadi contoh. Orang yang baunya harum dan kulitnya lembut (walau saya tidak tahu rasanya enak atau tidak, lidah tidak pernah menjilatnya). Ternyata menurut telinga dia berbuat jahat? Dia berbuat curang? Dia berbuat licik? Bagaimana saya bisa percaya pada salah satu dari kalian jika kalian terus menerus memberikan kontradiksi?
Sekarang saya harus bagaimana? Belahan tubuh lain yang bernama Jiwa (kalian akan kagum jika bertemu dia!) selalu bertanya-tanya. Mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang harus dipercaya dan mana yang tidak.
Jujur, saya sudah menganggap apa yang kalian sampaikan pada saya sebagai ilusi belaka. Saya sudah menjadi bagian tubuh paling skeptis, yang selalu menganggap bahwa kadang kebenaran tidak bisa terukur bahkan dengan lima informasi dari kalian yang disatukan sekalipun.
Lalu kalian pasti akan bertanya, kebenaran itu apa? Yang seperti apa?
—
Asal kalian tahu, bagian lain kita yang separuh itu, sang Jiwa tadi, memiliki episentrumnya sendiri. Kalau saya tidak salah, namanya Hati.
Saya sendiri sebagai kebalikan dari Hati, awalnya selalu mempercayai apa yang kalian katakan, karena bagi saya itu semua nyata. Ada buktinya, kan?
Tapi Hati tidak. Ia tidak semudah itu percaya dan Ia seringkali berargumentasi dengan saya. Walaupun saya selalu menjadi pihak yang bersuara lantang dan menggebrak meja, Ialah yang selalu menang. Ialah yang ternyata benar.
Baru saja tadi Ia bilang, hal-hal yang sebenar-benarnya nyata dan benar tidak akan pernah bisa diraih oleh indera manapun. Kalian semua, wahai reseptor, tidak akan pernah bisa merasakannya.
Tapi hati-lah yang bisa. Sang Jiwa punya mata, telinga, lidah, kulit, dan hidung yang terpisah dari dunia nyata ini. Mereka sedang berusaha merasakan sesuatu yang mungkin bagi kita semua fana, tapi justru malah merupakan yang paling nyata.
Kalian kenal Tuhan?
Itu, telinga, kamu pernah bilang bahwa dia yang menciptakan kita semua kan?
Benar. Sekarang, pernahkah kamu mendengarnya bicara lantang dari langit? Mata, pernahkah kamu melihatnya? Kulit, pernahkah kamu merabanya?
Tidak ada yang pernah. Saya sendiri juga tidak pernah.
Tapi jujur, saya akan bertanya pada kalian semua. Apakah kalian percaya padaNya?
Tumben kalian semua mengangguk bersamaan. Hahaha.
Mata, apakah kamu bisa menangkap bayangan dari semua hal di dunia ini yang merupakan ciptaanNya? Bisa. Tapi kamu tidak bisa melihatnya, kan?
Itulah, kawan-kawan, kenyataan yang sebenarnya. Kebenaran yang sebenarnya.
Satu kata kunci yang harus kita semua pegang, saat menjalani tugas sebagai alat indera di tubuh pemilik kita ini hanya singkat saja:
Kita harus punya kepercayaan yang kuat, bahwa sebenarnya, yang paling nyata adalah sesuatu yang tidak nyata sama sekali. Kita harus semakin jeli memilah informasi sebelum kita percayai begitu saja. Saya akan lebih sering lagi berkoordinasi dengan Hati beserta Sang Jiwa untuk menentukan mana yang nyata dan mana yang fana. Kalian pun harus begitu!
Sekian ceramah saya untuk pagi ini. Sekarang kalian semua cepatlah kembali bekerja dan sampaikan lagi informasi-informasi lainnya bagi saya. Jangan berbohong!
Apa, naik gaji?
Bandung, 26 Juni 2009. 05:47 WIB.








mari membual!