Selamat, Tody!
by Wisnu Aryo Setio
“Terima kasih banyak. Terima kasih banyak. Istri saya nggak bisa berhenti senyum. Dia bilang, ini pesta ulang tahun terbaik yang pernah dia alami sepanjang hidup. Dia bener-bener nggak nyangka bakal ada kejutan kayak gini.”
“Sama-sama, pak. Saya senang bapak mau menjadi klien kami.”
“Saya juga nggak percaya, bapak mau langsung datang untuk memantau acara langsung. Saya kira, bapak pasti sibuk di kantor.”
“Ah, nggak. Saya memang suka melihat langsung kerja anak-anak buah saya. Lagipula saya harus ketemu client juga di Starbucks. Oh iya, gimaa tadi, video pendek buatan kami sudah cukup bagus? Kuenya enak?”
“Wah, bagus sekali pak. Saat credits mulai rolling, istri saya sudah hampir berdiri, eh tiba-tiba ada film pendek. Saya sendiri juga nggak nyangka bakal sampai sebegitunya. Sekali lagi, terima kasih banyak.”
“Saya senang mendengar bapak dan istri bapak senang.”
—
Tody memegang handphonenya sambil mondar-mandir. Ia terus-terusan melihat angka angka penunjuk waktu. Bukan jam yang ia perhatikan, melainkan tanggal. Baginya, melihat deretan angka itu membentuk seperti ini adalah sesuatu yang langka. Sama langkanya dengan getar dan bunyi yang masih ia tunggu.
Ia memutuskan untuk mencuci muka dan turun saja ke lantai lima. Ia ingin berenang, menenggelamkan dirinya dan semua penantian kosongnya dalam air berkaporit. Segera ia melangkah keluar dari pintu. Tiba-tiba seorang cleaning service menghampirinya.
“Pak Tody… Kamarnya mau dibersihkan?”
“Oh… Nggak usah.”
“Baik pak. Oh iya, selamat ulang tahun. Langka ya, saya bisa ucapkan seperti ini ke bapak. Beda sama penghuni-penghuni lain di sini.”
Tody tersenyum.
“Ternyata kamu teliti kalau lihat kalender, Jang. Terima kasih.”
Senyum Tody mendadak luntur setelah ia berbalik muka. Ia menuju lift, dengan wajah yang semakin suram saja.
Ketika ia masuk, lift itu mendadak macet. Entah kenapa.
Selamat Ulang Tahun, Tody!
—
“Halo, betul ini kantor Voila Event Organizer?”
“Betul, pak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Anak saya besok ulang tahun yang ke-19. Bisa nggak dibuatkan surprise party?”
“Wah, besok ya pak? Sepertinya sulit, tapi coba saya konsultasikan dengan pimpinan kami dulu.”
*
“Halo. Mbak… mbak… sepertinya saya nggak jadi saja.”
“Lho, kenapa pak? Padahal ternyata schedulenya sudah kosong.”
“Saya nggak ada uangnya.”
“Wah, tapi biaya kami tidak mahal kok pak. Untuk sekedar planning tanpa booking lokasi dan menyebar undangan, biasanya hanya kami charge sekitar satu juta saja, itu juga bisa nego.”
“Mahal sekali, Mbak! Kalau begitu lebih baik saya datang langsung besok ke rumah anak saya, nggak usah pake kejutan. Lumayan, uangnya bisa buat dia kuliah.”
“Oh, bapak nggak niat nego dulu?”
“Mmm…”
*
“Halo? Pak, ternyata biayanya bisa gratis.”
“Wah, bener, Mbak? Masa sih?”
“Ya betul pak. Pak Direktur ternyata ingin langsung menangani pesta anak bapak. Bapak tinggal sebutkan alamat dan waktu kosong untuk persiapan bersama kami saja. Besok pak Direktur akan datang.”
“Alhamdulillah! Semoga bapak Direktur yang baik itu dapat balasan dari Allah!”
—
Tody sudah kehabisan akal. Tugas dari salah satu dosennya yang harus ia kumpulkan hari ini belum selesai dicetak. Tengah malam terlewati. Ia duduk dengan segelas kopi yang mulai dingin di tangannya. Menunggu mesin keparat bernama printer itu menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Di saat-saat seperti ini ia selalu terbayang-bayang teman-temannya yang lain. Yang bisa dengan mudah mencetak kertas-kertas itu dengan mudah di rumah masing-masing. Tinggal menunngu sambil tidur di kasur empuk, dan keesokan paginya kertas-kertas itu akan tersedia. Ia iri.
Tapi setelah melihat sang penjaga rental komputer merobek kalender. Hari ini, setelah bertahun menunggu, kalender itu menunjukkan angka dan bulan yang begitu ia tunggu, tapi begitu ia benci. Rasa iri dalam hatinya tambah menjadi-jadi.
Beberapa hari yang lalu, kampus Tody sempat dihebohkan oleh sebuah pesta ulang tahun. Memang, pesta yang satu ini benar-benar luar biasa. Bayangkan, tiba-tiba sebuah grup band yang waktu itu sedang sangat naik daun, didatangkan mendadak ke lapangan basket kampus. Mereka tiba-tiba bermain secara akustik, spesial untuk salah satu anak dari jurusan lain. Yang memanggil band itu adalah pacarnya, dengan uang pribadinya sendiri.
“Mas, printer kita kayaknya habis tinta.”
Tody masih melamun.
“Ini, hasil cetakannya.”
“Apa, mas?”
Gelas kopi itu menumpahkan sebagian isinya ke atas kertas-kertas yang masih hangat, baru selesai diberi tinta.
“Aww, shit!”
Selamat Ulang Tahun, Tody!
—
“Pak, minggu ini saja kita dapat tiga belas order pesta! Saya rasa, kita harus tambah karyawan.”
“Silahkan, gimana baiknya menurut kamu. Tapi di recruitment test kita, saya ingin kita tambah satu syarat.”
“Apa itu, pak?”
“Siapapun dia. Melamar di posisi apapun. Orang yang ingin bergabung bersama Voila harus punya kemampuan untuk…”
“Pak?”
“Mengingat ulang tahun orang.”
—
Tody hari ini belajar soal tahun ganjil di kelasnya. Ia yang saat itu masih sangat muda dan polos sempat tidak percaya kepada konsep ini. Menurutnya, waktu tidak pernah punya hitungan yang pasti. Siapa yang tahu, selain Tuhan? Lagipula menurutnya penanggalan kalender itu hanya akal-akalan bangsa Romawi saja saat itu, supaya kalender tetap seimbang.
“Jadi, anak-anak, ada pertanyaan soal tahun ganjil?”
“Emm… Pak, kalau orang yang lahir di tahun ganjil, gimana?”
“Ya biasa saja. Memang kenapa, Tody?”
“Bukan, pak! Maksud saya, hari ganjil. Seperti hari ini pak, 29 Februari.”
“Kamu ulang tahun hari ini, Tody?”
Ia mengangguk.
“Pak, Tody pasti kena kutukan! Dia nggak akan bisa nambah tua. Nambah umurnya empat tahun sekali!”
“Hah, apa? Kamu bener?”
“Tody kena kutukan! Tody nggak bisa tua! Huuuu. Jangan deket-deket Tody, nanti kita kena kutuk juga!”
“Tody, jangan percaya, kata-kata teman kamu tidak benar!”
Tody menangis.
Selamat Ulang Tahun, Tody!
—
“Selamat siang, Pak.”
“Selamat siang juga, mbak.”
“Kami dari majalah BusinessWeek Indonesia. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan.”
“Oh, silahkan mbak. Tentang apa ya?”
“Saya ingin tahu, ide membuat event organizer spesialis Surprise Party ini masih cukup langka di Indonesia. Saya ingin tahu, alasan bapak mendirikan usaha semacam ini. Apalagi di usia bapak yang masih sangat muda.”
“Yaa… usaha ini sebenarnya saya dirikan sebagai ajang balas dendam saja. Ada hal-hal yang tidak pernah saya dapat, dan saya ingin memberikannya pada orang lain.”
“Maksud bapak?”
“Bagi saya, kata Selamat Ulang Tahun itu mewah. Langka. Sangat spesial. Di zaman yang begitu modern seperti ini orang punya banyak sekali cara untuk mengucapkannya. Mulai dari telepon, sms, atau sekedar memberi Wall di Facebook. Tapi, lama-lama ucapan ulang tahun itu sudah tidak terasa lagi jika cuma sekedar huruf-huruf maya saja. Saya ingin sekali orang-orang mendapat kembali perasaan spesial itu. Caranya… ya dengan membuat pesta kejutan.”
“Tapi selain itu, nggak ada alesan lain? Pribadi, mungkin?”
“Sebenarnya sih ada. Memang bagi saya kata Selamat Ulang Tahun itu langka sekali. Pertama, saya lahir di tahun ganjil. Tepatnya di hari ganjil, 29 Februari. Jadi orang-orang bingung jika dipaksa menyimpan nama saya di kalender mereka. Dan mereka juga bingung ketika harus mengucapkan, tanggal 28 atau tanggal 1? Selain itu setiap kali 29 Februari tiba, empat tahun sekali, hari itu selalu berubah menjadi hari yang buruk. Seperti contohnya, tadi pagi saya ingin berenang, tiba-tiba lift apertemen saya mati. Dan banyak setiap empat tahunnya. Ini yang mendorong saya untuk menciptakan ulang tahun yang sempurna bagi orang lain. Karena saya tidak ingin mereka merasakan apa yang saya rasa selama ini.”
“Wah, menarik sekali kisah Pak Tody. Oh iya, selamat ulang tahun juga bagi bapak. Yang ke berapa, pak?”
“Delapan tahun.”
“Hahaha bapak ini jago bercanda ya! Eh, tapi pak, sepertinya…”
“Ada apa?”
“Voice recorder saya belum menyala tadi. Bisa ulang lagi dari awal?”
Selamat Ulang Tahun, Tody!
—
Tody terlahir sebagai seorang bayi laki-laki yang tampan. Kulitnya yang merah baru saja merasakan seperti apa debu-debu dunia. Tapi, baru beberapa menit ia lahir, wanita yang melahirkannya meninggal dunia. Saat itu, jam menunjukkan pukul dua belas lebih sepuluh menit. Suster di front office baru saja merobek kalender. Di atasnya, tertera 29 Februari 1976.
Selamat datang di dunia nyata, Tody! Apakah kamu percaya kutukan?
Bandung, 4 Januari 2009, 01:03 AM.
Selamat Ulang Tahun, Iyo!
Comments
gloomy banget…dari awal sampai akhir, ngga ada ultah yang berkesan, jadi sedih…coba si tody dapat ultah berkesan yang bisa mengubah cara pandangnya terhadap ultahnya sendiri. sinetron banget c, but i love happy ending. =p
wow. menarik. salam kenal ya iyo, udah sering mampir tapi baru ngomen
- fenny : haha saya juga suka happy ending, tapi saya ga bisa nulis yang happy ending. gimana dong?
- tirtir : halo jugaa! hehe.
keren bgt, penulisannya asik, uda sering baca-baca tapi baru ngomen
.awesome story.
.awesome flashback.