Pahlawan Pendidikan Bagi Saya – Bagian Dua.
by Wisnu Aryo Setio
“Semogalah, Masa Depan Lebih Cerah… Dam di dam di dam dam dam dam…”
Setiap kali saya menyalakan televisi dan menyimak satu persatu pariwara di setiap acara, saya pasti menemukan iklan ini. Cut Mini, sebagai Bu Muslimah, bernyanyi dan berdendang riang dengan logat Melayu. Merayakan sebuah kelegaan hati karena ada “Sekolah Gratis di sana-sini!”
Di akhir pariwara, muncul seorang bapak-bapak gagah yang berkata lantang “SEKOLAH? HARUS BISA!”
Hati kecil saya sebagian bahagia, tapi sebagian menjerit dan menghina dengan sinis. Harus bisa? Saya tahu, anggaran pendidikan kita SANGAT besar. Tapi apakah anggaran saja cukup untuk membuat kita bisa? Apakah semua bisa menjadi “bisa!” hanya gara-gara uang? Apakah gratis saja cukup?
Sudahlah, tidak ada gunanya mempertanyakan apalagi mempermasalahkan. Tidak ada masalah, dan tidak ada yang salah. Bapak-bapak botak “Harus Bisa” di televisi itu tidak salah. Bapak satu lagi yang hobi me”Lanjutkan!” juga tidak salah.
Mungkin satu-satunya yang salah adalah kebenaran itu sendiri.
Di zaman seperti ini, batasan salah dan benar yang kita pegang sepertinya sudah mulai berubah arah. Bahkan sesekali hanya ada sehelai benang tipis tak tampak yang membedakan keduanya. Hal ini juga saya temui dalam sistem pendidikan kita sekarang. Saya sudah bosan membahas soal benar vs. salah lagi. Saya tidak ingin mempertanyakan adil atau tidak adilnya sistem sekarang, seperti Ujian Nasional itu. Saya muak membahas antara jujur melawan kecurangan.
Yang saya butuhkan hanyalah harapan.
Harapan untuk dapat pergi ke sekolah, mendapat nilai yang sempurna tanpa berbuat licik dan semena-mena. Harapan untuk menjadi pintar yang sesungguhnya. Harapan untuk dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi. Harapan untuk dapat menjadi seorang hamba yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.
Tuhan memiliki banyak rahasia, dan sepertinya Ia juga memiliki malaikat dimana-mana.
Salah satunya, adalah seorang guru yang menjadi pahlawan pendidikan bagi saya, saat ini.
Beliau adalah Ibu Tati Solihati.

Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Setiap kali lagu itu berkumandang dari mulut saya, saya tidak pernah menganggap lagu itu sebagai sesuatu yang istimewa. Mungkin lagu itu bahkan hanya sebatas propaganda Orde Baru yang berusaha “memuliakan” guru yang dari dulu tak jauh dari Umar Bakri nasibnya. Tapi setelah saya bertemu dan mengenal ibu Tati Solihati secara pribadi, lagu itu sungguh menjadi bermakna bagi saya. Lagu itu terasa nyata.
Awal perjumpaan saya dengan beliau adalah di hari pertama kami masuk sekolah saat kelas sembilan. Saat itu santer kabar beredar, bahwa seorang guru fisika akan menjadi wali kelas kami. Sebenarnya saya, tanpa mengenal siapa beliau, tidak terlalu peduli. Tapi ternyata saat upacara pengumuman wali kelas, ketika nama 9G dipanggil lantang, berdiri seorang ibu guru, orang yang berbeda dengan apa yang tadi sudah santer dibicarakan. Beliau adalah ibu Tati Solihati.
Dari informasi yang saya tahu, beliau adalah seorang guru Matematika. Sepertinya saya sudah terlalu sering menyebutkan bahwa saya tidak pernah menyukai Matematika. Jadi sejujurnya saya biasa saja ketika mengetahui beliaulah yang akan mengajar saya dan teman-teman sampai satu tahun ke depan.
Semuanya berjalan biasa-biasa saja. Saya belajar, beliau mengajar. Matematika tetap saya lahap dengan penuh kejenuhan. Sampai suatu saat, seorang teman mengajak saya untuk belajar langsung di rumah beliau.
Saat itu saya menyangka, belajar bersama beliau akan sama membosankannya dengan sesi-sesi belajar yang melelahkan di bimbingan. Tapi saat saya masuk ke rumah beliau, duduk di meja makan multifungsi itu, lalu memperatikan apa yang beliau tulis di papan, saya terperangah. Terpana, terpesona, dan sekaligus tersadar.
Maafkan saya, bapak dan ibu guru. Sebelum bertemu dengan ibu Tati saya selalu berprasangka buruk bahwa les atau tambahan pelajaran hanyalah cara bagi guru untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Sebagai seorang siswa, saya sudah berkali-kali mengikuti pelajaran tambahan. Ada beberapa yang cukup membantu. Ada beberapa yang membocorkan soal ulangan. Dan banyak yang membantu menaikkan nilai keseharian.
Tapi belajar bersama ibu Tati berbeda.
Setiap kali saya memohon maaf karena telah merepotkan beliau, dengan senyumnya yang selalu lebar beliau akan berkata.
“Ah nggak apa apa… Ini sudah jadi kewajiban ibu…”
Kalimat ini memang jika ditulis oleh saya akan terlihat klise dan penuh basa-basi. Tapi jika saja Anda menyaksikan beliau mengucapkannya secara langsung, saya yakin Anda akan melihat dan merasakan hal yang sama dengan apa yang saya lihat dan saya rasa.
Kesungguhan dan Ketulusan.
Saya yakin masih banyak guru matematika lain yang lebih hebat daripada beliau. Masih banyak yang berpendidikan lebih tinggi dan bergelar lebih panjang. Tapi satu hal yang benar-benar saya kagumi dari pribadi seorang ibu Tati Solihati adalah kesungguhan dan ketulusannya dalam mengajar kami semua sebagai anak didiknya.
Kebanyakan orang matematika, selalu mengajarkan logika dengan cara yang logis. Satu ditambah satu akan menjadi dua, dan semua orang mau tidak mau HARUS setuju dengan hal itu. Inilah mungkin yang membuat orang-orang dengan tipe seperti saya mudah bosan dengan Matematika. Dalam pelajaran ini, sudah tidak ada lagi ruang untuk bereksplorasi. Segalanya sudah pasti dan tetap.
Tapi Ibu telah berhasil membuat pelajaran yang sungguh tegas dan dingin itu menjadi sesuatu yang menyenangkan, menarik, dan hangat. Dan kadang membuat kita rindu dan ingin terus mempelajarinya.
“Di zaman Ibu sih, anak itu cuma diberitahu rumus saja. Tapi Ibu nggak mau seperti itu. Ibu ingin konsep dasarnya dulu dikuasai. Makanya ibu sering kasih tahu kalau Iyo nanya asal usul rumus itu dari mana…”
Di kelas sembilan ini semuanya terlihat sebening kristal! Mengapa jika kita pindah ruas dalam persamaan linier harus berpindah tanda? Mengapa sudut elevasi segitiga membentuk sin cos tan? Beliau menjelaskannya secara perlahan, detail, dan jelas… Jika saya belajar di rumah beliau.
Tentu saya tidak akan menyalahkan beliau, tapi inilah cacat dalam sistem kita. Seorang guru, dipaksa harus membimbing sejumlah besar murid di beberapa kelas. Mengenalnya secara personal satu persatu. Bagaimana mungkin guru dapat mencurahkan semua perhatiannya untuk menangani manusia sebanyak itu dengan pribadi uniknya masing-masing?
Ibu Tati selalu bercerita tentang kelas kebanggaannya, Akselerasi 2005. Kelas tersebut adalah kelas yang sangat teristimewa karena hanya dihuni delapan orang. Tahun itu, ibu Tati adalah Wali Kelas Akselerasi. Saya tadi sempat melakukan googling singkat dan menemukan ini:
http://mirzaarfina.blogspot.com/2008/08/5-dari-8-anak-masuk-itb.html
Hmf..
Tadi siang aku ke sekola..Banyak yang pasang muka ceria.
(ktrima di snmptn gituloh!)
Tapi ada juga yang pasang muka sedih.
(belom beruntung mgkn..)Aku trmasuk anak yang pake muka ceria hari ini.
Alhamdulillah, aku bisa masuk ke fakultas yang dipengenin dari SMP.
Sesuatu yang bikin aku bangga.
1. aku anak axel smp5
2. 100% anak axel smp5 angkatan aku ktrima di ptn, ga ada yang swasta
3. 62,5% murid axel angk. 2005 ktrima di ITB
wuiii..
ikut seneng deh, tmantmanku berhasil smua..nih, rinciannya.
1. Ardian Yudo: FTMD ITB
2. Aulia Dewantari: STEI ITB
3. Elgi Firas Sugiyama: SITH ITB
4. Melon Fabian Gunawan Putra: STEI ITB
5. Mirza Arfina: Psikologi Unpad
6. Nurul Fitry: Sastra Jepang UI
7. Sandra Alfina: FTI ITB
8. Tyagita Amurwani Hidayat: Psikologi UnpadTapi sayangnya, gita ga ambil psiko unpadnya.
Pisah deh kita..
Dadah tmantman..
![]()
Sukses yah smuanya!
Mendengar berita (yang sudah cukup lama) tersebut membuat hati saya sangat bahagia. Ya, tangan bu Tati adalah tangan Midas. Saya yakin, dengan keikhlasan, ketulusan, dan kesungguhannya dalam mengajar, semua anak-anak yang diajarkan oleh beliau akan mendapatkan sesuatu yang tak terlupakan.
—
Ibu Tati tidak hanya memberikan ilmu Matematika kepada saya dan kawan-kawan lainnya. Beliau juga tidak sebatas menjadi harapan akan perubahan dalam sistem pendidikan di Indonesia ini. Tapi yang terpenting, beliau telah mengajarkan kepada saya dan kita semua untuk menjadi orang-orang yang berhati bersih dan berjalan lurus.
Pada suatu hari saya berjanji untuk belajar Matematika bersama teman, dan entah kenapa, mereka semua tidak jadi datang. Akhirnya saya belajar sendirian bersama beliau. Awalnya saya takut merasakan kebosanan dan tidak betah. Tetapi satu persatu kisah mengalir, mengantarkan saya belajar bab persamaan kuadrat yang sulit itu.
Ibu Tati sudah ditinggal oleh Ibunya semenjak beliau masih seumur saya. Beliau bercita-cita menjadi dokter, tetapi Tuhan telah menggariskan jalan beliau agar menjadi guru. Sudah tiga puluh tahun beliau mengajar di sekolah saya, dan sudah ratusan murid yang beliau ajarkan. Sampai saat ini, beliau adalah satu-satunya guru senior yang masih dapat berdiri tegak, tersenyum lebar, dan mengajar Matematika tanpa pernah jenuh.
Kisah singkat di atas semakin memperjelas bahwa hidup yang singkat ini seyogyanya dijalani secara lurus dan sebaik-baiknya. Ibu Tati tidak pernah sedih, walaupun cita-citanya sebagai dokter kandas begitu saja. Malah kita bisa melihat betapa besar dedikasinya dalam mengajar dan berusaha sekuat tenaga untuk memajukan siswa-siswinya.
Siapapun kita: guru, pelajar, penulis, musisi, politikus, aktor, atau presiden sekalipun. Jika kita menjalani peranan kita masing masing dengan ikhlas, tulus, lurus, dan penuh kesungguhan, niscaya kita juga bisa menjalani sebuah kehidpan yang bermakna, dan menjadi orang yang berguna.
Siapa yang tahu, jika saya terus menerus menulis dengan sungguh-sungguh, ada tulisan saya yang dapat menginspirasi Anda sekalian sebagai para pembaca yang budiman, seperti halnya ibu Tati menginspirasi saya untuk menulis hal ini.
Dan dunia akan terus berputar, dan kita akan terus saling berbagi satu sama lain. Itulah yang membuat kehidupan ini terasa dan layak untuk kita jalani.
Terima kasih banyak untuk segala-galanya, bu.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2009.
—
P.S. UJIAN NASIONAL SUDAH SELESAI! Alhamdulillah, walau sempat terjebak hasutan di hari pertama, di tiga hari terakhir saya berhasil bekerja sendiri dengan sejujur mungkin. Sebagai informasi, nilai Matematika saya dalam Pra-Ujian Nasional yang pertama kali hanyalah 6,2. Tapi kemarin, walau saya belum tahu skor pastinya, kesalahan yang sudah pasti saya perbuat HANYA ADA 2! Memang, ada ratusan anak yang mendapat sepuluh di sekolah saya. Tapi salah dua merupakan sesuatu yang luar biasa bagi seorang anak yang SANGAT MEMBENCI MATEMATIKA dan sangat lemah dalam mencongak, bukan?

Comments
semoga bisa masuk di tempat pendidikan yg kamu pilih ya yo
Semoga bu Tati terus semangat berkarya dan kamu jg, jangan berhenti sampai disini
salam kenal ya.
semoga impiannya tercapai
seneng banget punya murid kaya gini…
nice post, benar2 menginspirasi…
buat Iyo, jangan pernah berhenti bermimpi dan berjuang yah…
buat bu Tati, salut… Ibu benar2 seorang malaikat, andai guru-guru lainnya juga seperti ibu…
salam kenal,
masih banyak sebenarnya ‘Ibu Tati’ lainnya, yang pandai mengajar, namun banyak yang demikian kurang diperhatikan, hanya sebagai pegawai honorer, hidup pas-pasan atau malah terlilit hutang.
hei hei hei……….
entah siapapun dirimu nak..
*berasa tua*
tapi aku seneng blog aku dijadiin referensi.
anak smp 5 juga?
HAI ADE KELAAAAAAAAASSSS!!!
aduh itu blog ngga pernah aku buka lagi, hhahahaha!
udah bejamur deh kayanya..
Salaaaaaaaaaammmm.
Bu Tati emang oke
yoooo, aku suka deh cara nulis km. gatau kenapa ngeliat tulisan ini aku jd tbtb semangat gitu nulis autobiografi! (huahaha kaga nyambung emang)
four thumbs up, iyo! keep writing ya
p.s. semoga nilai uan km bagus yaaa biar dpt sma yang cocok juga sesuai kemampuan km AMIN AMIN!
Surprise sekali bisa melihat foto Ibu Tati Solihati, wali kelas saya dulu waktu kelas 3 SMP, lebih dari 20 tahun yang lalu.
Alhamdulillah beliau terlihat sehat difoto bersama Iyo. Semoga Ibu Tati selalu dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT, Amiin…
Hey iyo.. salam kenal. Saya Tyagita, alumni aksel 2005.
Saya terharu banget tau baca tulisan kamu & tau kalo Bu Tati bangga sekali dengan kami. Ya Allah..saya kangen banget Bu Tati..
Iyo, kmu angkatan berapa? Masih diajar oleh Bu Tati? Saya boleh gak titip pesan ke kamu? Seandainya saya gak sempet lagi ketemu Bu Tati.
Tgl 17 Agustus 2009 ini saya akan berangkat ke Jerman untuk kuliah. Tolong samapaikan ke Bu Tati soal ini. Satu lagi, tolong bilang, Gita sayang banget sama ibu, Gita sangat berterimakasih, tanpa ibu Tati Gita gak akan kaya gini. Maafin kesalahan Gita. Mohon doa & restunya untuk Gita.
Makasih ya Iyo..
NB: Iyo, minta alamat email ato facebook kmu dong.. Makasih ^ ^
hei.. ada gita..
Jumat kita ketemuan yah git..
di smp 5.
*maaf buat iyo, malah dijadiin tempat ngobrol. hhihiihii*
Eh..kumaha sih kalakah ngobrol.
Haha
Duh, Gita jangan desperado gitu atuh.
Kita nanti lebih desperado lagi.
(maaf ya, siapa namanya? Iyo ya? tapi Bu Tati memang wali kelas teladan. hehe)
hei ada Melon..
hhihihihihi..
*numpang reuni di blog orang*
wah iyooo
setuju banget, she’s the real hero! haha