(Oops, tulisannya panjang!)
Saya ingin memulai tulisan kali ini dengan berbagai flashback. Pertama, di tahun 1994, lima belas tahun sebelum hari ini, lahir seorang bayi yang kurus kecil dan diberi nama Wisnu Aryo Setio. Bayi kurus itu sekarang berubah menjadi manusia yang tidak kurus (saya cuma tidak ingin bilang gemuk) dan rajin memandangi layar komputer sambil sesekali mengetik di keyboardnya. Lalu, dua tahun yang lalu, seorang Iyo memutuskan untuk pindah dari blog lama miliknya di blogspot, dan mulai menulis tulisan pertamanya.
Tentu pembaca sudah bisa menebak kemana arah tulisan ini. Saya ingin menjadikan tulisan ini sebagai nisan prasasti, sebuah pendanda akan berbagai macam hal yang berhubungan tentang saya, sifat saya, beserta tulisan-tulisan saya sebelumnya. Tepat di tulisan ini, blog saya di http://simplyiyo.com berulang tahun yang ke dua. Dan juga menginjak lima puluh tulisan. Saya tahu bahwa ini bukanlah prestasi. Lima puluh dalam dua tahun adalah bukti bahwa Iyo yang dulu adalah Iyo yang tidak produktif, Iyo yang hanya menulis sesuai dengan moodnya. Apakah Iyo yang lima belas tahun akan memiliki sifat yang sama, dan di peringatan tiga tahun blog ini saya akan mencapai angka tujuh puluh lima? Semoga… Tidak!
—
Mari kita terus melakukan flashback, satu tahun yang lalu saya menuliskan berbagai resolusi yang sangat amat muluk-muluk untuk dicapai. Semuanya terasa begitu sulit, dan jauh sekali untuk dicapai, ketika saya menulis itu. Tapi pertanyaannya, apakah semua resolusi itu kini sudah terpenuhi seperti apa yang saya tulis satu tahun lalu?
Jawabannya… akan saya jawab dengan sebuah jawaban yang menggantung. Dengan sebuah flashback lagi. Dengan perkataan (yang sebenarnya sangat tidak berhubungan dengan pertanyaan) dari salah satu idola baru saya. Inspirasi saya dalam berbagai hal: Jason Mraz. Di bawah ini adalah beberapa kutipan dari blog miliknya, yang sangat saya suka. Sebenarnya dia juga mengutip sebuah berita di koran ternama, hehe. :p
Gratitude is Good for Your Health
Finally, some research reports coming in on the power of Saying Thank You. This is from today’s pages of USA Today.
Stepping up the gratitude
Giving thanks year-round can make you healthier
Your Health By Kim PainterThursday, in between the cheese ball appetizers and the pumpkin pie desserts, most of us will indulge in something proven to have powerful health benefits.
No, it’s not that extra serving of stuffing. It’s the expression of gratitude — the simple act of thanking God, thanking others or just counting your blessings. Saying thanks, it turns out, isn’t just pious or polite. It’s good for you.
But there’s a catch: You have to do it even when the calendar does not say “Thanksgiving.”
“It doesn’t really work if you do it only once a year,” says Sonja Lyubomirsky, professor of psychology at the University of California-Riverside.
Practicing gratitude is like exercising, says Robert Emmons, professor of psychology at the University of California-Davis: Use it, and you won’t lose it, even when times are tough, as they are for many folks right now.
Lyubomirsky and Emmons are among researchers who have studied the power of gratitude and learned, for example, that:
- People with high blood pressure not only lower their blood pressure, but they feel less hostile and are more likely to quit smoking and lose weight when they practice gratitude. This was demonstrated by calling a research hotline once a week to report on the things that make them grateful.
- People who care for relatives with Alzheimer’s disease feel less stress and depression when they keep daily gratitude journals, listing the positive things in their lives.
- Those who maintain a thankful attitude through life appear to have lower risks of several disorders, including depression, phobias, bulimia and alcoholism.
- Most people can lift their mood simply by writing a letter of thanks to someone. Hand-deliver the letter, and the boost in happiness can last weeks or months.
Practicing gratitude in these systematic ways changes people by changing brains that “are wired for negativity, for noticing gaps and omissions,” Emmons says. “When you express a feeling, you amplify it. When you express anger, you get angrier; when you express gratitude, you become more grateful.”
And grateful people, he says, don’t focus so much on pain and problems. They also are quicker to realize they have friends, families and communities to assist them in times of need. They see how they can help others in distress as well, he says.
Maaf, dalam bahasa Inggris. Saya tidak punya cukup banyak waktu untuk menerjemahkannya. Inti yang bisa saya ambil dari tulisan tadi adalah bahwa sepotong kata simpel yaitu “Terima Kasih” kepada Tuhan, kehidupan, bahkan dunia dan isinya dapat membuat hidup kita lebih sehat dan lebih bahagia. Sayang, orang Amerika sana sering kali lupa bersyukur, berterima kasih. Mereka hanya melakukannya setiap setahun sekali di momen Thanksgiving. Sedangkan saya memiliki kesempatan emas untuk melakukannya setiap saat, setidaknya lima kali satu hari. Dalam ayat kedua surat pertama yang selalu saya baca berbunyi, “Alhamdulillahhi Rabbil Al Amin.” Segala Puji Bagi Tuhanku, Penguasa Alam.
Lalu apa hubungannya dengan resolusi saya tahun lalu?
Setelah saya baca kembali, memang tidak ada resolusi yang bisa saya penuhi secara sempurna. Bahkan ada yang belum sama sekali saya lakukan setelah satu tahun. Tapi dengan melakukan proses sedikit demi sedikit, itu sudah merupakan anak tangga bagi saya untuk mencapai semua yang saya inginkan itu. Saya memang belum bisa memasak, tapi saya pernah memasak dan hasilnya enak. Saya memang belum jago mengendarai mobil, tapi saya pernah dan saya tidak menabrak. Saya memang bukan seorang atlet berperut kotak-kotak, tapi saya sudah berdamai dengan treadmill dan lari pagi. Semua berjalan lambat, tetapi pasti. Tidak ada hal yang instan di dunia ini, kan?
2008, serta umur 14 tahun, telah memberikan kenangan yang teramat sangat manis bagi saya. Semua dimulai dari hal-hal kecil yang menyenangkan sampai hal-hal besar yang tak terduga. Di umur empat belas saya juga perlahan-lahan mulai mengetahui rahasia-rahasia bagaimana cara “menghidupi” hidup. Dan salah satu yang saya temukan di umur empat belas tahun, salah satunya adalah ilmu bersyukur. Setelah saya mempraktekannya di dunia nyata, saya sempat ingin mati. Mengapa? Bukan karena saya depresi! Tapi karena pada saat itu, hidup saya terasa begitu bahagia dan sempurna sehingga saya ingin mengabadikannya. Syukurnya saya tidak sebodoh itu. Dan kehidupan saya sampai saat ini telah melukiskan sebuah senyum besar di wajah saya yang membuat saya ingin terus dan terus bersyukur.
Bahwa saya telah diberikan kesempatan untuk hidup, dan menjalani kehidupan ini beserta semua manis dan pahitnya.








mari membual!