tidak mudah menjadi hijau.
by Wisnu Aryo Setio
salah satu warna kesukaan saya yang terbaru, hijau, seringkali diasosiasikan dengan berbagai hal. mulai dari tamak, karena mencerminkan warna dari lembaran dollar terbesar, sampai dengan lingkungan. malam ini, poin terakhir mengusik saya dalam-dalam. membuat saya kembali ke bulan september, satu tahun yang lalu.
saat itu saya dan ketua pelaksana pentas seni sekolah sedang mencari tema untuk acara yang akan kami selenggarakan. saya, entah setelah membaca tentang apa, muncul dengan sebuah konsep yang cukup menarik pada saat itu: lingkungan. dengan nama envision (singkatan dari the environmental mission), saya mengajukan ide ini kepada teman-teman, dan mereka setuju.
ide saya adalah untuk membuat sebuah pentas seni yang skala-nya lebih kecil, dengan konsumsi listrik yang tidak terlalu besar. semua dekorasi awalnya harus dibuat dari barang-barang bekas sehari-hari. stand bazaar juga harus menyediakan banyak tempat sampah, didekorasi tanpa menggunakan pylox, dan tidak boleh menggunakan bungkus dari styrofoam ataupun plastik. selain itu, asalnya saya ingin sekali mengadakan edukasi lingkungan disela-sela pertunjukan musik yang hingar bingar.
sampai pada suatu hari, selembar poster pentas seni sebuah sma tertempel di majalah dinding sekolah saya. posternya sederhana, hanya menampilkan pohon-pohon dan menggunakan warna primer hijau. saya berfirasat buruk. ternyata benar, konsep kami seketika menjadi pasaran. terlebih ketika pada bulan desember diadakan konferensi tentang perubahan iklim. dunia berubah, indonesia berubah, bandung berubah. seketika semua orang menjadi hijau. greeneration, mereka bilang. mendadak semua orang membeli dvd an inconvinient truth, memasukannya kedalam favourite movie di facebook walau mungkin mereka tak mengerti apa arti film itu (sebenarnya saya juga tidak! hehe). fenomena ekstrim ini diikuti perubahan tren juga. munculnya tas I’m Not A Plastic Bag (fashionistas pasti tahu) yang menghebohkan itu misalnya. atau supermarket yang berlomba-lomba membuat tas ramah lingkungan. dengan sedikit google, anda akan menemukan berita tentang sebuah hypermarket yang MENJUAL tas-tas dengan label ‘ramah lingkungan’ yang bertuliskan slogan di atasnya. warnanya juga hijau daun! pas sekali dengan warna kesukaan para greeneration ini. tapi sayangnya, tas itu terbuat dari plastik. hmm.
kembali ke pentas seni. para pembaca blog ini pasti tahu bahwa pentas seni saya mengubah sedikit tujuannya. dengan konsep pahlawan, kami berusaha tetap menampilkan konsep awal kami. tapi jujur, menjadi hijau itu sulit. sebagai kemasan proposal untuk sponsor, saya menginginkan tas yang kami bawa terbuat dari kain, tapi ternyata itu mahal. saya juga menginginkan agar cover proposalnya tidak dibungkus plastik, tapi itu mahal. saya ingin mendatangkan narasumber tentang lingkungan, tapi itu membosankan dan mahal. ketika saya mensosialisasikan tentang tema kebersihan yang menjadi isu utama di stand-stand bazaar, satu angkatan di atas saya pada saat itu marah besar dan memutuskan untuk tidak membuka stand sama sekali. saya hancur mendengarnya.
kermit the frog memang benar! it’s not that easy being green.
mari kita ulangi lagi: tidak mudah menjadi hijau. mengapa hal seperti ini bisa terjadi? di zaman yang menginginkan kepraktisan dan efisiensi, hal-hal yang ramah lingkungan sudah pasti tidak praktis. satu contoh menarik yang saya temukan di blog dewi ‘dee’ lestari, adalah tentang air mineral dalam kemasan. banyak orang-orang yang memilih untuk membeli satu kardus air mineral gelas plastik, dibandingkan dengan menyediakan beberapa gelas dan sebuah teko. ini sudah menjadi sebuah pergeseran pola pikir. di sekolah saya sendiri jumlah sampah plastik setiap harinya sangat fantastis, hanya karena siswa siswa tidak mau repot, membeli air minum kemasan setiap istirahat. coba saja, setiap kelas menyediakan dispenser air. siswa tinggal membawa gelas masing-masing, minum secukupnya, lalu membawanya pulang untuk dicuci. hal ini akan sangat mengurangi jumlah limbah plastik di sekolah saya, dan saya yakin, dampak yang ditimbulkannya untuk dunia ini akan menjadi besar.
di dunia nyata, hal seperti tadi sangat sulit dilaksanakan. saya sendiri sebagai penulis dari artikel pendek ini masih sering, bahkan selalu menggunakan benda-benda yang tidak ramah lingkungan. bekal makan siang saya yang dikirim oleh katering saja sudah menggunakan 7 kemasan dari plastik (rinciannya: 3 plastik transparan untuk lauk pauk, 1 sendok bebek, 1 sachet saus sambal, 1 gelas plastik minuman, 1 sedotan plastik, 1 kantung kresek) dan 1 kotak styrofoam. padahal semua itu hanya akan saya gunakan selama beberapa menit saja. ketika makanan di dalamnya habis, benda-benda sebanyak itu akan berakhir di tempat sampah. tanpa bisa diuraikan. bahkan mungkin sampai saya yang menggunakannya sudah terurai lebih dahulu.
mengerikan sekali jika siklus berbahaya seperti ini terjadi berulang kali dalam kehidupan kita. sayangnya hal ini tidak mungkin dicegah. bahan-bahan seperti plastik sudah menjadi bagian dari hidup kita. tapi masih banyak cara lain untuk mengurangi dampaknya. sebagai pemuda, kita masih diberikan cukup tenaga untuk melakukan hal itu. contohnya sahabat saya, gichie, sudah menjadikan sepeda sebagai alat transportasi utamanya. di tengah situasi bandung yang penuh polusi seperti ini saya sangat memuji langkahnya. hal seperti ini mungkin bagi kebanyakan orang (termasuk saya) masih ekstrim. tapi pernahkah kita berpikir untuk melakukan hal-hal kecil seperti ini?
- membawa tas kain ketika membeli barang di pertokoan. sekaligus menolak kantong plastik jika tidak diperlukan. kadang, para petugas minimart seringkali memasukkan satu bungkus permen kecil kedalam sebuah tas plastik besar! sungguh mubazir.
- menyimpan sampah-sampah kecil (seperti bungkus permen) di saku, sampai kita bisa menemukan tempat sampah terdekat. sampah-sampah yang kecil ini jika dikumpulkan pasti akan menjadi masalah besar, kan?
- memberikan barang-barang lama yang tidak terpakai. hal sesederhana ini juga bisa membantu mengurangi dampaknya.
- menyalakan keran secukupnya ketika berwudhu, mencuci tangan, maupun menyikat gigi. bahkan menurut nickelodeon (halah, ketauan tontonannya ga mutu!) jika sebuah kompleks perumahan menjalankan kebiasaan ini bersama-sama, air yang diselamatkan cukup untuk mengisi sebuah kolam renang olympic sized!
- menggunakan dua tempat sampah dengan semestinya. sekolah saya memiliki tempat sampah yang terpisah-pisah, tapi tetap, siswa siswinya terlalu malas untuk sekedar menaruh sampahnya di tempat yang benar
- dan masih banyak lagi perbuatan kecil lainnya.
hal-hal yang saya sebutkan diatas tadi memang sangat sepele, tapi seringkali kita lupa untuk melaksanakannya. saat ini posisi saya sebagai penulis sama dengan anda semua yang membaca. saya bukan duta lingkungan, saya juga bukan orang yang paling peduli terhadapnya. tapi sungguh, browsing singkat yang saya lakukan malam hari ini telah mengetuk pintu hati saya berulang kali, dan saya berharap pintu hati anda juga ikut terketuk dengan membaca tulisan ini.
memang tidak mudah menjadi hijau, tapi bukan tidak mungkin!
masih banyak cara di luar sana yang belum kita ketahui untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik untuk ditinggali anak cucu kita nanti (itupun kalau ramalan kiamat tahun 2012 nggak jadi! hehehe)
- Yahoo! Green
- Dewi Lestari’s Article
- Dewi Lestari’s Berubah Dari Rumah
- KDRI’s Demit Gowang Edisi Agustus
(p.s. sepertinya yang plastik ini mulai nggak ramah lingkungan. ada yang mau ngehadiahin saya yang aluminium nggak nanti tanggal 4? for a greener apple! ;p)

Comments
WEITS ada nama gue!
haha, tambahan dari gue adalah, kumpulin sampah kertas, koran-koran bekas, dan lain-lain, lalu jual ke tukang loak.
tempat sampah sekolah, jarang banget yang pemisahannya dilaksanakan sampai ke tempat pengumpulan sampah sekolah tersebut. di dalam, biar keren aja ada tulisan organik-anorganik, tapi akhirnya dikumpulkan dalam satu tempat yang sama, sama aja boong.
jasa-jasa pemulung juga patut kita hargai. mereka mengumpulkan sampah plastik lalu disatukan. kantong plastik memang pada umumnya tidak dapat didaur ulang, tapi botol AQUA yang terbuat dari PET bisa. coba ambil satu dan lihat bawahnya, ada logo daur ulang. lalu, walaupun ini sotoy sih, tapi logikanya kan sampah-sampah plastik itu dijual/dikirim ke depot pendauran ulang yang entah di mana, jarang dipublikasikan.
iklan aja sih, tapi menurut gue, retailer yang paling ramah lingkungan sepanjang ini adalah Super Indo. Yogya masih setengah hati, apa lagi hypermart. haha, iklan. oh ya, ada lagi masalah dengan kantong reusable yang banyak dijual. memang, yang keren-keren itu pake kain atau kanvas, tapi banyak juga yang berbahan polyester. plastik-plastik juga tuh, tapi seenggaknya emang sih, bisa dipake berkali-kali jadi dampak ke buminya makin sedikit. buat minimarket, gue mengacungkan jempol pada CK yang by default nggak ngasih kantong plastik. kalau Anda belanja di Waroong yang cuma menyediakan kantong kertas juga, kalau Anda tidak berniat memakai lagi kantong mereka yang sangat lucu itu, sebaiknya Anda tolak saja, karena pohon yang digunakan untuk membuat kantong kertas itu bisa diselamatkan. lalu gue sangat menyesali keputusan McDonald’s Indonesia yang sejak entah kapan mulai menggunakan kantong plastik, padahal setau gue, sepanjang sejarah McD di seluruh dunia, mereka selalu pakai kantong kertas yang dibuat dari kertas daur ulang.
bagi yang berkendaraan solar, cari SPBU yang menyediakan biosolar. asapnya tetap hitam, tapi asapnya berasal dari tumbuhan, dan bukan dari cadangan bahan bakar fosil yang aslinya udah dikunci dalam perut bumi selama berjuta-juta tahun. artinya, hutan-hutan dunia tidak akan bermasalah mendaur ulang karbon yang diemisikan, karena karbon tersebut memang berasal dari tanaman.
tapi tetap saja, cara paling umum dan dikampanyekan adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. asap yang dikeluarkan tetap menjadi beban bagi hutan dunia, dan bagi Bumi.
lalu, yang paling mudah: gunakan kedua sisi selembar kertas. kalau perlu fotokopi, sebisa mungkin bolak-balik. kalau tidak bolak-balik, saat fotokopian udah selesai dipake, sisi kosongnya dipake buat yang lain.
untuk dekorasi kegiatan, ganti styrofoam dengan triplek. cari aerosol ramah lingkungan, atau gunakan cat bibit saja.
nggak susah kok untuk memulai dari diri kita sendiri. kalau memang kita masih butuh kendaraan pribadi untuk mobilitas tinggi, coba datang ke WALHI atau Greenpeace dan kalkulasikan penggunaan karbon Anda. lalu, teman-teman kita di sana akan dengan senang hati membantu Anda menjadi carbon-neutral — setiap ton karbon yang Anda emisikan ditutupi dengan pembelian pohon atau pendanaan aktivisme lingkungan yang menuju pada perbaikan sistem pendauran ulang karbon alami Bumi.
dan tentunya, membuat tulisan seperti Iyo dapat membantu.
way to go, sobs.
Well, nobody likes me when i’m green!!
haha. kalo ngirit air dan listrik alhamdulillah udah berjalan mulus. buang sampah ditempatnya jga. menolak kantong plastik sih sering. tapi membedakan sampah untuk masuk tong sampah organik dan non organik itu loooh. hehehe.
sebenernya jelas kita semua bisa. tapi orang males aja. bener bgt tuh yo.
menurut gw hal yang paling simple itu nolak kantong plastik pas belanja. apalagi kalo cuma belanja apaaa gt. permen contohnya. kan bisa muat ke tas sendiri, pas mandi.. misalnya lagi sabunan atau keramas, matiin aja dulu showernya. daaaan buang sampah pd tempatnya.
satu hal lagi yang gw mau protes. sebisa mungkin kertas yg digunakan buat album musik, pake kertas daur ulang. itu bakal sangat membantuuu.
eh yo bikin kampanye yuuuu
*gw ngerasa isi komen ini tidak berurutan. lagi lieur -_-*
tidak mudah bukan tidak mungkin, setuju!!!!
gw setuju ama yg dua tempat sampah,, coz waktu gw bersekolah di SMAN 24 BANDUNG (yg jadi pelopor tempat sampah organik dan non organik) byk temen2 gw yg kagak ngarti. jadi mereka buang sampah asal masukin ajah,, (termasuk gw kalo lagi buru-buru,, hoho)
but anyway,,
hal yg udah gw lakuin sih,, apa ya? palingan kalo gw beli air minum kemasan yg botol, kalo udah abis, sebelom gw masukin ke tong sampah, biasanya suka gw remes2 ampe bentuknya gak jelas gitu. jadi biar gak digunain lagi sama perusahaan air minum palsu dan gak bermodal.
bungkus permen?
hahags,, jgn tanya,, tiap harinya saku gw selalu penuh dgn bungkus permen kosong. kadang suka kesel kalo ada yg buang bungkus permen di angkot! gw suka langsung ambil aja sampahnya terus gw masukin ke saku/tas. biar mereka pada malu!
katanya pengen bandung berhiber, tapi buang sampah yg kecil ajah masih sembarangan,, :p
Aku miris sekali mendengar apa yang didapatkan Klaatu dari Prof. Barndhart dalam film “The Day The Earth Stood Still”, kira – kira begini:
“Ketika kita sudah berada di tepi jurang, baru kita akan mau berubah”.
wa, emang tidak mudah menjadi hijau. plastik-plastik yang praktis memang terlalu menggoda buat dipake, susah juga sih ya ninggalinnya. hambatan besar buat saya.
dan yang paling nyebelin, kalo udah berbuat ‘hijau’ suka digodain sama temen-temen dibilang ‘cinta lingkungan ya’ dengan nada ngejek, dan kadang malah jadi sedikit terpengaruh juga sih. ah emang susah ya menjadi hijau.
aduh gejeh
yg penting yo, hari ini kita uda belanja tanpa kresek.
Susah memang. Asli susah!
Tapi memang harus dimulai. Kalau nggak kapan lagi.
Tulisan yang bagus. Senang melihat semakin banyak org indonesia yg peduli.
wow!wow!wow!
insan indonesia mulai peduli lingkungan!
Mmang sy tlat si comment ny.. abiz,udh lma bgt g mmpir k blog iyo…
Uhm,,mnurut sy yg org smrg… hidup d bandung,,spt kt org2,,sdh bnyk org yg sadar dan peduli ama lingkungan..buktiny,,td ad sma pelopor tmpat sampah organik/nonorganik..kantong plastik dr kain/krtas..dsb..
Sy yg hdup d smg jg mmprktekan hal2 kcil yg bs qta lakukan spt yg sdh d sbtkan..
Tp,,u/ mngajak tmen2 iktan mnjga lingkungan itu lho…susahnyaaaa…..
Lha wong,,wktu sy nolak plastik d mnimarket,,mlah d bilang,’oh,gpp mbak..plastik ny gratis kok…’
-_-’ fiuh…
Y…begitulah…
Apa yg sebaikny kita lakukan??
[...] mula saya ingin menulis tulisan ini dari blog teman saya iyo karena ada tulisan tentang goes green dan di blog iyo ada link blognya dewi [...]