Akhirnya setelah berkontemplasi cukup lama, saya memiliki sesuatu yang layak saya jadikan harapan saya tahun ini. Mungkin harapan ini akan terdengar sangat sederhana. Tapi bagi saya, harapan yang ini jauh lebih sulit dilaksanakan dari harapan-harapan saya yang lain:
Saya hanya ingin melukiskan senyum di wajah orang-orang yang saya cintai.
Rupanya, selama ini saya hidup bersama puluhan cermin yang saling berefleksi satu dan lainnya. Satu senyum yang terlukis akan melukiskan seribu senyum lain, dan satu air mata yang terjatuh akan meneteskan ribuan tangis lainnya.
Maka itu, saya hanya ingin membalas senyum mereka semua. Saya ingin menjadi sang cermin yang memantulkan kebahagiaan. Energi yang positif. Kebaikan. Saya selalu berusaha berhenti menjadi orang yang saya tidak sukai, tetapi selalu gagal. Mengapa? Usaha saya kurang keras.
Tahun ini, saya harus berusaha lebih keras lagi.
–
1.
Kebanyakan orang yang mengenal saya cukup dekat, pasti bisa mengetahui apa-apa saja sifat buruk saya. Yang cukup kentara, gemar bergunjing, misalnya. Atau bermulut tajam. Atau… menyebalkan. Bossy. Paling merasa pintar. Sombong. Frontal. Bicara tanpa dipikir. Segalanya, silahkan sebut!
Saya tidak akan kaget jika dilempari kata-kata seperti itu. Karena saya sendiri sadar akan semua tindakan-tindakan saya yang brengsek itu. Dan saya sendiri sedang berusaha mengubahnya. Tapi inilah yang terjadi sampai saat ini.
Ketika orang-orang yang saya cintai jatuh dan menangis, mungkin dulu saya hanya bisa mengucapkan sepatah dua patah kata motivasi yang tidak ada artinya. Bahkan mungkin ketika orang yang saya tidak suka menangis, saya akan menari diatas penderitaannya. Tetapi apa yang terjadi ketika saya menangis? Ribuan bahu muncul di hadapan saya sebagai tempat bersandar. Ribuan mulut bicara, mendoakan yang terbaik.
Ketika ada orang yang menyakiti saya, apa yang bisa saya lakukan? Mengutuk dan merutuk. Menyalahkan keadaan. Tanpa berefleksi pada diri sendiri. Tanpa bertanya, “Apakah saya terlebih dahulu menyakiti dia hingga dia harus menyakiti saya?”
Ketika ada orang yang tak baik perilakunya, saya hanya bisa mengatainya tanpa membantunya berubah. Padahal, orang-orang tersebut adalah orang yang selalu membantu saya bercermin dan memperbaiki diri.
Dengan segala cacat dan keburukan itu, saya rasa, saya sudah cukup beruntung memiliki orang-orang yang mau menerima saya apa adanya. Saya yang egois dan pemarah. Saya yang selalu dipermainkan emosi sendiri. Saya yang bermulut tajam dan seringakli bicara tanpa berpikir. Saya yang memiliki ribuan cacat lainnya.
Saya bertemu dengan banyak orang yang luar biasa selama enam belas tahun perjalanan saya. Mereka masih mau saya ajak bicara, berbagi cerita, dan mereka selalu berhasil membuat saya tersenyum. Apakah muluk ketika saya juga berharap bahwa saya ingin bisa melukiskan senyum di wajah mereka?
—
Halo, kalian semua.
Ada orang-orang yang mungkin baru saya kenal setengah tahun, satu bulan, ada pula yang bertahan di samping saya dari tiga tahun lalu.
Kalian semua pasti sudah hafal sifat-sifat saya seperti apa,
Kalian juga pasti jengah mendengar ucapan maaf saya yang terlalu sering terlontar, tanpa termanifestasikan menjadi sesuatu yang nyata. Mungkin di mata kalian saya memang omong doang, nggak ada aksinya.
Tapi saya jujur, saya selalu berusaha. Sekuat tenaga.
Saya tahu saya bukan orang yang paling teguh dalam menjalani perubahan dalam diri saya. Mungkin sifat buruk ini memang bawaan dari sananya. Tapi saya pun tidak suka memilikinya.
Doakan saja saya agar suatu hari usaha saya berhasil. Agar semakin hari, semua harapan saya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi menjadi nyata. Jika kalian bilang “Wish you All the Best!”, inilah All the Best bagi saya. Berubah.
Saya ingin berada di puncak bersama kalian semua.
Saya ingin memenangkan kejuaraan debat untuk kalian. Keluarga saya, yang telah mendukung saya dengan semua doa dan semangat. Untuk pelatih-pelatih dan kakak-kakak saya yang tak segan membagi ilmunya tanpa henti. Untuk saudara-saudara saya yang selalu ada di samping saya, mendukung tanpa henti-hentinya.
Saya ingin berada di ranking 10 besar bersama kalian. Orang-orang yang tak pernah bosan saya minta belajar bersama. Orang-orang yang mewarnai hari-hari saya di kelas. Orang-orang yang selalu membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Kalian, saya tahu kok susah bagi kita untuk merealisasikannya, tapi saya ingin kita semua maju bersama. Bisa, ya?
Saya ingin menjadi pencerita yang baik bersama kalian. Orang-orang yang memiliki selera musik yang sama, kesukaan yang sama, dan sudah dua tahun bersama-sama. Suatu hari kita bisa membuka kebun binatang tempat anak-anak mendengarkan cerita bersama ya? Cerita dan gambar yang kita jalin sendiri.
Saya ingin menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana untuk kalian. Orang-orang yang pernah saya pimpin lalu saya kecewakan, tapi tidak pernah mengecewakan saya. Di masa yang lalu kita semua pernah menjadi bagian dari acara yang hebat, di masa depan kalian semua adalah bagian dari negeri terhebat.
Saya ingin menjadi teman di saat suka dan duka untuk kalian. Orang-orang yang selama ini selalu saya jadikan pelarian untuk bersenang-senang saat saya berduka, tetapi saya tak pernah ada untuk kalian ketika kalian berduka. Saya ingin belajar menjadi teman yang baik bagi kalian. Saya ingin melepaskan semua stress saya bersama kalian sekali lagi, seperti di saat-saat dulu.
Saya ingin menjadi penulis terkenal bersama kalian. Orang-orang yang tak hentinya menjadi sumber inspirasi saya. Menyebarkan ide-ide kita yang luar biasa tentang kuantum waktu dan adam hawa bersama kalian. Mencari Tuhan bersama kalian. Merasakan cinta bersama kalian. Menyelami hidup bersama kalian, serta mencintainya juga dengan tulus. Saya ingin beranjak bijak dengan kalian.
Dan saya ingin menjadi segala yang lebih baik bagi kamu, yang tak pernah lelah berusaha.
Kalian semua adalah orang-orang yang melukiskan senyum di wajah saya. Semoga Tuhan selalu melukiskan senyum di wajah kalian juga. Semoga saya bisa menjadi salah satu penggores kuasnya.
Saya bahagia sekali bisa bertemu dengan kalian semua, terima kasih!
—
2.
Kedua orang tua saya sudah tidak lagi muda. Saya bisa melihat rambut-rambut putih mulai bertumbuhan di kepala mereka. Saya bisa meraba kerutan di wajah mereka. Saya tidak buta sehingga tidak bisa melihat obat yang harus mereka tenggak setiap pagi.
Dalam keadaan seperti itu, mereka tak pernah gagal membuat saya tersenyum. Ketika telepon genggam saya hilang karena keteledoran sendiri, mereka menawari ganti yang dua kali lebih bagus. Mereka melengkapi saya dengan mobil yang kelewat mewah dan supir yang selalu siaga, untuk apa? Saya tidak pernah membawa mobil itu ke tempat ibadah. Saya membawanya ke tempat dimana secangkir kopi berharga selembar biru.
Sementara ketika saya menghisap aroma kopi-kopi itu, dengan mengenakan sepatu, baju, jam, dan parfum yang baru, apa yang orang tua saya lakukan? Bekerja. Menghitungi lembar demi lembar uang, meneliti pemasukan, melakukan penghitungan rumit yang saya tak pernah bisa melakukannya.
Apa yang saya sisakan untuk mereka? Kertas-kertas tagihan yang menggunung. Nilai-nilai yang mungkin belum cukup.Ditambah ketika di malam hari saya pulang, masih mengenakan seragam, saya hanya bisa memberi jawaban-jawaban pendek pertanda kelelahan untuk pertanyaan ramah mereka.
Lebih parah lagi, terkadang saya menyisakan mereka air mata untuk mereka tangisi sendiri. Saya menyisakan mereka kekecewaan.
Tiba-tiba terlintas bayangan ketika Ayah saya berbaring di rumah sakit tahun lalu, dengan selang oksigen menempel di hidungnya. Saya bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah bisa saya berikan untuk mereka?
Maka dari itu, jika kalian bertanya apa yang membuat saya ada di sini. Menulis, berdebat, berpikir, memperkaya diri dengan ilmu, dan hal lainnya yang membuat saya ambisius. Saya hanya punya satu keinginan.
Untuk membuat kedua orang tua saya tersenyum.
—
Mami, Papi, kalau kalian baca ini (dan saya yakin, kalian pasti bakal baca)
Aku berusaha mam, pap.
Aku pengen jadi pemenang ISDC taun ini.
Aku pengen berangkat ke Skotlandia taun depan.
Aku pengen dapet seribu sertifikat.
Supaya aku bisa masuk kuliah gampang.
Supaya aku ga ngecewain kalian lagi kaya waktu SMA 3 kemaren.
Aku pengen bisa hidup sehat, olahraga teratur, nggak sakit-sakitan.
Supaya aku ga sering pilek dan kalian harus mahal-mahal beli antibiotik.
Aku pengen jadi orang paling pinter sedunia,
Supaya aku bisa kerja yang bener dan jadi kaya
Dan suatu hari mimpi aku ngajak kalian pergi Umroh atau Naik Haji lagi kesampaian.
Ditambah pulangnya, aku pengen ngajak kalian pergi ke Dubai.
Dan beliin kalian satu apartemen di Burj Khalifa.
Aku pengen beliin kalian banyak banget Mercedes-Benz, supaya setiap kali Mami dapet apa yang mami harepin, Mami ga ngomong “Coba aja tadi ngarep Mercy, ya?”
Aku pengen beliin Papi satu toko elektronik, sekalian sama radio polisi yang banyak.
Satu lagi, aku tau, selama ini aku kafir. Aku ga pernah Shalat.
Aku pengen berusaha pap, mam, buat deket sama Allah.
Aku pengen jadi anak yang shaleh.
Kenapa?
Karena misal suatu saat kalian ga ada di samping aku lagi,
Aku tetep bisa terus-terusan doa’in kalian.
Terakhir,
aku pengeeen banget ngasih Papi sama Mami cucu yang cantik sama ganteng.
Dan seribu pengen lainnya yang ngga akan cukup aku tulis.
Aku ngga ngerti gimana caranya bikin ini semua jadi nyata,
tapi aku berusaha pap, mam.
Setiap sertifikat yang aku masukin ke amplop itu, semoga bisa buat kalian bangga.
Setiap nilai yang aku ukir, semoga bisa buat kalian bangga.
Setiap ilmu yang aku tahu, semoga bisa buat kalian bangga.
Setiap do’a yang aku ucapin, semoga bisa buat kalian… bahagia.
Walaupun cinta aku ngga akan bisa nyaingin besarnya cinta kalian,
I still love you the most, mom, dad.
—
I’ve never been
The one to raise my hand
That was not me
And now that’s who I am
Because of you
I am standing tall
My heart is full
Of endless gratitude
You were the one
The one to guide me through
Now I can see
And I believe
It’s only just beginning
This is what we dream about
But the only question with me now
Is do I make you proud
Stronger than I’ve ever been now
Never been afraid of standing out
Do I make you proud
I guess I’ve learned
To question is to grow,
That you still have faith,
Is all I need to know,
I’ve learned to love,
Myself in spite of me,
And I’ve learned to
Walk on the road I believe.
This is what we dream about
But the only question with me now
Is do I make you proud
Stronger than I’ve ever been now
Never been afraid of standing out
Do I make you proud
Taylor Hicks – Do I Make You Proud
—
P. S. Ulang Tahun kali ini saya lewatkan tanpa meniup lilin. Tapi saya ingin menjadi lilin yang menerangi kalian semua. Amin!