PilihanNya, Pilihan yang Terbaik.
by Wisnu Aryo Setio
Saya mungkin memang hambaNya yang kurang suka disuruh bersujud lama-lama. Tapi jika saya harus mengutarakan betapa kagumnya saya pada Yang Maha Kuasa, maka ratusan buku-pun tidak akan bisa mengutarakannya. Sungguh Ia telah menuliskan kehidupan kita dengan begitu berliku dan penuh tantangan (bukan rintangan!), sehingga hidup kita yang pendek ini jadi ribuan kali lebih menarik untuk dijalani.
Ada banyak masa dalam kehidupan kita yang singkat ini, ketika langit berwarna biru terang. Ketika bunga-bunga terlihat lebih cantik dari biasanya. Ketika segala sesuatunya berjalan seperti semestinya. Ketika kita mencapai puncak kesuksesan dan bergelimang kebahagiaan. Ketika senyum seolah tak bisa pudar dari wajah.
Masa-masa itu adalah masa yang sungguh menggembirakan. Tapi apakah itu yang kita sebut dengan bahagia? Mungkin iya.
Hidup saya selama beberapa tahun kebelakang memang tidak sempurna. Tapi bagi saya, anugerah ini selalu lebih dari cukup. Jika saya melakukan kilas balik, saya baru menyadari betapa banyak takdirNya yang mampu melukiskan senyum di wajah saya. Punya mimpi jadi ketua OSIS? Terwujud. Ingin membuat pentas seni? Sukses. Segala sesuatunya memang mudah bagi saya sehingga kadang, kehidupan ini menjadi semu dan saya berubah menjadi individu yang congkak serta sangat egois. Kebahagiaan ternyata tidak selalu menghasilkan kebaikan.
Dan di masa ketika saya sudah berjalan di jalan yang tidak lurus, Ia menunjukkan saya kembali arah yang benar dengan kejadian yang tak terduga. Rupanya inilah jawaban dari kalimat (yang dulunya hampa) “Tunjukkanlah saya jalan yang lurus” yang saya ulang beberapa kali sehari layaknya mantra.
Ia memperkenalkan saya pada kegagalan.
—
Hampir semua siswa di sekolah saya tidak berhenti belajar ketika Ujian Nasional usai. Kami semua disibukkan dengan sebuah seleksi besar yang masih menanti di depan mata pada saat itu, yaitu seleksi untuk masuk ke Sekolah Menengah Atas Negeri 3 & 5 Bandung. Dua sekolah tersebut menempati peringkat 1 dan 2 di Kota Bandung sebagai sekolah terfavorit dengan NEM yang rata-rata tinggi tiap tahunnya. Saya sendiri sedari kelas delapan telah berminat untuk bersekolah di SMAN 3, dan seleksi ini merupakan pintu gerbang pertama bagi saya untuk memasukinya.
Di awal, saya diberitahu bahwa seleksi ini akan menitikberatkan beberapa hal seperti Bahasa Inggris dan lainnya. Jujur saya sempat merasa optimis mengetahui hal ini. Saya merasa, bahwa bahasa Inggris saya lebih baik. Saya merasa, minat dan bakat saya cocok untuk diterima di sana. Belum lagi banyak sekali teman yang mensupport (dengan tujuan yang baik, sebetulnya) sambil mengatakan “Ah, orang kaya kamu yo, pasti diterima kok!”
Untuk mempersingkat cerita, mendadak rangkaian kata yang tampil di situs web sekolah tersebut menampar saya kembali ke realita.
ANDA TIDAK LULUS SELEKSI TAHAP 1.
Pada awalnya segala sesuatu terasa biasa saja. Muncul beberapa penghiburan diri seperti yang biasa tertera di buku-buku self help yang dijual di toko. Tapi waktu berlalu, malam datang, saya diam dan merenung, lalu rasa sakit itu barulah mulai terasa nyata.
Jika pembaca melihat betapa optimisnya saya kala itu. Jika pembaca bisa melihat betapa tingginya saya terbang. Mungkin, akan ada perasaan maklum saat melihat saya menangis tersedu-sedu di kala sujud. Kali ini bukan karena mengagumiNya atau takut masuk neraka. Hanya ada satu yang berkecamuk di dada saya: Mengapa? Mengapa, Tuhan?
Saya terus mempertanyakan pilihanNya. Padahal, beberapa jam sebelum pengumuman, dengan optimisme setinggi langit, saya berkata dengan diplomatis di notes Facebook: PilihanNya adalah selalu yang terbaik. Padahal, notes tersebut saya buat agar orang-orang yang tidak diterima bisa menerima kenyataan. Saya tidak menyangka bahwa ternyata sayalah yang akan menghadapi kenyataan pahit itu. Saya tidak menyangka bahwa saya malah yang mempertanyakan apa yang saya tulis itu. Apakah pilihannya memang selalu yang paling baik?
Banyak orang yang berkata bahwa sang waktu-lah yang akan menjawab dan memulihkan luka. Tapi waktu terus berputar dan ia mengacuhkan tangisan saya. Saya masih terus meratap berhari-hari sampai beberapa pemikiran menyerang hati dan jiwa saya sehingga saya bisa bangkit kembali, serta tersenyum dengan tulus.
—
Beberapa hari sebelum pengumuman, saya beserta teman-teman di bagian editorial untuk buku tahunan sekolah saya mengadakan pemotretan untuk cover buku tahunan tersebut. Kami masih kekurangan satu bahan lagi untuk properti, yaitu balon gas. Sepanjang jalan saya beserta teman-teman mencari penjual balon dan setelah kami hampir saja menyerah, muncul bapak-bapak dengan belasan balon warna-warni di tangan.
Saya berkata dengan spontan: “Inilah bukti bahwa Tuhan suka main-main, ya?”
Pikiran itu pula yang mampu membangun saya kembali. My God is a playful one.
Apa maksudnya ini? Tentu jika kita ingin membuat segalanya simpel, hidup kita hanyalah sebatas permainan The Sims dengan kompleksitas yang lebih tinggi. Mungkin Sim yang saya mainkan akan saya buat selalu sejahtera dengan bekerja tepat waktu, makan ketika indikator ‘Hunger’ mulai merah, dan sebagainya. Tapi kebetulan, sang pengendali diri ini membuat segala sesuatunya tidak semudah itu. Semua karena Ia adalah Tuhan yang suka bermain-main.
Jika saja Ia adalah Tuhan yang membosankan, Ia akan membuat penjual balon itu muncul ketika kami baru menutup pintu mobil. Ia pasti akan memasukkan teman-teman saya yang pintar dan “pasti-lulus-kalau-kamu-mah” dalam test yang kami ikuti itu. Ia pasti akan membuat segala hal di dunia ini bisa dimakan, sehingga tidak ada yang kelaparan. Ia akan membuat tanaman berbunga sepanjang tahun. Ia pasti akan menciptakan malaikat saja. Ia pasti akan menciptakan kebahagiaan saja.
Tapi bayangkan, jika semua hal bisa dimakan, apakah kita tidak akan dimakan oleh orang lain lalu mati sia-sia? Jika bunga mekar sepanjang tahun, apakah kita masih bisa merasakan indahnya daun gugur? Jika ia menciptakan kebahagiaan saja, apakah kita masih bisa merasakan betapa indahnya kesedihan?
Ada satu ungkapan yang melekat di otak saya ketika menulis ini, datang dari Bambang Harymurti ketika diwawancarai untuk buku Pergulatan Iman. Ia berkata, kelebihan manusia dibandingkan malaikat maupun setan adalah karena kita bisa memilih untuk menjadi apa. Jika kita memilih untuk menjadi baik, maka kita akan masuk Surga, dan sebaliknya untuk neraka. Hal yang menarik adalah, membuat manusia menjadi seratus persen jahat atau baik bisa juga dianggap melawan kodrat Tuhan, karena Ialah yang menciptakan kita dan menyuruh kita untuk memilih.
Lihat, bahkan ketika Ia menciptakan kita semua, Ia telah bermain-main dan menjebak manusia dalam kuis pilihan ganda tanpa akhir di sepanjang hidupnya.
Saya sadar sekali setelah itu, bahwa saya memilih untuk gagal. Mengapa begitu? Terbukti dari sifat saya ketika test yang sangat congkak, menganggap mudah. Saya sadar bahwa saat itu saya tidak lagi mempraktikkan Law of Attraction dengan berpikir positif bahwa saya pasti masuk, tetapi saya telah menjadi manusia yang takabur. Sombong.
Syukurlah Tuhan masih memberikan saya pilihan ganda lanjutan: Setelah kamu merasakan konsekuensi pilihanmu ini, apakah kamu tetap mau seperti itu atau mau berubah ke jalan yang lebih baik? Tanpa ragu saya melingkari pilihan B dalam hidup saya dan perlahan berubah, mulai menjejak tanah. Saya mulai kembali mempercayai bahwa jika saya berjalan sendiri, sepintar apapun saya, sehebat apapun prestasi yang saya punya, saya hanyalah sepotong Sim yang ditinggal oleh pengendalinya. Saya hanya bisa menunjukkan bahwa “Saya butuh makan!” atau “Saya ingin menikah!” tapi pada akhirnya, Ia-lah yang akan menekankan tombolnya bagi saya.
Tuhan memang membebaskan kita untuk memilih. Tapi kita semua harus sadar bahwa apa yang kita “pilih” dalam otak kita tidak sama dengan apa yang sebenarnya sedang kita pilih dalam tingkah laku dan perbuatan kita. Contohnya saja, banyak orang yang memilih untuk hidup sehat dengan tujuan agar ia bisa kurus (eits, jangan sangkut pautkan dengan pengalaman pribadi!). Tapi mungkin karena ia tidak tahu, ia salah memilih jalan. Ia malah meminum obat-obatan yang ia anggap bisa membuatnya sehat dan kurus. Tetapi apa yang ia dapatkan malah penyakit berbahaya.
Sama kasusnya dengan saya. Saya memilih untuk masuk SMA Negeri 3 Bandung. Tetapi dalam perjalanan saya salah memilih langkah dengan menjadi terlalu optimis. Akhirnya inilah yang saya dapatkan.
Hasil dari perbuatan kecil kita yang tidak kita sadari itu yang akhirnya saya namai dengan pilihan Tuhan. Kadang jika Ia bermurah hati, Ia akan membiarkan kita tahu dimana kesalahan kita, langkah apa yang salah. Tetapi kadang Ia terus membiarkannya rahasia, dan membuat kita bertanya-tanya. Padahal saya meyakini bahwa Ia tidak pernah usil apalagi jahat dengan menolak semua yang kita minta. Setiap apa yang Tuhan berikan pastilah merupakan akumulasi dari apa yang kita telah lakukan. Jalan apa yang sadar maupun tak sadar telah kita pilih.
Masa depan masih terbentang dengan sangat lebar di depan saya. Satu pintu Ia tutup, ribuan pintu kesempatan lain Ia bukakan. Saya sendiri tidak menganggap ini sebagai sebuah akhir, karena untuk masuk ke SMA Negeri 3 saja masih ada banyak pintu lain yang terbuka. Saat saya menulis tulisan ini, saya bahkan belum tahu nilai Ujian Akhir Nasional saya sebesar apa. Mungkin saja Ia menginginkan saya masuk melalui pintu kedua agar saya pernah merasakan seperti apanya jatuh. Saya yakin sekali jika saya bisa masuk melalui gerbang pertama kemarin, pasti saya akan terbang semakin tinggi lagi dan tidak pernah menginjak tanah. Saya akan sangat sombong dan bisa saja lupa seratus persen bahwa masih ada Tuhan yang maha segalanya, yang akan menekankan tombol untuk mengeksekusi hal dalam hidup saya.
—
Sungguh perjalanan singkat saya di Sekolah Menengah Pertama akan segera berakhir, tetapi sudah terlalu banyak anugerah yang ia limpahkan pada saya hingga saya tak mampu menghitungnya lagi. Anugerah tersebut kadang memang datang dalam bentuk yang begitu nyata, seperti sebuah handphone atau jam tangan baru. Tetapi saya juga sadar bahwa hal-hal yang paling remeh sekalipun bisa menjadi sesuatu ketika kita memaknainya secara berbeda.
Saya sendiri sesungguhnya tak sabar bercelana abu-abu panjang, dimanapun itu. Karena saya sadar bahwa akhir dari suatu perjalanan pasti akan menjadi awal dari suatu perjalanan yang baru. Saya sungguh tidak sabar menanti kejutan-kejutan seperti apa lagi yang disediakan oleh Tuhan saya yang maha playful itu. Jika saya memandang seperti ini, air mata-pun selalu terasa seperti berkah setiap harinya.
Untuk menutup tulisan ini, yang juga akan menutup perjalanan saya di SMP Negeri 5 Bandung, saya ingin mengutarakan sebuah keinginan kecil.
Harapan tersebut sederhana. Semoga saja kedewasaan, bertambahnya pengalaman, tidak akan membuat saya untuk berhenti bertanya dan mempertanyakan. Semoga saja, kejadian yang nantinya satu-persatu akan terungkap di hadapan saya dapat selalu menjadi ladang inspirasi untuk saya agar saya selalu bisa berbagi. Semoga saja, mata ini tak lelah untuk menelanjangi kenyataan yang kadang terbungkus dibalik berjuta bayangan yang semu. Semoga saja, jemari ini tak pernah letih untuk terus mencatat pergolakan pikiran. Dan semoga saja, hidup ini akan semakin menarik untuk dijalani.
Beberapa hari dari saat ini saya akan menghadapi pilihanNya yang terbaru. Seseorang dari DINAS PENDIDIKAN akan mencetak kertas dengan deretan angka-angka yang benar-benar akan menentukan jutaan pilihan baru bagi saya di depan. Angka-angka yang saya tidak tahu pasti berapa. Angka yang akan mengarahkan saya entah kemana.
Satu yang pasti, angka-angka itu tidak akan pernah salah. Saya yakin sekali mereka akan mengantar saya menuju sesuatu yang baik. Tepatnya, yang paling baik.
Karena hanya pilihanNya-lah, pilhan yang terbaik.
Comments
do i need to say more? we have discussed about this almost everyday. haha, the answer is within you, yo. and you know that very well. and good friend, you know i’ve always loved your writings. can’t wait to read your BOOK! CIHUJJJ CIEEEE!
too good for me to comment on it! beautiful…
gue tidak menyangka kalau tulisan sebijak dan seindah ini lahir dari tangan seorang yang masih cukup muda…dude, your still young… gue suka banget sama tulisan lo, inspiring one…
Jalan kebijaksanaan itu memang panjang dan berliku ya? Tapi, mari kita lalui bersama-sama. Saya juga masih harus terus berusaha menjadi orang yang baik nih. Beraaat!
hey, let’s make a shirt that says:
“I am a Sim.”
wonderful post. too bad this isn’t facebook, so there’s no ‘like’ button. lol.
saya sedang merasakan hal yang sama iyo.
saya mahasiswi D3 di kampus jalan dipati ukur 35
semester 6 alias semester terakhir
Tugas Akhir saya sudah selesai,
IPK saya diatas 3
tapi saya tidak bisa ikut sidang untuk segera lulus,
karena ada nilai saya yg mendapat E.
saya merasa gagal, mengecewakan orang tua saya.
ayah saya menganggap saya menyepelekan mata kuliah tersebut.
padahal sebenarnya tidak.
tapi saya tahu, Allah pasti selalu mempunyai alasan mengapa kejadian ini Dia limpahkan kepada saya.
agar saya belajar, belajar sabar, belajar ikhlas, dan belajar untuk tidak menyerah pada keadaan.
pertarungan blm berakhir kok yo
… msh ada tangga kuliah ..gw tau ditrima kuliah tdk tergantung SMAnya mana tp itu juga kl lulus hahaha~
tenang aja brur, dlm beberapa tahun ke depan msh ada pilihan pilihan yg lain …GOOD LUCK !!
saya juga gagal masuk ipa, tapi saya bersyukur karena saya yakin yang Tuhan kasi itu yang terbaik:D
“Semoga saja kedewasaan, bertambahnya pengalaman, tidak akan membuat saya untuk berhenti bertanya dan mempertanyakan.”
Bertanya, bagi saya, adalah gerbang menuju kedewasaan. Dan label kedewasaan itu pun akan terlepas seiring dengan munculnya pertanyaan berikutnya.
Good luck, Iyo.
ketika baca dari awal di otak saya udah muncul sejumlah comment yang ingin saya tulis. Tapi kemudian baca di bawahnya komen saya udah terjawab.
Dan begitu seterusnya sampai tulisan ini habis…dan saya pun cuma speechless…
Sungguh perjalanan singkat saya di Sekolah Menengah Pertama akan segera berakhir, tetapi sudah terlalu banyak anugerah yang ia limpahkan pada saya hingga saya tak mampu menghitungnya lagi.
hahahaha gue suka banget quote iniii
semoga lo jadi tambah dewasa di hari2 berikutnya
lebih nyadar diri (maaf) kalo di atas langit masih ada langit okeeeeeeey
ada orang juga yang bahkan bisa masuk kluster 1 juga engga.inget ga misi kita kalo ga masuk 3?:)
Alhamdulillah…senantiasa besrsyukur yah dek dengan apa yang menjadi milik kita
bagus.
Iyooo, tulisannya bagus banget, k’ Vinta sampe nangis bacanya (I can’t believe that you’re younger than me)
k’ Vinta doain semoga Iyo bisa masuk SMA 3 melalui jalur NEM. amin.(kalau memang itu yang terbaik buat Iyo)
good luck^^
w/ luv
~andhita vinta artika~
emang nemnya berapa bos
hm, sabar… semuanya Tuhan berikan yang terbaik bagi mahluk-Nya…