Seratus.
by Wisnu Aryo Setio
Seratus. 100. Hundred.
Dalam dollar, 100 adalah pecahan terbesar. Dalam rupiah, 100 adalah pecahan terkecil. Dunia ini memang penuh angka. Tapi angka-angka itu akan berbeda di setiap pasang mata manusia yang memandangnya.
Bagi saya, saat ini, hari ini, seratus adalah hal yang sangat sakral.
Seratus mungkin bisa saja diberi tambahan kata Rupiah. Atau Dollar. Atau Kilometer. Atau Kilogram. Tapi yang saya takutkan dan yang saya perjuangkan adalah kata seratus yang ditambahkan kata hari.
Seratus hari.
Untuk mempercantik dan mempertegas, mari kita tambahkan kata ‘lagi’
Seratus hari lagi.
Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama Tahun Ajaran 2008/2009.
Seratus hari lagi.
—
Seperti yang sudah saya sebut di atas, tepat 100 hari lagi dari hari ini, saya beserta ribuan manusia-manusia Sekolah Menengah Pertama yang duduk di kelas sembilan akan menghadapi sebuah kejadian besar. Sebuah peristiwa yang bisa dihitung luar biasa. Yaitu Ujian Nasional. UN, kami menyingkatnya. Kalau organisasi besar internasional itu biasa kami sebut dengan PBB. (HAHA)
Sepandai apapun seorang siswa, mereka juga memiliki kekhawatiran yang sama besarnya dengan yang lain yang kurang pandai. Mengapa? Ujian Nasional bukanlah perhitungan pintar atau tidak pintar. Bukan ajang adu jago atau tidak jago. Bukan menilai teliti atau tidak teliti. Ujian Nasional adalah akumulasi dari ribuan hal. Mulai dari faktor keberuntungan alias hoki, faktor kelihaian menekan pensil, faktor cuaca, faktor kesehatan, faktor perasaan, sampai bagi beberapa orang, faktor sinyal, pulsa, serta Inbox.
Ujian Nasional menurut saya tidak akan pernah bisa adil. Tidak akan. Akan ada banyak sekali hal-hal kecil yang mungkin saja membuat kita berjaya, atau naudzubillah, membuat kita tak berdaya. Divine Intervention akan terjadi secara massal. Banyak anak-anak yang mungkin kesulitan, secara mendadak mendapat bantuan dari langit. Tapi mungkin anak paling jenius di kelas baru saja mendapat musibah, sehingga kondisi mentalnya sangat terpukul. Inilah wajah sebenarnya dari Ujian Nasional. Potret dari sebuah ketidakadilan dalam menilai kapasitas otak seorang manusia.
Lalu sekarang sistem apa yang dapat adil? Saya tidak tahu, saya bukan Menteri Pendidikan. Yang saya tahu, perjuangan seorang siswa di sekolah memang tidak mudah. Memang banyak yang cuma bermain-main saja, ada juga yang serius belajar. Tapi kami semua sudah menghadapi ribuan soal, ratusan tugas, puluhan ulangan serta ujian. Saya rasa, akan sangat tidak adil jika semua yang kita bangun dalam waktu tiga tahun itu hanya ditentukan dengan empat hari ujian.
Belum lagi, kecerdasan manusia memang berbeda-beda. Saya yakin banyak sekali teman saya yang tidak tertarik Matematika tapi mungkin berbakat olahraga. Banyak juga yang tidak bisa berbahasa Inggris tapi luar biasa dalam sastra Indonesia. Saya senang mengutip perkataan dari guru Bahasa Inggris saya.
“Seorang jenius bukanlah orang yang bisa menguasai banyak sekali hal dengan sedikit-sedikit, tapi merupakan seseorang yang memiliki cukup satu atau dua bidang yang ia tekuni. Dan bidang itu ia kuasai seluruhnya, serta ia bisa berprestasi di dalamnya.”
Tidak semua orang ingin jadi Insinyur. Tidak semua orang ingin jadi Dokter. Tidak semua orang ingin masuk ITB. Sampai saat ini saya sangat menghargai hal itu.
Tapi untuk bisa mendapatkan pendidikan di sekolah yang berkualitas bagus, kita harus bisa menguasai semuanya. Kemarin guru saya mentargetkan, kami semua harus mendapatkan nilai 10 di pelajaran Matemataika. Baiklah, saya hanya bisa menahan nafas. Saya sudah tahu bahwa di sekolah kami, kami tidak mengejar kelulusan. Semua anak memang yakin lulus. Tapi ini adalah kontes adu angka. Sembilan itu tidak cukup. Tidak akan cukup. Sepuluh adalah sebuah standar. Sekolah saya sudah beberapa tahun mempertahankan rekor, sebagai sekolah dengan grafik prestasi yang terus meningkat. Semua guru dan orang tua siswa tentu ingin kalau sekolah kami terus dan terus meningkat lagi. Anak-anak juga bukannya tidak peduli, tapi malah sibuk berebut kursi. Gichie sahabat saya pernah berkata (yah, elo kesebut lagi chie!):
Ini bukan sebuah perjuangan untuk mendapatkan kelulusan. Ini adalah perang bintang untuk mendapatkan kursi di Tiga.
Kelinci Putih – Tee Minus One Month
Oke, dia berhasil menang perang. Dia lulus, dia diterima di Tiga, dan dia menjadi humas OSIS.
Tapi apakah Tuhan juga memberikan hasil yang sama bagi saya dan teman-teman saya di Ujian Nasional kali ini?
Sebagai seorang siswa tidak berdaya, satu kunci yang saya pegang sampai saat ini adalah untuk berserah diri kepada Tuhan. Saya tidak punya kunci yang lain. Apalagi kunci jawaban IPA dan Matematika. Kalau ada yang punya, Inbox e-mail saya di simplyiyo@gmail.com selalu terbuka dua puluh empat jam!
Haha, kidding.
–
Seratus hari lagi juga merupakan sebuah simbol bahwa saya harus berhenti sekaligus memulai. Saya harus berhenti memelihara sifat saya yang hobi menunda-nunda. Saya harus memulai untuk belajar, walau dari hal yang paling kecil sekalipun. Seperti apa yang saya tulis di tulisan sebelumnya, saya percaya pada perubahan.
Sebelum saya membaca tulisan Mas Mraz (yang akan saya tonton pada tanggal 6 Maret nanti di Jakarta, woohoo!), saya selalu percaya bahwa saya adalah orang yang *ehem* berbakat di bidang yang berhubungan dengan huruf, tapi sangat bodoh di bidang yang berhubungan dengan angka. Jika saya kesulitan dalam hal Matematika, dengan mudah saya berdalih. “Wuetss, gue sih ga jago ngitung. Gue jagonya nulis sama ngomong.”
Saya tahu, kalimat di atas sangat buruk. Pertama karena saya sangat sombong (Nulis aja ga jago-jago banget!). Kedua karena dengan mengucapkan kalimat di atas tadi saya sudah tidak sejalan apa yang pernah saya ucapkan. Seperti menelan ludah sendiri yang sudah dibuang ke lantai! (Ini juga merupakan kalimat andalan saya di acara kaderisasi OSIS beberapa bulan lalu, dan sekarang saya terkena getah kalimat ini)
Maka itu, saya harus percaya bahwa saya bisa berubah. Salah, bukan cuma bisa, tapi PASTI BISA! Bukan cuma pasti bisa, tapi HARUS BISA! Saya harus percaya kalau saya bukan cuma manusia yang diberi kelebihan di bidang huruf, tapi saya juga harus jago menari bersama angka-angka dan rumusnya yang luar biasa. Saya harus yakin bahwa Ujian Nasional akan bisa saya lewati walau dengan perjuangan. Saya harus yakin bahwa saya bisa jadi anak yang jujur. Saya harus yakin!
Tapi saya juga harus sadar bahwa tinggal seratus hari lagi saya akan berada di Sekolah Menengah Pertama. Ya, saya memang ingin segera bercelana panjang abu-abu. Tapi walau begitu, sejujurnya banyak sekali yang saya dapatkan selama tiga tahun ini.
Seorang Iyo, yang asalnya merupakan Ario. Yang asalnya masih udik melihat ada WC berdiri (urinoir) di sekolah. Yang jujur, lugu, polos, agak kampungan malah. Yang kadang tersesat bersama ratusan anak lain dalam sebuah perjalanan mencari identitas.
Sampai sekarang disinilah saya, mengetik tulisan ini. Menyukai menulis, ngeblog, plurking, dan suka lagu Jason Mraz serta Efek Rumah Kaca. Berhasil membuktikan diri sebagai orang nomer satu di sekolah (maksudnya, ketua OSIS). Berusaha untuk tetap menjadi seorang Iyo, yang netral. ditengah teman-teman yang selalu menginginkan perubahan ke satu arah tertentu.
Hal-hal seperti inilah yang membuat saya akan sangat merindukan masa-masa SMP. Saya akan merindukan ruangan ekskul saya, Info5, yang pernah dilengkapi internet unlimited dan ruang rahasia untuk bergosip. Saya akan merindukan ruang OSIS tempat pernah meledakny tawa dan tumpah air mata. Ruang OSIS yang “bukan-RO-namanya-kalo-nggak-berantakan”. Saya juga akan merindukan Teras Biru yang teduh itu. Tempat untuk menunggu atau ditunggu. Tempat untuk melihat hujan dan bernyanyi lagu.
Saya akan merindukan orang-orangnya. Guru-gurunya. Teman-temannya. Tanamannya. Baunya. Buku-buku perpustakaannya. Hotspotsnya yang ada tiga. Saya akan merindukan semuanya.
Mungkin ini adalah sebuah tulisan perpisahan saya dengan masa Sekolah Menengah Pertama. Seperti yang kita semua tahu, saya adalah penulis yang sangat mood-oriented. Dan saat ini, sampai seratus hari ke depan, saya hanya ingin untuk berkonsentrasi. Untuk bisa belajar lebih keras sekaligus lebih cerdas lagi.
Seratus hari. Hanya seratus hari lagi sampai momen itu.
Sudah siapkah kamu, Iyo?
Comments
“Tidak semua orang ingin masuk ITB”
saya sangat sangat sangat setuju sekali hehehe …
sukses UN-nya yo (bukan UAN lagi ya namanya?)
yah, jadi inget UN kan males main komputer jadinya
wow.
gw juga tanggal 6 ke JJF nontonin MR. A- Z
see yaa
ayo smangat UN nya!!
weits, gue tanggal 7 maret latihan ISDC di tanjung duren
seratus hari buat lo, seratus hari sekitar satu bulan buat gue kali ya?
haha.
good luck, bro!
goodluck, yo. UN itu emang masalah keberuntungan. jangan cuma belajar. tapi juga berdoa.
4 hari yang bikin stres ya? kalo inget waktu UN kemaren bikin mau nangis hehehe.
goodluck, sekali lagi.
jadi sedih….. only 100 days left to enjoy the freedom….. y… moga2 hari itu cpat selesai…. jd g ada masalah lg…
once again…
visit ghostycorp.blogspot.com
enjoy the fun inside!
wow,, gw br prtama baca blog lo
dan..
wow..asik!
Yah…bro,sama sama kelas 9.
Lagi lagi blognya nak nak bandung mang keren…
Imajinasinya luh..khayalan tingkat tinggi bgt!
Hitung mundur. Buat prioritas. Belajar dengan keras. Ikhlas.
Selamat Berjuang!
seratus tu pasti kerasa cepet bangett, yo…!
)
Smangat yaa
doa nya yg banyakk…,
satu kunci buat memerangi soal un adalah kerjasama (antar teman) yo,,,
dua tahun lalu gue juga begitu, maksudnya…
KITA NGGAK BELAJAR SENDIRI2, MESTI SELALU SHARING,,,
dulu b.inggris gue nol besar, tapi akhirnya berkat ada inisiatif temen gua yang ngajakin anak2 untuk les bareng dan intensif belajar cuma tiga bulan, angka 10 di ijazah gampang banget kok didapet….
jadi intinya kerjasama, jangan sendiri2 jalannya kalau udah merasa pintar ajak temen lo untuk belajar,,,
gitu ajah kok kuncinya
dan alhamdulillah yang tadinya lebih dari 50% dinyatakan nggak lulus un pada saat uji coba un dari pemerintah, malah angkatan gue dapat nilai dengan rata2 un paling kecil sekitar 8 (bukan dapat bocoran loh, hanya kerjasama)
salam,
reza
suksesss buat UNnya ya kak iyooooo… iih, namanya mirip kaka sepupu Ical, iyaaakkkk…jangan-jangan jodo kak, hihiiii…
salam kenal dari Ical (the chubby family), -written by bunda-na Ical-
iangat UN, jadi pengen belanja, ekh salah, belajar maksudnya.
salam kenal kunci lulus un smp dan dapat nilai bagus, kerjain soal2 tahun sebelumnya sebanyak-banyaknya, karna soalnya selalu setipe kok,mm setidaknya itu 2 tahun yang lalu ya. OK good luck!
wah, emang bener ini…
saya juga pernah posting hal yang sama…
UN emang begitu ga adil. sehingga implementasinya malah membodohi pelajar.
sungguh, kebijakan yang sungguh tidak berkelas