Hujan

by Wisnu Aryo Setio

jum’at siang itu gerimis mengguyur kota kembang dengan airnya yang lembut dan sejuk.
membasahi sepetak tanah hijau depan bangunan tua tempatku belajar tiap hari.
b – o – s – a – n.
wi fi tak berfungsi. akhirnya kubermain reversi.
tanpa sadar baterai tinggal 18% lagi.
*trek*
macbook kututup.
tinggallah aku dan tiga temanku duduk termenung.
di kursi yang terlindungi. memandang rintik hujan yang tak kunjung henti.
waktu terasa lama hingga sesuatu kurasa.

DIA DATANG!

dengan senyumnya yang selalu terkembang, ah bahagiaa!
kita duduk. semua diam.
tapi aku baru menyadari gelagat aneh.
tiga orang temanku, seakan mereka tahu.
menyingkir perlahan dengan jutaan alasan.
meninggalkan kita.

BERDUA
aku dan dia.

lalu kita angkat bicara
tapi kata demi kata membuat lidah kita kelu
tak ada lagi yang dapat kita kuucapkan, dia juga sama.
oxford, miriam-webster, wikitionary
tak ada gunanya lagi
kami kehabisan kata-kata
hingga terdiamlah kami berdua
tanpa suara tapi
diselimuti rasa cinta

kecanggungan
berdua tuk pertama kalinya
sekolah sepi, tak ada sesiapa lagi.
akhirnya kulontarkan sebuah pertanyaan.

“kamu setuju nggak sih, kalau hujan bikin suasana tambah romantis?”

dia terhenyak. aku tersenyum menikmati reaksinya.
tapi kita berdua masih saja diam.
diam.
memandangi gerimis menghujani tanah basah.
menikmati sejuknya angin.

kusadar ini sudah terlalu lambat tuk makan siang.
jemputannya tlah tiba, akupun masih harus makan.
kuucapkan salam perpisahan.

dan kutinggalkan dia dengan sebuah pertanyaan.

ah, hujan.
eratkanlah perasaan kita berdua.