Loading…
by Wisnu Aryo Setio

OUT OF TOPIC #1
Adakah sejarawan unggul yang bisa menjelaskan kepada saya, siapakah yang menentukan konsep waktu? Atau jangan-jangan sebenarnya hal ini sudah saya ketahui tapi saya lupakan begitu saja? Siapakah yang dengan semena-mena menentukan satu detik adalah sekian, datu menit adalah sekian, dan seterusnya? Lalu mana awalnya? Lalu kapan ujungnya?
Sudahlah. Topik tadi terlalu berat, kapasitas otak saya yang sudah setengah trance ini tidak mampu untuk berandai-andai sampai sejauh itu.
Saat ini, hampir semua manusia modern yang saya kenal di kota besar sungguh menjadi tidak sabaran soal waktu. Semua orang dikejar waktu. Bahkan saya yakin, deadline bagi sebagian orang yang bekerja akan jauh lebih menakutkan dibandingkan dedemit jenis apapun. Saya yakin.
Satu invisible-countdown-clock yang pasti dihadapi semua manusia adalah jelas, kematian. Mungkin selain itu, masing-masing manusia punya countdown dengan versi yang berbeda-beda. Kapan Ujian Nasional? Kapan Sidang Skripsi? Kapan Kerja? Kapan Kawin? Kapan Punya Anak? Kapan Punya Rumah? Kapan-kapan, kita berjumpa lagi.
Saya sendiri (ada yang masih ingat? lirik-lirik postingan sebelumnya dong!) masih terus menerus dikejar waktu. Terus menerus dihantui countdown menuju ujian nasional di mana-mana. Di tembok bimbingan belajar, di papan tulis kelas, sampai di profile facebook. Rasanya setiap detik menjadi begitu sia-sia jika kita lewatkan tanpa belajar. Tanpa rumus. Tanpa angka. Padahal siapa yang tahu, mungkin detik-detik yang saya pergunakan untuk belajar itu yang sia-sia. Sementara detik yang saya habiskan untuk melamun, justru malah mendadak melahirkan sebuah jalan cerita novel yang brilian? Mungkin.
Jadi kesimpulannya, saya sudah belajar satu hal. Waktu adalah uang. Waktu adalah emas. Waktu adalah… Segalanya! Eh, itu tiga ya?
—
Oke, pernah nonton film Click? (nyambung ya?)
Kalau bertanya sinopsis, imdb.com saja. Saya hanya ingin membahas sedikit ceritanya. Si tokoh yang bosan dengan kehidupan sehari-hari, akhirnya menemukan kebahagiaan ketika dia bisa fast-forward waktu. Saya juga ingin sekali memiliki kelebihan ini! Lewat saja bagian Ujian Nasional, langsung masuk SMA. Tapi coba lihat apa yang terjadi pada Adam Sandler di akhir film!
Dia…
Silahkan, imdb.com.
Sudah dibaca? Oke. Saya juga tidak mau hal menyeramkan yang dialami Adam Sandler itu terjadi juga pada saya. Tapi apakah kita sadar? Tanpa remote itu, kita mungkin sedang menekan tombol fast-forward selama ini.
OUT OF TOPIC #2
Pernahkah kita melihat?
Jawabannya tentu iya! Kecuali untuk pembaca yang membaca menggunakan braille, saya mohon maaf dan saya turut mendoakan yang terbaik untuk anda semua.
Tapi itu adalah jawaban yang muncul dari logika. Justru mungkin sebenarnya kita yang buta.
Untuk peragaan siapkan sekeping DVD (film porno SANGAT disarankan) dan sebuah player yang berfungsu dengan baik. Masukkan keping DVD, tekan play. Sudah?
Tekan fast-forward 25X.
Apa yang pembaca lihat? Apa yang bisa pembaca nikmati? (pertanyaan ini saya tujukan terutama untuk pembaca yang menuruti saran sesat saya di atas)
Sama saja seperti kita buta. Kita mungkin bisa melihat. Tapi apakah mungkin kita bisa menikmati? Apakah mungkin kita bisa benar-benar “melihat”?
Orang-orang yang hidup di jalur cepat, dengan ratusan deadline bertumpuk setiap saat, memiliki kebiasaan untuk memandang terlalu jauh ke depan. Berpacu dengan waktu. Titik tumpu mereka adalah masa depan, dan sekarang mereka sedang berlari untuk mencapai garis finish itu. Sayangnya, finish tak dapat diraih, start baru tak dapat ditolak. Tiba-tiba muncul deadline baru, tugas baru, yang membuat garis finish itu semakin menjauh lagi, dan kita harus terus berlari untuk mengikutinya.
OUT OF TOPIC #3
Pernah Berlari?
Pernahkah anda merasakan perbedaan lari untuk lomba dan lari untuk cuci mata?
Pada saat kita lari untuk lomba, kita menjadi terlalu goal oriented. Kita melihat lurus ke depan, mencari-cari garis finish. Kita tak peduli lagi apakah ada orang, atau ada binatang aneh. Yang penting gue mau finish dulu nih, gila, kebelet pipis! Itu hanya contoh. Sedangkan jika kita lari untuk sekedar cuci mata, pasti mudah sekali bagi kita untuk menemukan hal baru. Bahwa ternyata tetangga kita ganti mobil. Atau anak gadis Pak RT sekarang memakai jilbab.
Apakah sekarang kita terlalu sering mencari garis finish dan sudah lupa melihat ke sekeliling kita?
Dan akhirnya, sampailah umat manusia pada masa ini. Masa dimana waktu sungguh memegang peranan penting. Masa dimana kehilangan satu detik berarti kehilangan segalanya. Saya, hanya karena kelalaian mentransfer uang selama dua hari, terpaksa harus kehilangan kesempatan untuk menonton Jason Mraz dua kali. Pelari olimpiade, hanya karena kelalaian start 0,001 detik, terpaksa harus kehilangan kesempatan memenangkan medali emas.
Umat Manusia yang licik dan cerdik ini juga tentu mencari cara untuk main petak umpet dengan waktu. Kita harus bisa mengelabui waktu!
Dicipkatakanlah mobil-mobil bertorsi tinggi. Kereta magnet supercepat. Jalur bis tanpa hambatan. Sepatu lari dengan bantalan paling rumit. Internet. Facebook. Plurk. Sampai fenomena terakhir yang luar biasa dahsyat, Blackberry.
Untuk apa semua itu diciptakan? Atas nama waktu. Atas nama satu-satunya satuan yang tidak bisa kita putar kembali. Hanya untuk menyelamatkan detik-detik kita yang berharga.
Sekarang, lihat sekitar kita. Kita hidup di abad duapuluhsatu. Abad dimana kita bisa tahu seseorang yang ada di belahan dunia lain mendadak “In a Relationship”. Kita bisa tahu bahwa si Z baru pulang makan bubur ayam di Jalan Dago. Kita tidak sabar untuk men”colek” artis idola kita (ampun, ini sih dulu mimpi!) hanya dengan tekan tombol satu kali. Kita hanya butuh tiga menit untuk mencari tahu siapa yang menang Grammy Awards walaupun di kelas sedang ada ulangan Biologi (HAHA GUE BANGET!). Kita diberondong oleh perubahan status setiap tiga jam sekali. Kita ditembaki ratusan ping, buzz, nudge.
Mendadak saya kangen sekali melihat tulisan Loading.
Saya tahu mengapa tiba-tiba banyak orang yang rindu surat menyurat. Saya tahu mengapa tiba-tiba banyak orang yang rindu hidup di kampung.
Manusia butuh untuk terkadang rehat sejenak, menenunda sesaat. Delay, istilahnya.
Sekalipun waktu tidak bisa diputar kembali, tapi akan sangat melelahkan jika kita mengejarnya terus menerus. Karena waktu (menurut saya) bahkan tidak memiliki bentuk. Ia adalah cepat. Ia adalah lambat. Ia adalah waktu, yang seharusnya dinikmati dan bukan disesali apalagi dikejar.
Tadi saya baru saja menyantap Sashimi yang enak sekali rasanya. Entah atas dorongan siapa, saya tergerak untuk online di messenger, lewat telepon genggam biasa. Blam! Dua berita buruk menghantam saya secara TIBA-TIBA, menghilangkan semua kenikmatan sashimi tanpa sisa dari ujung lidah.
Saya mendadak kangen masa-masa dimana semua berita disampaikan dengan begitu terlambat.
Sebenci-bencinya saya dengan berita duka, saya lebih seuka mendengarnya dari Ibu Guru, pagi hari sebelum ketua murid memberikan salam. Dibandingkan harus menerimanya lewat BlackBerry Messenger ketika kita sedang asyik berkendara di jalan raya.
Vina Panduwinata pernah bernyanyi soal surat cinta kan? Bagaimana perasaan dia mencium amplopnya yang wangi, warna merah hati. Sekarang, apakah ada musisi yang pernah pernah membuat lagu “SMS Cintaku Yang Pertama”? Tidak. Itu karena perjuangan seorang laki-laki mencuri gincu ibunya, memakainya acak-acakan, lalu menempelkan bibirnya di kertas surat akan jauh lebih berharga dibandingkan beberapa sentimeter gerakan ibu jari untuk membentuk titik dua, strip, dan bintang (:-*). Lagipula, hari gini, siapa sih yang masih deg-degan nunggu SMS? Kalau di zaman dahulu kan muda-mudi kasmaran pasti deg-degan setiap pak pos lewat.
SUPER OOT!
Terakhir, berhubung saya sempat menyinggung soal lari dan BlackBerry, saya jadi terpikir sebuah analogi yang lucu. Mungkin cabang olahraga lari marathon tidak akan ada jika pada zaman dahulu tentara-tentara Yunani itu sudah sibuk bertukar PIN. Yuk mari.
Sekian, terima kasih.
—
Jadi kenapa kita masih menekan fast-forward? Eh, belum sadar? Maksudnya, kapan kita (saya sih, tepatnya) bisa jadi manusia yang bertumpu pada masa kini? Kapan kita bisa menjadi manusia yang bisa menikmati a “present” from God secara seutuhnya?
Terlalu banyak hal yang kita lewatkan ketika kita tak diberikan waktu untuk menunggu. Diam sejenak. Mengambil nafas. Sama halnya seperti loading di Internet. Ternyata, halaman yang kadang menyebalkan itu memiliki fungsi yang jauh lebih mulia. Sekedar untuk membuat kita berhenti. Siapa tahu, halaman website yang terbuka selanjutnya berisi rahasia-rahasia terbesar dalam kehidupan kita, seperti apa yang ditemukan oleh Gambir di dalam Herosase? (buat yang nggak ngerti, ini ngutip dari pintu terlarang! ooh, belum nonton? sama, saya juga!)
Kata-kata pamungkas dari saya,
Hanya Tuhan yang Tahu, karena Dia yang Memiliki Waktu.
—
Pesan Moral:
- Iyo lagi bete ngeliat countdown UN yang semakin kecil angkanya.
- Iyo pengen beli DVD player baru sama LCD 32 inci buat di kamar.
- Iyo bete banget gara-gara ga bisa nonton Jason Mraz hari Sabtu.
- Iyo lagi seneng banget lari pagi. Akhirnya.
- Iyo pengen beli BlackBerry.
- Iyo belum nonton Pintu Terlarang.
- Iyo denger dari kakaknya, loading facebook di Curve lambat banget ya? Apa beli yang Bold aja?
- Iyo keseringan baca ThursdayPeople.com, terutama tulisan-tulisannya kiaracaesaria. Jadi aja, kebawa-bawa nulis dengan tanda kurung tutup dan buka. (seperti ini contohnya, haha!)
- Iyo ngantuk. Off dulu ya, Plurkville!
- Iyo baru sadar kalau yang lagi dibuka itu WordPress, bukan Plurk.
Comments
Game-changer Post…..keren postingannya Yo
Waktu sesungguhnya konsep berputar yang tidak mungkin berbalik kembali. Ini berlawanan dengan manusia yang selalu ingin balik kembali dan membetulkan apa yang salah, mencari apa yang salah untuk membetulkan yang benar. Akibatnya kita ketergantungan. Bener kata Iyo, dengan berhenti sejenak dan menikmati waktu, kita akan lebih menghargai putaran detik itu. Namun disisi lain, ketergantungan manusia akan waktu dan batasnya adalah bukti bahwa kita sudah sangat sering berbuat salah sehingga kita mencari kebenaran. Dua-duanya merupakan keindahan.
Yo, ntar kalo S1 lulus S2nya ambil Filsafat ya….biar gak ilang probing mindsnya….kadang makin tua makin gak peduli ma perspektif sekitar.
iyo kangen loading?
maen the sims atau harvest moon aja. kan ada loading nya.
*HMM*
segalanya serba cepat, hidup yang serba mudah, kadang bisa bikin muak, dan juga bikin pengen balik ke zaman batu. mungkin setelah itu, kita bisa menikmati setiap konsep “detik” yang ada.
aah… I miss my idle life… =P
lately, i’ve been feeling like i have several days in one.
it’s bizarrely tiring.
belum nonton pintu terlarang?
tertarik untuk nonton bareng di bandung weekend ini?
sepertinya bakal segera hilang di peredaran bioskop kota Bandung …
Setengah trance….makanya otak jangan dipakai jep-ajep. *Dicakar*
Kayaknya kegiatan untuk overdo something menjadi sebuah bom bunuh diri lain selain malas belajar…Percayalah, 2-3 bulan kemudian kamu lupa semua yang kamu pelajari untuk UAN. Jadi untuk apa UAN, dong? *Dicakar lagi*
Temanku mengatakan, bukan pelajaran yang harus dihapalkan, tetapi pertanyaan UAN-nya. Yah, aku harus mengatakan ‘terkutuklah’ orang yang membuat soal – soal UAN, hanya untuk mendongkrak Mathematics Intelligence…
Ah, ya. Semua poin yang kamu bahas itu mengekor ke dua hal: Sekolah dan Kiamat. Untuk poin sekolah, coba cari buku yang dikarang oleh Yusran Pora. Kalau poin “Kiamat”, coba cari di Al-Qur’an.
Dan, Jaka belum juga nonton Pintu Terlarang.
Kenapa gak Superman aja contohnya? Atau Friday 13th. Dimana waktu bisa di UnDo. Hehehe…
wah tulisannya bagus ya, boleh di add gak facebooknya yo?
wah…tulisannya keren euy… belum nonton pintu terlarang ? udah baca novelnya sebelumnya ? geura nonton atuh, jang… sayang kalo dilewatin… huehueheuhe….
pemikiran yang bagus…
semangat buat UNnya yaaa..
yakin…kamu pasti bisa..
Waktu itu cuma satu dan sekali, tidak akan bisa kembali, walau satu milidetik.
Ujian Nasional itu proses, membelenggu waktu, persiapan dua semester dihujan soal empat hari kali 120 menit.
Tapi waktu itu bukan penjara, selama kita betah di dalamnya.
hi iyo..dah lama ni gak mampir ksini. mau komen yg OOT jg, boleh? hehe..
baca bagian akhir postingan ini saya agak takjub loh. Iyo lagi byk bgt yg dipengenin
DVD player baru sama LCD 32 inci
nonton konser JAson Mraz
pengen beli BlackBerry
meanwhile..someone out there mungkin cuma benar-benar kepengen satu hal
.bisa beli makan.
hmm..kamu patut bersyukur yo..
btw, sukses buat UN nya ya.
Am a big fan of urs. Bravo teruzz Iyo! Kecil2 dah pinter aja nih ulis,gimana gedenya ya. Indigo emang!!
Tulisannya sangat bagus, tepat sasaran dan menggambarkan dengan tepat situasi ‘sempit waktu’ yang dialami dan dirasakan semua penduduk JKT ini (termasuk saya)
Well …
Memang kadang2 loading itu sangat dibutuhkan untuk mere-charge jiwa karena keseringan dipake buat balapan takutnya engsel2nya pada soak dan jadi mogok. Semoga tidak terjadi pada Iyo agar UN nya lancar dan sukses ya!
Senang sekali melihat ada generasi muda yang bisa menulis sebagus Iyo
(dan saya langsung merasa tua)
Keep writing!
indeed!
sometimes we wish to have a remote control, to “fast forward” and ” rewind” our moments in life, but if we see it from other perspective, each moment makes us who we are today, so no need to regret something, it’s what makes you the way you are afterall.
for a fifteen year-old, you’re a great writer lho, blognya dalem dan berfilosofis (tsaah edaan)
salam kenal,
nindy
goodluck uannya yaa, semoga sukses n ketrima di sma yang bagus
tulisanya matab yo!……
tapi ngak semua hal yang cepat itu merugikan terkadang perspektif kita yang harus dirubah untuk menyikapi hal tersebut dalam memasuki abad duasatu ini,dimana dalam filosofinya,tehnologi berperan besar untuk memudahkan kehidupan manusia.hal itu sesungguhnya dibuat oleh manusia (yang kaya kita2 ini) agar kita bisa menekan tombol “slowmotion” dalam mengejar goal……
……mangkin sedikit “Loading”
…..semangkin banyak pula kita bisa “menghirup udara segar” karena goal yang kita capai dapat kita raih kurang dari jadwal yang semestinya kita lewati…..mungkin waktu tersebut bisa kita gunakan untuk nonton ‘pintu terlarang!’…hehehe……
terus berkarya ya