<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>WISNUARYOSETIO</title>
	<atom:link href="http://simplyiyo.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://simplyiyo.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Jun 2010 16:01:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>I Have Forgotten What It Feels Like to Write a Long Post in English.</title>
		<link>http://simplyiyo.com/?p=176</link>
		<comments>http://simplyiyo.com/?p=176#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 16:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wisnu Aryo Setio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyiyo.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Dearest blog, The television in my room is still buzzing like a bee, airing a World Cup match between Argentina and Nigeria. I&#8217;m not a huge fan of sports, especially football, but it feels nice to join an euphoria with a plethora of people you love around you, right? In fact, I&#8217;m not watching the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dearest blog,</p>
<p>The television in my room is still buzzing like a bee, airing a World Cup match between Argentina and Nigeria. I&#8217;m not a huge fan of sports, especially football, but it feels nice to join an euphoria with a plethora of people you love around you, right? In fact, I&#8217;m not watching the match at all. I&#8217;m trying to regain my capabilities in writing. Yeah, right. Not writing as in arranging words, but more like&#8230; typing. Lately I&#8217;ve been jumping from gadgets to gadgets, from flat touchscreen to QWERTY thumbpad. But it feels so nostalgic when I decided to type this unimportant post in my reliable old notebook. I was kinda surprised when I found out so many typos in this post that I have to fix. I&#8217;ve lost my chemistry with this white keyboard, I guess&#8230;</p>
<p>Anyway, life has been treating me so well these days. Did I tell you that I broke up with my ex? Finally, after almost three years of unhealthy relationship, I was brave enough to let everything go. Being single and free gave me a lot of new insights about life. For me right now, I&#8217;m gonna share the abundant amount of love I have, not only with a single girl, but with everyone around me. Especially my newfound bestfriends who have helped me through a lot of deep shits. I love them, blog. I really do.</p>
<p>And I haven&#8217;t even started talking about debating. That&#8217;s also one of my new passion, blog. I have reached a national champion title after debating for&#8230; eight month. That&#8217;s fantastic, right? More like unbelievable, for me. With this limited English skill I have, winning two consecutive championship in 20 days is merely a miracle.</p>
<p>Newsflash: Argentina win.</p>
<p>Okay, back to my life. I guess the only reason why I started mumbling to you is because my BlackBerry&#8217;s broken. Usually, I share all my thoughts, even the most random one, to Twitter. That frikkin&#8217; website is so addictive until a lot of writers have forgotten to write on their blog. I&#8217;m one of them. I&#8217;m sorry, blog. Please bitch-slap Twitter for me.</p>
<p>I remember few years back, I went to Jakarta for an interview, because of you. I&#8217;ve stepped in to my 30-minutes-of-stardom. It&#8217;s all because someone likes you, blog. But right now what I have in Twitter is just daily musings, sometimes filled with profane words. I have forgotten how to write an idea properly, blog. And yeah, I&#8217;m sorry that I&#8217;ve disappointed you. You have failed to transform yourself into a book. My publisher refused to print you because they said that you won&#8217;t sell. I know, you&#8217;re too good for these unstable teenagers these days.</p>
<p>Blog, I should start writing again. I still have stories left untold and word left unsaid. I miss them, blog. I miss playing with my own imagination.</p>
<p>And mostly, I miss you.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyiyo.com/?feed=rss2&amp;p=176</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lilin</title>
		<link>http://simplyiyo.com/?p=167</link>
		<comments>http://simplyiyo.com/?p=167#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 17:24:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wisnu Aryo Setio</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyiyo.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[  Akhirnya setelah berkontemplasi cukup lama, saya memiliki sesuatu yang layak saya jadikan harapan saya tahun ini. Mungkin harapan ini akan terdengar sangat sederhana. Tapi bagi saya, harapan yang ini jauh lebih sulit dilaksanakan dari harapan-harapan saya yang lain: Saya hanya ingin melukiskan senyum di wajah orang-orang yang saya cintai. Rupanya, selama ini saya hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: center;"><img class="alignnone" title="lilin" src="http://thecupboardmouse.files.wordpress.com/2009/08/birthday-candles.jpg" alt="" width="468" height="274" /></div>
<p> </p>
<p>Akhirnya setelah berkontemplasi cukup lama, saya memiliki sesuatu yang layak saya jadikan harapan saya tahun ini. Mungkin harapan ini akan terdengar sangat sederhana. Tapi bagi saya, harapan yang ini jauh lebih sulit dilaksanakan dari harapan-harapan saya yang lain:</p>
<p><strong>Saya hanya ingin melukiskan senyum di wajah orang-orang yang saya cintai.</strong></p>
<p>Rupanya, selama ini saya hidup bersama puluhan cermin yang saling berefleksi satu dan lainnya. Satu senyum yang terlukis akan melukiskan seribu senyum lain, dan satu air mata yang terjatuh akan meneteskan ribuan tangis lainnya.</p>
<p>Maka itu, saya hanya ingin membalas senyum mereka semua. Saya ingin menjadi sang cermin yang memantulkan kebahagiaan. Energi yang positif. Kebaikan. Saya selalu berusaha berhenti menjadi orang yang saya tidak sukai, tetapi selalu gagal. Mengapa? Usaha saya kurang keras.</p>
<p>Tahun ini, saya harus berusaha lebih keras lagi.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><big>1.</big></p>
<p>Kebanyakan orang yang mengenal saya cukup dekat, pasti bisa mengetahui apa-apa saja sifat buruk saya. Yang cukup kentara, gemar bergunjing, misalnya. Atau bermulut tajam. Atau&#8230; menyebalkan. Bossy. Paling merasa pintar. Sombong. Frontal. Bicara tanpa dipikir. Segalanya, silahkan sebut!</p>
<p>Saya tidak akan kaget jika dilempari kata-kata seperti itu. Karena saya sendiri sadar akan semua tindakan-tindakan saya yang brengsek itu. Dan saya sendiri sedang berusaha mengubahnya. Tapi inilah yang terjadi sampai saat ini.</p>
<p>Ketika orang-orang yang saya cintai jatuh dan menangis, mungkin dulu saya hanya bisa mengucapkan sepatah dua patah kata motivasi yang tidak ada artinya. Bahkan mungkin ketika orang yang saya tidak suka menangis, saya akan menari diatas penderitaannya. Tetapi apa yang terjadi ketika saya menangis? Ribuan bahu muncul di hadapan saya sebagai tempat bersandar. Ribuan mulut bicara, mendoakan yang terbaik.</p>
<p>Ketika ada orang yang menyakiti saya, apa yang bisa saya lakukan? Mengutuk dan merutuk. Menyalahkan keadaan. Tanpa berefleksi pada diri sendiri. Tanpa bertanya, &#8220;Apakah saya terlebih dahulu menyakiti dia hingga dia harus menyakiti saya?&#8221;</p>
<p>Ketika ada orang yang tak baik perilakunya, saya hanya bisa mengatainya tanpa membantunya berubah. Padahal, orang-orang tersebut adalah orang yang selalu membantu saya bercermin dan memperbaiki diri.</p>
<p>Dengan segala cacat dan keburukan itu, saya rasa, saya sudah cukup beruntung memiliki orang-orang yang mau menerima saya apa adanya. Saya yang egois dan pemarah. Saya yang selalu dipermainkan emosi sendiri. Saya yang bermulut tajam dan seringakli bicara tanpa berpikir. Saya yang memiliki ribuan cacat lainnya. </p>
<p>Saya bertemu dengan banyak orang yang luar biasa selama enam belas tahun perjalanan saya. Mereka masih mau saya ajak bicara, berbagi cerita, dan mereka selalu berhasil membuat saya tersenyum. Apakah muluk ketika saya juga berharap bahwa saya ingin bisa melukiskan senyum di wajah mereka?</p>
<p>&#8212;</p>
<p><em>Halo, kalian semua.<br />
Ada orang-orang yang mungkin baru saya kenal setengah tahun, satu bulan, ada pula yang bertahan di samping saya dari tiga tahun lalu.</em></p>
<p><em>Kalian semua pasti sudah hafal sifat-sifat saya seperti apa,<br />
Kalian juga pasti jengah mendengar ucapan maaf saya yang terlalu sering terlontar, tanpa termanifestasikan menjadi sesuatu yang nyata. Mungkin di mata kalian saya memang omong doang, nggak ada aksinya.</em></p>
<p><em>Tapi saya jujur, saya selalu berusaha. Sekuat tenaga.<br />
Saya tahu saya bukan orang yang paling teguh dalam menjalani perubahan dalam diri saya. Mungkin sifat buruk ini memang bawaan dari sananya. Tapi saya pun tidak suka memilikinya.</p>
<p>Doakan saja saya agar suatu hari usaha saya berhasil. Agar semakin hari, semua harapan saya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi menjadi nyata. Jika kalian bilang &#8220;Wish you All the Best!&#8221;, inilah All the Best bagi saya. Berubah. </p>
<p>Saya ingin berada di puncak bersama kalian semua.</p>
<p>Saya ingin memenangkan kejuaraan debat untuk kalian. Keluarga saya, yang telah mendukung saya dengan semua doa dan semangat. Untuk pelatih-pelatih dan kakak-kakak saya yang tak segan membagi ilmunya tanpa henti. Untuk saudara-saudara saya yang selalu ada di samping saya, mendukung tanpa henti-hentinya. </p>
<p>Saya ingin berada di ranking 10 besar bersama kalian. Orang-orang yang tak pernah bosan saya minta belajar bersama. Orang-orang yang mewarnai hari-hari saya di kelas. Orang-orang yang selalu membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Kalian, saya tahu kok susah bagi kita untuk merealisasikannya, tapi saya ingin kita semua maju bersama. Bisa, ya?</p>
<p>Saya ingin menjadi pencerita yang baik bersama kalian. Orang-orang yang memiliki selera musik yang sama, kesukaan yang sama, dan sudah dua tahun bersama-sama. Suatu hari kita bisa membuka kebun binatang tempat anak-anak mendengarkan cerita bersama ya? Cerita dan gambar yang kita jalin sendiri.</p>
<p>Saya ingin menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana untuk kalian. Orang-orang yang pernah saya pimpin lalu saya kecewakan, tapi tidak pernah mengecewakan saya. Di masa yang lalu kita semua pernah menjadi bagian dari acara yang hebat, di masa depan kalian semua adalah bagian dari negeri terhebat.</p>
<p>Saya ingin menjadi teman di saat suka dan duka untuk kalian. Orang-orang yang selama ini selalu saya jadikan pelarian untuk bersenang-senang saat saya berduka, tetapi saya tak pernah ada untuk kalian ketika kalian berduka. Saya ingin belajar menjadi teman yang baik bagi kalian. Saya ingin melepaskan semua stress saya bersama kalian sekali lagi, seperti di saat-saat dulu.</p>
<p>Saya ingin menjadi penulis terkenal bersama kalian. Orang-orang yang tak hentinya menjadi sumber inspirasi saya. Menyebarkan ide-ide kita yang luar biasa tentang kuantum waktu dan adam hawa bersama kalian. Mencari Tuhan bersama kalian. Merasakan cinta bersama kalian. Menyelami hidup bersama kalian, serta mencintainya juga dengan tulus. Saya ingin beranjak bijak dengan kalian.</p>
<p>Dan saya ingin menjadi segala yang lebih baik bagi kamu, yang tak pernah lelah berusaha.</p>
<p>Kalian semua adalah orang-orang yang melukiskan senyum di wajah saya. Semoga Tuhan selalu melukiskan senyum di wajah kalian juga. Semoga saya bisa menjadi salah satu penggores kuasnya.</p>
<p></em></p>
<p><em>Saya bahagia sekali bisa bertemu dengan kalian semua, terima kasih! <img src='http://simplyiyo.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p>&#8212;</p>
<p><big>2.</big></p>
<p>Kedua orang tua saya sudah tidak lagi muda. Saya bisa melihat rambut-rambut putih mulai bertumbuhan di kepala mereka. Saya bisa meraba kerutan di wajah mereka. Saya tidak buta sehingga tidak bisa melihat obat yang harus mereka tenggak setiap pagi.</p>
<p>Dalam keadaan seperti itu, mereka tak pernah gagal membuat saya tersenyum. Ketika telepon genggam saya hilang karena keteledoran sendiri, mereka menawari ganti yang dua kali lebih bagus. Mereka melengkapi saya dengan mobil yang kelewat mewah dan supir yang selalu siaga, untuk apa? Saya tidak pernah membawa mobil itu ke tempat ibadah. Saya membawanya ke tempat dimana secangkir kopi berharga selembar biru. </p>
<p>Sementara ketika saya menghisap aroma kopi-kopi itu, dengan mengenakan sepatu, baju, jam, dan parfum yang baru, apa yang orang tua saya lakukan? Bekerja. Menghitungi lembar demi lembar uang, meneliti pemasukan, melakukan penghitungan rumit yang saya tak pernah bisa melakukannya.</p>
<p>Apa yang saya sisakan untuk mereka? Kertas-kertas tagihan yang menggunung. Nilai-nilai yang mungkin belum cukup.Ditambah ketika di malam hari saya pulang, masih mengenakan seragam, saya hanya bisa memberi jawaban-jawaban pendek pertanda kelelahan untuk pertanyaan ramah mereka. </p>
<p>Lebih parah lagi, terkadang saya menyisakan mereka air mata untuk mereka tangisi sendiri. Saya menyisakan mereka kekecewaan.</p>
<p>Tiba-tiba terlintas bayangan ketika Ayah saya berbaring di rumah sakit tahun lalu, dengan selang oksigen menempel di hidungnya. Saya bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah bisa saya berikan untuk mereka?</p>
<p>Maka dari itu, jika kalian bertanya apa yang membuat saya ada di sini. Menulis, berdebat, berpikir, memperkaya diri dengan ilmu, dan hal lainnya yang membuat saya ambisius. Saya hanya punya satu keinginan. </p>
<p>Untuk membuat kedua orang tua saya tersenyum.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><em>Mami, Papi, kalau kalian baca ini (dan saya yakin, kalian pasti bakal baca)<br />
Aku berusaha mam, pap.<br />
Aku pengen jadi pemenang ISDC taun ini.<br />
Aku pengen berangkat ke Skotlandia taun depan.<br />
Aku pengen dapet seribu sertifikat.<br />
Supaya aku bisa masuk kuliah gampang.<br />
Supaya aku ga ngecewain kalian lagi kaya waktu SMA 3 kemaren.</em></p>
<p><em>Aku pengen bisa hidup sehat, olahraga teratur, nggak sakit-sakitan. <br />
Supaya aku ga sering pilek dan kalian harus mahal-mahal beli antibiotik.</em></p>
<p><em>Aku pengen jadi orang paling pinter sedunia,<br />
Supaya aku bisa kerja yang bener dan jadi kaya<br />
Dan suatu hari mimpi aku ngajak kalian pergi Umroh atau Naik Haji lagi kesampaian.<br />
Ditambah pulangnya, aku pengen ngajak kalian pergi ke Dubai.<br />
Dan beliin kalian satu apartemen di Burj Khalifa.<br />
Aku pengen beliin kalian banyak banget Mercedes-Benz, supaya setiap kali Mami dapet apa yang mami harepin, Mami ga ngomong &#8220;Coba aja tadi ngarep Mercy, ya?&#8221;<br />
Aku pengen beliin Papi satu toko elektronik, sekalian sama radio polisi yang banyak.</p>
<p>Satu lagi, aku tau, selama ini aku kafir. Aku ga pernah Shalat.<br />
Aku pengen berusaha pap, mam, buat deket sama Allah. <br />
Aku pengen jadi anak yang shaleh.<br />
Kenapa?<br />
Karena misal suatu saat kalian ga ada di samping aku lagi,<br />
Aku tetep bisa terus-terusan doa&#8217;in kalian.</p>
<p>Terakhir,<br />
aku pengeeen banget ngasih Papi sama Mami cucu yang cantik sama ganteng.</p>
<p>Dan seribu pengen lainnya yang ngga akan cukup aku tulis.</p>
<p></em></p>
<p><em>Aku ngga ngerti gimana caranya bikin ini semua jadi nyata,<br />
tapi aku berusaha pap, mam.<br />
</em><br />
<em>Setiap sertifikat yang aku masukin ke amplop itu, semoga bisa buat kalian bangga.</em><br />
<em>Setiap nilai yang aku ukir, semoga bisa buat kalian bangga.<br />
Setiap ilmu yang aku tahu, semoga bisa buat kalian bangga.<br />
Setiap do&#8217;a yang aku ucapin, semoga bisa buat kalian&#8230; bahagia.  </p>
<p></em><em>Walaupun cinta aku ngga akan bisa nyaingin besarnya cinta kalian,<br />
I still love you the most, mom, dad. <img src='http://simplyiyo.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p>&#8212;</p>
<blockquote><p>I&#8217;ve never been<br />
The one to raise my hand<br />
That was not me<br />
And now that&#8217;s who I am<br />
Because of you<br />
I am standing tall</p>
<p>My heart is full<br />
Of endless gratitude<br />
You were the one<br />
The one to guide me through<br />
Now I can see<br />
And I believe<br />
It&#8217;s only just beginning</p>
<p>This is what we dream about<br />
But the only question with me now<br />
Is do I make you proud<br />
Stronger than I&#8217;ve ever been now<br />
Never been afraid of standing out<br />
Do I make you proud</p>
<p>I guess I’ve learned<br />
To question is to grow,<br />
That you still have faith,<br />
Is all I need to know,<br />
I’ve learned to love,<br />
Myself in spite of me,<br />
And I’ve learned to<br />
Walk on the road I believe.</p>
<p>This is what we dream about<br />
But the only question with me now<br />
Is do I make you proud<br />
Stronger than I&#8217;ve ever been now<br />
Never been afraid of standing out<br />
Do I make you proud</p>
<p><strong>Taylor Hicks &#8211; Do I Make You Proud</strong></p></blockquote>
<p>&#8212;</p>
<div>P. S. Ulang Tahun kali ini saya lewatkan tanpa meniup lilin. Tapi saya ingin menjadi lilin yang menerangi kalian semua. Amin!</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyiyo.com/?feed=rss2&amp;p=167</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>XVI</title>
		<link>http://simplyiyo.com/?p=148</link>
		<comments>http://simplyiyo.com/?p=148#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 16:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wisnu Aryo Setio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyiyo.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada kilas balik, karena masa lalu adalah sesuatu yang akan mengikat kita. Tidak ada resolusi, karena ambisi membelenggu kita. Saya adalah manusia yang bebas, yang hidup untuk hari ini. Yang ada hanya syukur.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak ada kilas balik, karena masa lalu adalah sesuatu yang akan mengikat kita.</p>
<p>Tidak ada resolusi, karena ambisi membelenggu kita.</p>
<p>Saya adalah manusia yang bebas,</p>
<p>yang hidup untuk hari ini.</p>
<p>Yang ada hanya syukur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyiyo.com/?feed=rss2&amp;p=148</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Just Don&#8217;t Read This.</title>
		<link>http://simplyiyo.com/?p=146</link>
		<comments>http://simplyiyo.com/?p=146#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 18:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wisnu Aryo Setio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyiyo.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Have you ever realized that after all this time, the only person, the only thing you love is yourself? I&#8217;ve just realized that tonight. After watching Sex and The City The Movie. Well, I know that was weird, but never mind about that.  Let me give you one simple example. Every second, a person die [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Have you ever realized that after all this time, the only person, the only thing you love is yourself? I&#8217;ve just realized that tonight. After watching Sex and The City The Movie. Well, I know that was weird, but never mind about that. </p>
<p>Let me give you one simple example. Every second, a person die in this planet. We know it is happening, right? We also know, that death is scary. Death terrifies us. But why don&#8217;t we cry every second? Why don&#8217;t we mourn for a soul that should stop searching for something in this world because his time has come? </p>
<p>And when our lovely pet die (even when you know that you can still buy those lovely bunnies easily at a pet shop) we grieve deeply. We cry. We curse ourselves for being late to give them carrot. And when you stop mourning, you still can&#8217;t stop remembering them. Once again, it&#8217;s only a rabbit, for God&#8217;s sake. But why can&#8217;t you just stop crying?</p>
<p>There is one explanation for this. </p>
<p>We are selfish.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Let&#8217;s imagine that our life is a public company and every people in your life holds a share for it. Usually, the biggest percentage is held by God. And then come the parents, the love-of-my-life, the bestfriends, the arch-enemies, and deskmates, chatmates, online buddies, pets, and the list goes on. When one of them leave, you lost a piece of your life. You lost something. You are not mourning for their lost, but you are sad because your life won&#8217;t be this perfect anymore.</p>
<p>And this always happens. You pray five times a day just because you don&#8217;t want to be punished in hell. Just because you want to taste those extra-delicious virgins in heaven. You ask for happiness. You ask for a full stomach, for a thick wallet, for a shiny car, for a spacious penthouse. All of them only have one sole purpose: to keep yourself happy. To keep that greedy mind satisfied all the time.</p>
<p>An earthquake hit Padang. You saw people running, asking for help. A tear rolled down from your eyes. Why? Because you asked yourself, &#8220;What If I got hit by that Earthquake?&#8221; And you can imagine yourself running, asking for help. No one can help you. You&#8217;ll be left alone. Our selfish minds don&#8217;t want that to happen. That is why you cry. It&#8217;s not because you feel sad for them. But it&#8217;s more because you don&#8217;t want that happen to you. You can&#8217;t even imagine if that happen to you.</p>
<p>A song is playing on the radio. You heard the lyrics. And spontaneously you said, &#8220;This is so me.&#8221;</p>
<p>A yearbook is lying on the table. You open the book, and spontaneously, you skip to your class portion. The first face you want to see is your face, right? Do I look good?</p>
<p>And this article. I know that a lot of people will curse me because of the nasty grammar. But I don&#8217;t care. I&#8217;ve realized that the next thing you&#8217;ll say after cursing this article is &#8220;My grammar is better than you.&#8221; </p>
<p>Life is always about me. And me. And me.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>I am being egoistic right now, and I don&#8217;t know what I&#8217;m saying.</p>
<p>But my life, my writing, my blogs, are all about me. Just me, simply me. I am tired of writing nonsense. I am tired to see people praising my writings as something good, magnum opus, or stuffs. This blog of mine is pure crap. I wrote those articles to keep the readers happy. To keep them satisfied. What for? So that I can be famous. I wanted to be recognized as someone who have a good and inspiring writings.</p>
<p>That time has gone since few months ago. All that left is the old me. The old self who writes just for the sake of writing.</p>
<p>Back then, my blog is the only output I have for expressing my emotions. But since I have Twitter, and Facebook, and 24/7 BlackBerry messenger and Yahoo! Messenger, I don&#8217;t have to mumble on my blog anymore. With one push on the trackball, I can PING!!! them to tell them that I&#8217;m happy, I&#8217;m sad, I&#8217;m angry, I&#8217;m mad, etc. Suddenly, I feel that they are not enough. I still need a place to release some of my excess emotions that can&#8217;t be described in 140 characters. The only thing I have is blog. Unfortunately, I have a lot of blogs. And this blog is the last place I want to fill in.</p>
<p>People used to see me as the whiz-kid who always have a great wisdom. Even my teachers! They are fooled by this blog. And I don&#8217;t want to fool them anymore. I don&#8217;t want to fool those people who gave comments like &#8220;I adore you, you are Indonesia&#8217;s next future blah blah&#8221; after they watched Perspektif Wimar back then.</p>
<p>This is me. I always repeated swear words like Fuck You or Anjing everyday. I ate too much and I gained too much weight. I stopped writing. I blamed myself all the time. I am more desperate than those Alays wH0 tYp3d Lik3 tHi5. </p>
<p>I want to stop lying. I want to start writing honestly. I want to start writing things like, &#8220;Dear Blog, today was a pretty boring day&#8230; You know, blah blah blah.&#8221; </p>
<p>I want to start writing for myself. Not for you. Not for the soon-to-be-a-bestseller-book-yang-sampe-sekarang-ga-ada-kejelasannya-bakal-diterbitin-atau-ngga-sama-sekali.</p>
<p>I used too much I until it becomes very annoying. </p>
<p>&#8212;</p>
<p>I love you but I love myself more.</p>
<p>I want to end this but I can&#8217;t.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyiyo.com/?feed=rss2&amp;p=146</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panca.</title>
		<link>http://simplyiyo.com/?p=141</link>
		<comments>http://simplyiyo.com/?p=141#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 23:08:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wisnu Aryo Setio</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyiyo.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Selamat pagi, Mata. Terima kasih untuk mau membuka kelopakmu dan mengantarkan rangsang cahaya pada saya. Dari yang saya amati, sepertinya matahari belum datang. Cahaya terang ini adalah cahaya lampu dan layar yang membuat saya pusing. Selamat pagi, Telinga. Terima kasih untuk mau menggetarkan gendangmu dan mengantarkan rangsang bunyi pada saya. Dari yang saya bisa dengar, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><a href="http://www.flickr.com/photos/goddess_spiral/96608743/"><img alt="image by goddess_spiral @ flickr" src="http://farm1.static.flickr.com/11/96608743_5dcb8bbfb3.jpg?v=1197906612" width="400" height="500" /></a><p class="wp-caption-text">image by goddess_spiral @ flickr</p></div>
<p>Selamat pagi, Mata. Terima kasih untuk mau membuka kelopakmu dan mengantarkan rangsang cahaya pada saya. Dari yang saya amati, sepertinya matahari belum datang. Cahaya terang ini adalah cahaya lampu dan layar yang membuat saya pusing.</p>
<p>Selamat pagi, Telinga. Terima kasih untuk mau menggetarkan gendangmu dan mengantarkan rangsang bunyi pada saya. Dari yang saya bisa dengar, sepertinya jalanan masih sepi. Hanya ada satu atau dua bunyi mesin, dan sisa yang saya dengar hanyalah bunyi berisiki keyboard komputer.</p>
<p>Selamat pagi, Hidung. Terima kasih untuk tetap mengantar oksigen selama saya beristirahat. Tanpa kamu, saya tiada.</p>
<p>Selamat pagi, Kulit. Terima kasih untuk mau kembali meraba. Pagi ini cukup dingin, ya?</p>
<p>Selamat pagi, Lidah. Terima kasih untuk mau kembali merasa. Keripik kentang yang tadi cukup enak juga ternyata.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Pagi ini saya mengumpulkan kalian semua bersama-sama dalam keadaan sadar karena saya baru saja mendapatkan sebuah pemikiran baru. Siap untuk mendengarnya bersama-sama?</p>
<p>Tidak siap? Apa maksud kalian? Tidak ada alasan untuk menjadi malas di pagi hari! Masih ngantuk?</p>
<p>Sudahlah, biar saya akan jelaskan sekarang. Mulai hari ini saya semua akan menuduh kalian semua para indera sensorik sebagai pembohong.</p>
<p>JANGAN MARAH DULU! Kalian bahkan belum mendengar penjelasan saya!</p>
<p>Mmm&#8230; Mari kita mulai dari&#8230; Ah baiklah. Ehem, tugas saya sebagai otak adalah mengumpulkan informasi dari kalian semua bukan? Saya akan memprosesnya, dan menyampaikan hasilnya pada separuh bagian lain dari individu yang kita huni ini: namanya Jiwa. Tentu saya akan menerima semua berita dari kalian. Tapi akhir-akhir ini saya melihat banyak sekali data yang janggal&#8230;</p>
<p>Misalnya, Mata.</p>
<p>Eits, jangan bicara dulu! Saya percaya kok dengan visualisasi yang berhasil kamu tangkap, meski semua yang kamu antar itu sebenarnya bayangan maya bukan?</p>
<p>Kamu belum tahu?</p>
<p>Jari, berhenti mengetik! Coba buka dulu kacamata yang menempel di depan Mata.</p>
<p>Oops, saya bahkan tidak bisa melihat layar komputer. Pasang lagi! Nah, ini lebih baik.</p>
<p>Saya tidak akan menyalahkan kamu hanya karena lensamu pejal dan kamu tidak bisa berakomodasi, atau karena kamu buta warna. Tapi bagi saya, apa yang kamu sajikan tentang dunia itu sebenarnya hanyalah sebuah kebohongan yang besar.</p>
<p>Mari kita lihat contoh kasus. Kemarin, kamu memperlihatkan pada saya seorang pengemis yang tua dan terlunta-lunta. Didorong oleh lobus humanis (HAHA PANDAI SEKALI SAYA MENGARANG NAMA!) milik saya, saya memerintahkan jari untuk memberi uang seribuan.</p>
<p>Lalu tak lama kamu berpaling, kamu mendadak bilang kalau pengemis itu menenteng telepon genggam? Gila sekali. Yang mana yang harus saya percaya?</p>
<p>Sudah, jangan berargumen dulu! Saya belum selesai bercerita.</p>
<p>Telinga, giliran kamu.</p>
<p>Detik pertama kamu bilang ada orang yang berkata bahwa misalnya, berbohong demi kebaikan itu baik, lalu kamu menyampaikan lagi bahwa bohong itu dosa. Terlalu sering kamu mengombang-ambing saya dalam kontradiksi sehingga sulit bagi saya untuk mengambil keputusan!</p>
<p>Lalu bagi hidung, kulit, dan lidah. Saya tahu sulit bagi kalian untuk berbohong. Tapi jujur, informasi yang kalian sampaikan seringkali dibantah oleh dua indera teman kalian tadi. Misal kamu, lidah. Suatu hari kamu menyampaikan sebuah rasa yang luar biasa, mendadak telinga bilang makanan tersebut dosa hukumnya karena dibuat dari babi. Kenapa kamu tidak bilang?</p>
<p>Lalu kamu, kulit. Kamu mulai bisa menipu saya dengan tekstur-tekstur palsu, rupanya. Kulit cantik milik wanita itu jangan-jangan silikon pula?</p>
<p>Lalu hidung, makin banyak saja bau-bauan artifisial yang kamu berikan. Padahal saya tahu, dibungkus parfum apapun, sampah tetap saja sampah!</p>
<p>Atau contoh kasus terakhir. Kalian berlima memperkenalkan saya pada orang itu. Orang yang di mata saya selalu terlihat baik dan sempurna. Orang yang di mata saya layak jadi contoh. Orang yang baunya harum dan kulitnya lembut (walau saya tidak tahu rasanya enak atau tidak, lidah tidak pernah menjilatnya). Ternyata menurut telinga dia berbuat jahat? Dia berbuat curang? Dia berbuat licik? Bagaimana saya bisa percaya pada salah satu dari kalian jika kalian terus menerus memberikan kontradiksi?</p>
<p>Sekarang saya harus bagaimana? Belahan tubuh lain yang bernama Jiwa (kalian akan kagum jika bertemu dia!) selalu bertanya-tanya. Mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang harus dipercaya dan mana yang tidak.</p>
<p>Jujur, saya sudah menganggap apa yang kalian sampaikan pada saya sebagai ilusi belaka. Saya sudah menjadi bagian tubuh paling skeptis, yang selalu menganggap bahwa kadang kebenaran tidak bisa terukur bahkan dengan lima informasi dari kalian yang disatukan sekalipun.</p>
<p>Lalu kalian pasti akan bertanya, kebenaran itu apa? Yang seperti apa?</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Asal kalian tahu, bagian lain kita yang separuh itu, sang Jiwa tadi, memiliki episentrumnya sendiri. Kalau saya tidak salah, namanya Hati.</p>
<p>Saya sendiri sebagai kebalikan dari Hati, awalnya selalu mempercayai apa yang kalian katakan, karena bagi saya itu semua nyata. Ada buktinya, kan?</p>
<p>Tapi Hati tidak. Ia tidak semudah itu percaya dan Ia seringkali berargumentasi dengan saya. Walaupun saya selalu menjadi pihak yang bersuara lantang dan menggebrak meja, Ialah yang selalu menang. Ialah yang ternyata benar.</p>
<p>Baru saja tadi Ia bilang, hal-hal yang sebenar-benarnya nyata dan benar tidak akan pernah bisa diraih oleh indera manapun. Kalian semua, wahai reseptor, tidak akan pernah bisa merasakannya.</p>
<p>Tapi hati-lah yang bisa. Sang Jiwa punya mata, telinga, lidah, kulit, dan hidung yang terpisah dari dunia nyata ini. Mereka sedang berusaha merasakan sesuatu yang mungkin bagi kita semua fana, tapi justru malah merupakan yang paling nyata.</p>
<p>Kalian kenal Tuhan?</p>
<p>Itu, telinga, kamu pernah bilang bahwa dia yang menciptakan kita semua kan?</p>
<p>Benar. Sekarang, pernahkah kamu mendengarnya bicara lantang dari langit? Mata, pernahkah kamu melihatnya? Kulit, pernahkah kamu merabanya?</p>
<p>Tidak ada yang pernah. Saya sendiri juga tidak pernah.</p>
<p>Tapi jujur, saya akan bertanya pada kalian semua. Apakah kalian percaya padaNya?</p>
<p>Tumben kalian semua mengangguk bersamaan. Hahaha.</p>
<p>Mata, apakah kamu bisa menangkap bayangan dari semua hal di dunia ini yang merupakan ciptaanNya? Bisa. Tapi kamu tidak bisa melihatnya, kan?</p>
<p>Itulah, kawan-kawan, kenyataan yang sebenarnya. Kebenaran yang sebenarnya.</p>
<p>Satu kata kunci yang harus kita semua pegang, saat menjalani tugas sebagai alat indera di tubuh pemilik kita ini hanya singkat saja:</p>
<p>Kita harus punya kepercayaan yang kuat, bahwa sebenarnya, yang paling nyata adalah sesuatu yang tidak nyata sama sekali. Kita harus semakin jeli memilah informasi sebelum kita percayai begitu saja. Saya akan lebih sering lagi berkoordinasi dengan Hati beserta Sang Jiwa untuk menentukan mana yang nyata dan mana yang fana. Kalian pun harus begitu!</p>
<p>Sekian ceramah saya untuk pagi ini. Sekarang kalian semua cepatlah kembali bekerja dan sampaikan lagi informasi-informasi lainnya bagi saya. Jangan berbohong!</p>
<p>Apa, naik gaji?</p>
<p><strong>Bandung, 26 Juni 2009. 05:47 WIB.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyiyo.com/?feed=rss2&amp;p=141</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PilihanNya, Pilihan yang Terbaik.</title>
		<link>http://simplyiyo.com/?p=136</link>
		<comments>http://simplyiyo.com/?p=136#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 16:42:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wisnu Aryo Setio</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyiyo.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Saya mungkin memang hambaNya yang kurang suka disuruh bersujud lama-lama. Tapi jika saya harus mengutarakan betapa kagumnya saya pada Yang Maha Kuasa, maka ratusan buku-pun tidak akan bisa mengutarakannya. Sungguh Ia telah menuliskan kehidupan kita dengan begitu berliku dan penuh tantangan (bukan rintangan!), sehingga hidup kita yang pendek ini jadi ribuan kali lebih menarik untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mungkin memang hambaNya yang kurang suka disuruh bersujud lama-lama. Tapi jika saya harus mengutarakan betapa kagumnya saya pada Yang Maha Kuasa, maka ratusan buku-pun tidak akan bisa mengutarakannya. Sungguh Ia telah menuliskan kehidupan kita dengan begitu berliku dan penuh tantangan (bukan rintangan!), sehingga hidup kita yang pendek ini jadi ribuan kali lebih menarik untuk dijalani.</p>
<p>Ada banyak masa dalam kehidupan kita yang singkat ini, ketika langit berwarna biru terang. Ketika bunga-bunga terlihat lebih cantik dari biasanya. Ketika segala sesuatunya berjalan seperti semestinya. Ketika kita mencapai puncak kesuksesan dan bergelimang kebahagiaan. Ketika senyum seolah tak bisa pudar dari wajah.</p>
<p>Masa-masa itu adalah masa yang sungguh menggembirakan. Tapi apakah itu yang kita sebut dengan bahagia? Mungkin iya.</p>
<p>Hidup saya selama beberapa tahun kebelakang memang tidak sempurna. Tapi bagi saya, anugerah ini selalu lebih dari cukup. Jika saya melakukan kilas balik, saya baru menyadari betapa banyak takdirNya yang mampu melukiskan senyum di wajah saya. Punya mimpi jadi ketua OSIS? Terwujud. Ingin membuat pentas seni? Sukses. Segala sesuatunya memang mudah bagi saya sehingga kadang, kehidupan ini menjadi semu dan saya berubah menjadi individu yang congkak serta sangat egois. <em>Kebahagiaan ternyata tidak selalu menghasilkan kebaikan.</em></p>
<p>Dan di masa ketika saya sudah berjalan di jalan yang tidak lurus, Ia menunjukkan saya kembali arah yang benar dengan kejadian yang tak terduga. Rupanya inilah jawaban dari kalimat (yang dulunya hampa) &#8220;Tunjukkanlah saya jalan yang lurus&#8221; yang saya ulang beberapa kali sehari layaknya mantra.</p>
<p>Ia memperkenalkan saya pada <strong>kegagalan.</strong></p>
<p><span id="more-136"></span></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Hampir semua siswa di sekolah saya tidak berhenti belajar ketika Ujian Nasional usai. Kami semua disibukkan dengan sebuah seleksi besar yang masih menanti di depan mata pada saat itu, yaitu seleksi untuk masuk ke Sekolah Menengah Atas Negeri 3 &amp; 5 Bandung. Dua sekolah tersebut menempati peringkat 1 dan 2 di Kota Bandung sebagai sekolah terfavorit dengan NEM yang rata-rata tinggi tiap tahunnya. Saya sendiri sedari kelas delapan telah berminat untuk bersekolah di SMAN 3, dan seleksi ini merupakan pintu gerbang pertama bagi saya untuk memasukinya.</p>
<p>Di awal, saya diberitahu bahwa seleksi ini akan menitikberatkan beberapa hal seperti Bahasa Inggris dan lainnya. Jujur saya sempat merasa optimis mengetahui hal ini. Saya merasa, bahwa bahasa Inggris saya lebih baik. Saya merasa, minat dan bakat saya cocok untuk diterima di sana. Belum lagi banyak sekali teman yang mensupport (dengan tujuan yang baik, sebetulnya) sambil mengatakan &#8220;Ah, orang kaya kamu yo, pasti diterima kok!&#8221;</p>
<p>Untuk mempersingkat cerita, mendadak rangkaian kata yang tampil di situs web sekolah tersebut menampar saya kembali ke realita.</p>
<h2>ANDA TIDAK LULUS SELEKSI TAHAP 1.</h2>
<p>Pada awalnya segala sesuatu terasa biasa saja. Muncul beberapa penghiburan diri seperti yang biasa tertera di buku-buku self help yang dijual di toko. Tapi waktu berlalu, malam datang, saya diam dan merenung, lalu rasa sakit itu barulah mulai terasa nyata.</p>
<p>Jika pembaca melihat betapa optimisnya saya kala itu. Jika pembaca bisa melihat betapa tingginya saya terbang. Mungkin, akan ada perasaan maklum saat melihat saya menangis tersedu-sedu di kala sujud. Kali ini bukan karena mengagumiNya atau takut masuk neraka. Hanya ada satu yang berkecamuk di dada saya: <strong>Mengapa? Mengapa, Tuhan?</strong></p>
<p>Saya terus mempertanyakan pilihanNya. Padahal, beberapa jam sebelum pengumuman, dengan optimisme setinggi langit, saya berkata dengan diplomatis di notes Facebook: <em>PilihanNya adalah selalu yang terbaik</em>. Padahal, notes tersebut saya buat agar orang-orang yang tidak diterima bisa menerima kenyataan. Saya tidak menyangka bahwa ternyata sayalah yang akan menghadapi kenyataan pahit itu. Saya tidak menyangka bahwa saya malah yang mempertanyakan apa yang saya tulis itu. Apakah pilihannya memang selalu yang paling baik?</p>
<p>Banyak orang yang berkata bahwa sang waktu-lah yang akan menjawab dan memulihkan luka. Tapi waktu terus berputar dan ia mengacuhkan tangisan saya. Saya masih terus meratap berhari-hari sampai beberapa pemikiran menyerang hati dan jiwa saya sehingga saya bisa bangkit kembali, serta tersenyum dengan tulus.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Beberapa hari sebelum pengumuman, saya beserta teman-teman di bagian editorial untuk buku tahunan sekolah saya mengadakan pemotretan untuk cover buku tahunan tersebut. Kami masih kekurangan satu bahan lagi untuk properti, yaitu balon gas. Sepanjang jalan saya beserta teman-teman mencari penjual balon dan setelah kami hampir saja menyerah, muncul bapak-bapak dengan belasan balon warna-warni di tangan.</p>
<p>Saya berkata dengan spontan: &#8220;Inilah bukti bahwa Tuhan suka main-main, ya?&#8221;</p>
<p>Pikiran itu pula yang mampu membangun saya kembali. <strong>My God is a playful one.</strong></p>
<p>Apa maksudnya ini? Tentu jika kita ingin membuat segalanya simpel, hidup kita hanyalah sebatas permainan The Sims dengan kompleksitas yang lebih tinggi. Mungkin Sim yang saya mainkan akan saya buat selalu sejahtera dengan bekerja tepat waktu, makan ketika indikator &#8216;Hunger&#8217; mulai merah, dan sebagainya. Tapi kebetulan, sang pengendali diri ini membuat segala sesuatunya tidak semudah itu. Semua karena Ia adalah Tuhan yang suka bermain-main.</p>
<p>Jika saja Ia adalah Tuhan yang membosankan, Ia akan membuat penjual balon itu muncul ketika kami baru menutup pintu mobil. Ia pasti akan memasukkan teman-teman saya yang pintar dan &#8220;pasti-lulus-kalau-kamu-mah&#8221; dalam test yang kami ikuti itu. Ia pasti akan membuat segala hal di dunia ini bisa dimakan, sehingga tidak ada yang kelaparan. Ia akan membuat tanaman berbunga sepanjang tahun. Ia pasti akan menciptakan malaikat saja. Ia pasti akan menciptakan kebahagiaan saja.</p>
<p>Tapi bayangkan, jika semua hal bisa dimakan, apakah kita tidak akan dimakan oleh orang lain lalu mati sia-sia? Jika bunga mekar sepanjang tahun, apakah kita masih bisa merasakan indahnya daun gugur? Jika ia menciptakan kebahagiaan saja, apakah kita masih bisa merasakan betapa indahnya kesedihan?</p>
<p>Ada satu ungkapan yang melekat di otak saya ketika menulis ini, datang dari Bambang Harymurti ketika diwawancarai untuk buku Pergulatan Iman. Ia berkata, kelebihan manusia dibandingkan malaikat maupun setan adalah karena kita bisa memilih untuk menjadi apa. Jika kita memilih untuk menjadi baik, maka kita akan masuk Surga, dan sebaliknya untuk neraka. Hal yang menarik adalah, membuat manusia menjadi seratus persen jahat atau baik bisa juga dianggap melawan kodrat Tuhan, karena Ialah yang menciptakan kita dan menyuruh kita untuk memilih.</p>
<p>Lihat, bahkan ketika Ia menciptakan kita semua, Ia telah bermain-main dan menjebak manusia dalam kuis pilihan ganda tanpa akhir di sepanjang hidupnya.</p>
<p>Saya sadar sekali setelah itu, bahwa saya memilih untuk gagal. Mengapa begitu? Terbukti dari sifat saya ketika test yang sangat congkak, menganggap mudah. Saya sadar bahwa saat itu saya tidak lagi mempraktikkan Law of Attraction dengan berpikir positif bahwa saya pasti masuk, tetapi saya telah menjadi manusia yang takabur. Sombong.</p>
<p>Syukurlah Tuhan masih memberikan saya pilihan ganda lanjutan: Setelah kamu merasakan konsekuensi pilihanmu ini, apakah kamu tetap mau seperti itu atau mau berubah ke jalan yang lebih baik? Tanpa ragu saya melingkari pilihan B dalam hidup saya dan perlahan berubah, mulai menjejak tanah. Saya mulai kembali mempercayai bahwa jika saya berjalan sendiri, sepintar apapun saya, sehebat apapun prestasi yang saya punya, saya hanyalah sepotong Sim yang ditinggal oleh pengendalinya. Saya hanya bisa menunjukkan bahwa &#8220;Saya butuh makan!&#8221; atau &#8220;Saya ingin menikah!&#8221; tapi pada akhirnya, Ia-lah yang akan menekankan tombolnya bagi saya.</p>
<p>Tuhan memang membebaskan kita untuk memilih. Tapi kita semua harus sadar bahwa apa yang kita &#8220;pilih&#8221; dalam otak kita tidak sama dengan apa yang sebenarnya sedang kita pilih dalam tingkah laku dan perbuatan kita. Contohnya saja, banyak orang yang memilih untuk hidup sehat dengan tujuan agar ia bisa kurus (eits, jangan sangkut pautkan dengan pengalaman pribadi!). Tapi mungkin karena ia tidak tahu, ia salah memilih jalan. Ia malah meminum obat-obatan yang ia anggap bisa membuatnya sehat dan kurus. Tetapi apa yang ia dapatkan malah penyakit berbahaya.</p>
<p>Sama kasusnya dengan saya. Saya memilih untuk masuk SMA Negeri 3 Bandung. Tetapi dalam perjalanan saya salah memilih langkah dengan menjadi terlalu optimis. Akhirnya inilah yang saya dapatkan.</p>
<p>Hasil dari perbuatan kecil kita yang tidak kita sadari itu yang akhirnya saya namai dengan pilihan Tuhan. Kadang jika Ia bermurah hati, Ia akan membiarkan kita tahu dimana kesalahan kita, langkah apa yang salah. Tetapi kadang Ia terus membiarkannya rahasia, dan membuat kita bertanya-tanya. Padahal saya meyakini bahwa Ia tidak pernah usil apalagi jahat dengan menolak semua yang kita minta. Setiap apa yang Tuhan berikan pastilah merupakan akumulasi dari apa yang kita telah lakukan. Jalan apa yang sadar maupun tak sadar telah kita pilih.</p>
<p>Masa depan masih terbentang dengan sangat lebar di depan saya. Satu pintu Ia tutup, ribuan pintu kesempatan lain Ia bukakan. Saya sendiri tidak menganggap ini sebagai sebuah akhir, karena untuk masuk ke SMA Negeri 3 saja masih ada banyak pintu lain yang terbuka. Saat saya menulis tulisan ini, saya bahkan belum tahu nilai Ujian Akhir Nasional saya sebesar apa. Mungkin saja Ia menginginkan saya masuk melalui pintu kedua agar saya pernah merasakan seperti apanya jatuh. Saya yakin sekali jika saya bisa masuk melalui gerbang pertama kemarin, pasti saya akan terbang semakin tinggi lagi dan tidak pernah menginjak tanah. Saya akan sangat sombong dan bisa saja lupa seratus persen bahwa masih ada Tuhan yang maha segalanya, yang akan menekankan tombol untuk mengeksekusi hal dalam hidup saya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Sungguh perjalanan singkat saya di Sekolah Menengah Pertama akan segera berakhir, tetapi sudah terlalu banyak anugerah yang ia limpahkan pada saya hingga saya tak mampu menghitungnya lagi. Anugerah tersebut kadang memang datang dalam bentuk yang begitu nyata, seperti sebuah handphone atau jam tangan baru. Tetapi saya juga sadar bahwa hal-hal yang paling remeh sekalipun bisa menjadi sesuatu ketika kita memaknainya secara berbeda.</p>
<p>Saya sendiri sesungguhnya tak sabar bercelana abu-abu panjang, dimanapun itu. Karena saya sadar bahwa akhir dari suatu perjalanan pasti akan menjadi awal dari suatu perjalanan yang baru. Saya sungguh tidak sabar menanti kejutan-kejutan seperti apa lagi yang disediakan oleh Tuhan saya yang maha <em>playful</em> itu. Jika saya memandang seperti ini, air mata-pun selalu terasa seperti berkah setiap harinya.</p>
<p>Untuk menutup tulisan ini, yang juga akan menutup perjalanan saya di SMP Negeri 5 Bandung, saya ingin mengutarakan sebuah keinginan kecil.</p>
<p>Harapan tersebut sederhana. Semoga saja kedewasaan, bertambahnya pengalaman, tidak akan membuat saya untuk berhenti bertanya dan mempertanyakan. Semoga saja, kejadian yang nantinya satu-persatu akan terungkap di hadapan saya dapat selalu menjadi ladang inspirasi untuk saya agar saya selalu bisa berbagi. Semoga saja, mata ini tak lelah untuk menelanjangi kenyataan yang kadang terbungkus dibalik berjuta bayangan yang semu. Semoga saja, jemari ini tak pernah letih untuk terus mencatat pergolakan pikiran. Dan semoga saja, hidup ini akan semakin menarik untuk dijalani.</p>
<p>Beberapa hari dari saat ini saya akan menghadapi pilihanNya yang terbaru. Seseorang dari DINAS PENDIDIKAN akan mencetak kertas dengan deretan angka-angka yang benar-benar akan menentukan jutaan pilihan baru bagi saya di depan. Angka-angka yang saya tidak tahu pasti berapa. Angka yang akan mengarahkan saya entah kemana.</p>
<p>Satu yang pasti, angka-angka itu tidak akan pernah salah. Saya yakin sekali mereka akan mengantar saya menuju sesuatu yang baik. Tepatnya, yang paling baik.</p>
<p><strong>Karena hanya pilihanNya-lah, pilhan yang terbaik.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyiyo.com/?feed=rss2&amp;p=136</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahlawan Pendidikan Bagi Saya &#8211; Bagian Dua.</title>
		<link>http://simplyiyo.com/?p=131</link>
		<comments>http://simplyiyo.com/?p=131#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 15:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wisnu Aryo Setio</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyiyo.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Semogalah, Masa Depan Lebih Cerah&#8230; Dam di dam di dam dam dam dam&#8230;&#8221; Setiap kali saya menyalakan televisi dan menyimak satu persatu pariwara di setiap acara, saya pasti menemukan iklan ini. Cut Mini, sebagai Bu Muslimah, bernyanyi dan berdendang riang dengan logat Melayu. Merayakan sebuah kelegaan hati karena ada &#8220;Sekolah Gratis di sana-sini!&#8221; Di akhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>&#8220;Semogalah, Masa Depan Lebih Cerah&#8230; Dam di dam di dam dam dam dam&#8230;&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Setiap kali saya menyalakan televisi dan menyimak satu persatu pariwara di setiap acara, saya pasti menemukan iklan ini. Cut Mini, sebagai Bu Muslimah, bernyanyi dan berdendang riang dengan logat Melayu. Merayakan sebuah kelegaan hati karena ada &#8220;Sekolah Gratis di sana-sini!&#8221;</p>
<p>Di akhir pariwara, muncul seorang bapak-bapak gagah yang berkata lantang <strong>&#8220;SEKOLAH? HARUS BISA!&#8221;</strong></p>
<p>Hati kecil saya sebagian bahagia, tapi sebagian menjerit dan menghina dengan sinis. Harus bisa? Saya tahu, anggaran pendidikan kita SANGAT besar. Tapi apakah anggaran saja cukup untuk membuat kita bisa? Apakah semua bisa menjadi &#8220;bisa!&#8221; hanya gara-gara uang? Apakah gratis saja cukup?</p>
<p>Sudahlah, tidak ada gunanya mempertanyakan apalagi mempermasalahkan. Tidak ada masalah, dan tidak ada yang salah. Bapak-bapak botak &#8220;Harus Bisa&#8221; di televisi itu tidak salah. Bapak satu lagi yang hobi me&#8221;Lanjutkan!&#8221; juga tidak salah.</p>
<p><em>Mungkin satu-satunya yang salah adalah kebenaran itu sendiri. </em></p>
<p>Di zaman seperti ini, batasan salah dan benar yang kita pegang sepertinya sudah mulai berubah arah. Bahkan sesekali hanya ada sehelai benang tipis tak tampak yang membedakan keduanya. Hal ini juga saya temui dalam sistem pendidikan kita sekarang. Saya sudah bosan membahas soal benar vs. salah lagi. Saya tidak ingin mempertanyakan adil atau tidak adilnya sistem sekarang, seperti Ujian Nasional itu. Saya muak membahas antara jujur melawan kecurangan.</p>
<p><strong>Yang saya butuhkan hanyalah harapan.</strong></p>
<p>Harapan untuk dapat pergi ke sekolah, mendapat nilai yang sempurna tanpa berbuat licik dan semena-mena. Harapan untuk menjadi pintar yang sesungguhnya. Harapan untuk dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi. Harapan untuk dapat menjadi seorang hamba yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.</p>
<p>Tuhan memiliki banyak rahasia, dan sepertinya Ia juga memiliki malaikat dimana-mana.</p>
<p>Salah satunya, adalah seorang guru yang menjadi pahlawan pendidikan bagi saya, saat ini.</p>
<p>Beliau adalah<strong> Ibu Tati Solihati.</strong></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="bu tati" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs034.snc1/3252_105827036208_761116208_2491367_1746640_n.jpg" alt="" width="391" height="521" /></p>
<p><span id="more-131"></span></p>
<blockquote><p><em><em>Engkau bagai pelita</em> dalam kegelapan<em><br />
Engkau</em> laksana embun penyejuk dalam  kehausan</em></p></blockquote>
<p>Setiap kali lagu itu berkumandang dari mulut saya, saya tidak pernah menganggap lagu itu sebagai sesuatu yang istimewa. Mungkin lagu itu bahkan hanya sebatas propaganda Orde Baru yang berusaha &#8220;memuliakan&#8221; guru yang dari dulu tak jauh dari Umar Bakri nasibnya. Tapi setelah saya bertemu dan mengenal ibu Tati Solihati secara pribadi, lagu itu sungguh menjadi bermakna bagi saya. Lagu itu terasa nyata.</p>
<p>Awal perjumpaan saya dengan beliau adalah di hari pertama kami masuk sekolah saat kelas sembilan. Saat itu santer kabar beredar, bahwa seorang guru fisika akan menjadi wali kelas kami. Sebenarnya saya, tanpa mengenal siapa beliau, tidak terlalu peduli. Tapi ternyata saat upacara pengumuman wali kelas, ketika nama 9G dipanggil lantang, berdiri seorang ibu guru, orang yang berbeda dengan apa yang tadi sudah santer dibicarakan. Beliau adalah ibu Tati Solihati.</p>
<p>Dari informasi yang saya tahu, beliau adalah seorang guru Matematika. Sepertinya saya sudah terlalu sering menyebutkan bahwa saya tidak pernah menyukai Matematika. Jadi sejujurnya saya biasa saja ketika mengetahui beliaulah yang akan mengajar saya dan teman-teman sampai satu tahun ke depan.</p>
<p>Semuanya berjalan biasa-biasa saja. Saya belajar, beliau mengajar. Matematika tetap saya lahap dengan penuh kejenuhan. Sampai suatu saat, seorang teman mengajak saya untuk belajar langsung di rumah beliau.</p>
<p>Saat itu saya menyangka, belajar bersama beliau akan sama membosankannya dengan sesi-sesi belajar yang melelahkan di bimbingan. Tapi saat saya masuk ke rumah beliau, duduk di meja makan multifungsi itu, lalu memperatikan apa yang beliau tulis di papan, saya terperangah. Terpana, terpesona, dan sekaligus tersadar.</p>
<p>Maafkan saya, bapak dan ibu guru. Sebelum bertemu dengan ibu Tati saya selalu berprasangka buruk bahwa les atau tambahan pelajaran hanyalah cara bagi guru untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Sebagai seorang siswa, saya sudah berkali-kali mengikuti pelajaran tambahan. Ada beberapa yang cukup membantu. Ada beberapa yang membocorkan soal ulangan. Dan banyak yang membantu menaikkan nilai keseharian.</p>
<p>Tapi belajar bersama ibu Tati berbeda.</p>
<p>Setiap kali saya memohon maaf karena telah merepotkan beliau, dengan senyumnya yang selalu lebar beliau akan berkata.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Ah nggak apa apa&#8230; Ini sudah jadi kewajiban ibu&#8230;&#8221;</em></p>
</blockquote>
<p>Kalimat ini memang jika ditulis oleh saya akan terlihat klise dan penuh basa-basi. Tapi jika saja Anda menyaksikan beliau mengucapkannya secara langsung, saya yakin Anda akan melihat dan merasakan hal yang sama dengan apa yang saya lihat dan saya rasa.</p>
<h2><strong>Kesungguhan dan Ketulusan.</strong></h2>
<p>Saya yakin masih banyak guru matematika lain yang lebih hebat daripada beliau. Masih banyak yang berpendidikan lebih tinggi dan bergelar lebih panjang. Tapi satu hal yang benar-benar saya kagumi dari pribadi seorang ibu Tati Solihati adalah kesungguhan dan ketulusannya dalam mengajar kami semua sebagai anak didiknya.</p>
<p>Kebanyakan orang matematika, selalu mengajarkan logika dengan cara yang logis. Satu ditambah satu akan menjadi dua, dan semua orang mau tidak mau HARUS setuju dengan hal itu. Inilah mungkin yang membuat orang-orang dengan tipe seperti saya mudah bosan dengan Matematika. Dalam pelajaran ini, sudah tidak ada lagi ruang untuk bereksplorasi. Segalanya sudah pasti dan tetap.</p>
<p>Tapi Ibu telah berhasil membuat pelajaran yang sungguh tegas dan dingin itu menjadi sesuatu yang menyenangkan, menarik, dan hangat. Dan kadang membuat kita rindu dan ingin terus mempelajarinya.</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Di zaman Ibu sih, anak itu cuma diberitahu rumus saja. Tapi Ibu nggak mau seperti itu. Ibu ingin konsep dasarnya dulu dikuasai. Makanya ibu sering kasih tahu kalau Iyo nanya asal usul rumus itu dari mana&#8230;&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Di kelas sembilan ini semuanya terlihat sebening kristal! Mengapa jika kita pindah ruas dalam persamaan linier harus berpindah tanda? Mengapa sudut elevasi segitiga membentuk sin cos tan? Beliau menjelaskannya secara perlahan, detail, dan jelas&#8230; <strong>Jika saya belajar di rumah beliau.</strong></p>
<p>Tentu saya tidak akan menyalahkan beliau, tapi inilah cacat dalam sistem kita. Seorang guru, dipaksa harus membimbing sejumlah besar murid di beberapa kelas. Mengenalnya secara personal satu persatu. Bagaimana mungkin guru dapat mencurahkan semua perhatiannya untuk menangani manusia sebanyak itu dengan pribadi uniknya masing-masing?</p>
<p>Ibu Tati selalu bercerita tentang kelas kebanggaannya, Akselerasi 2005. Kelas tersebut adalah kelas yang sangat teristimewa karena hanya dihuni delapan orang. Tahun itu, ibu Tati adalah Wali Kelas Akselerasi. Saya tadi sempat melakukan googling singkat dan menemukan ini:</p>
<blockquote><p><a href="http://mirzaarfina.blogspot.com/2008/08/5-dari-8-anak-masuk-itb.html">http://mirzaarfina.blogspot.com/2008/08/5-dari-8-anak-masuk-itb.html</a></p>
<p><em>Hmf..<br />
Tadi siang aku ke sekola..</p>
<p>Banyak yang pasang muka ceria.<br />
(ktrima di snmptn gituloh!)<br />
Tapi ada juga yang pasang muka sedih.<br />
(belom beruntung mgkn..)</p>
<p>Aku trmasuk anak yang pake muka ceria hari ini.</p>
<p>Alhamdulillah, aku bisa masuk ke fakultas yang dipengenin dari SMP.</p>
<p>Sesuatu yang bikin aku bangga.<br />
1. aku anak axel smp5<br />
2. 100% anak axel smp5 angkatan aku ktrima di ptn, ga ada yang swasta<br />
3. 62,5% murid axel angk. 2005 ktrima di ITB</p>
<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_0-Xr6QrjQHM/SJXgkVWAhrI/AAAAAAAAADU/EnE7wE7Q_4E/s1600-h/3K_axL...jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230333457070065330" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0-Xr6QrjQHM/SJXgkVWAhrI/AAAAAAAAADU/EnE7wE7Q_4E/s200/3K_axL...jpg" border="0" alt="" /></a> wuiii..<br />
ikut seneng deh, tmantmanku berhasil smua..</p>
<p>nih, rinciannya.<br />
1. Ardian Yudo: FTMD ITB<br />
2. Aulia Dewantari: STEI ITB<br />
3. Elgi Firas Sugiyama: SITH ITB<br />
4. Melon Fabian Gunawan Putra: STEI ITB<br />
5. Mirza Arfina: Psikologi Unpad<br />
6. Nurul Fitry: Sastra Jepang UI<br />
7. Sandra Alfina: FTI ITB<br />
8. Tyagita Amurwani Hidayat: Psikologi Unpad</p>
<p>Tapi sayangnya, gita ga ambil psiko unpadnya.</p>
<p>Pisah deh kita..<br />
Dadah tmantman..<br />
 <img src='http://simplyiyo.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sukses yah smuanya! </em></p></blockquote>
<p>Mendengar berita (yang sudah cukup lama) tersebut membuat hati saya sangat bahagia. Ya, tangan bu Tati adalah tangan Midas. Saya yakin, dengan keikhlasan, ketulusan, dan kesungguhannya dalam mengajar, semua anak-anak yang diajarkan oleh beliau akan mendapatkan sesuatu yang tak terlupakan.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Ibu Tati tidak hanya memberikan ilmu Matematika kepada saya dan kawan-kawan lainnya. Beliau juga tidak sebatas menjadi harapan akan perubahan dalam sistem pendidikan di Indonesia ini. Tapi yang terpenting, beliau telah mengajarkan kepada saya dan kita semua untuk menjadi orang-orang yang berhati bersih dan berjalan lurus.</p>
<p>Pada suatu hari saya berjanji untuk belajar Matematika bersama teman, dan entah kenapa, mereka semua tidak jadi datang. Akhirnya saya belajar sendirian bersama beliau. Awalnya saya takut merasakan kebosanan dan tidak betah. Tetapi satu persatu kisah mengalir, mengantarkan saya belajar bab persamaan kuadrat yang sulit itu.</p>
<p>Ibu Tati sudah ditinggal oleh Ibunya semenjak beliau masih seumur saya. Beliau bercita-cita menjadi dokter, tetapi Tuhan telah menggariskan jalan beliau agar menjadi guru. Sudah tiga puluh tahun beliau mengajar di sekolah saya, dan sudah ratusan murid yang beliau ajarkan. Sampai saat ini, beliau adalah satu-satunya guru senior yang masih dapat berdiri tegak, tersenyum lebar, dan mengajar Matematika tanpa pernah jenuh.</p>
<p>Kisah singkat di atas semakin memperjelas bahwa hidup yang singkat ini seyogyanya dijalani secara lurus dan sebaik-baiknya. Ibu Tati tidak pernah sedih, walaupun cita-citanya sebagai dokter kandas begitu saja. Malah kita bisa melihat betapa besar dedikasinya dalam mengajar dan berusaha sekuat tenaga untuk memajukan siswa-siswinya.</p>
<p>Siapapun kita: guru, pelajar, penulis, musisi, politikus, aktor, atau presiden sekalipun. Jika kita menjalani peranan kita masing masing dengan ikhlas, tulus, lurus, dan penuh kesungguhan, niscaya kita juga bisa menjalani sebuah kehidpan yang bermakna, dan menjadi orang yang berguna.</p>
<p>Siapa yang tahu, jika saya terus menerus menulis dengan sungguh-sungguh, ada tulisan saya yang dapat menginspirasi Anda sekalian sebagai para pembaca yang budiman, seperti halnya ibu Tati menginspirasi saya untuk menulis hal ini.</p>
<p>Dan dunia akan terus berputar, dan kita akan terus saling berbagi satu sama lain. Itulah yang membuat kehidupan ini terasa dan layak untuk kita jalani.</p>
<p>Terima kasih banyak untuk segala-galanya, bu.</p>
<p><strong>Selamat Hari Pendidikan Nasional 2009.</strong></p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>P.S. UJIAN NASIONAL SUDAH SELESAI! </strong>Alhamdulillah, walau sempat terjebak hasutan di hari pertama, di tiga hari terakhir saya berhasil bekerja sendiri dengan sejujur mungkin. Sebagai informasi, nilai Matematika saya dalam Pra-Ujian Nasional yang pertama kali hanyalah 6,2. Tapi kemarin, walau saya belum tahu skor pastinya, kesalahan yang sudah pasti saya perbuat HANYA ADA 2! Memang, ada ratusan anak yang mendapat sepuluh di sekolah saya. Tapi salah dua merupakan sesuatu yang luar biasa bagi seorang anak yang SANGAT MEMBENCI MATEMATIKA dan sangat lemah dalam mencongak, bukan? <img src='http://simplyiyo.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyiyo.com/?feed=rss2&amp;p=131</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Loading&#8230;</title>
		<link>http://simplyiyo.com/?p=121</link>
		<comments>http://simplyiyo.com/?p=121#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 16:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wisnu Aryo Setio</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyiyo.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[OUT OF TOPIC #1 Adakah sejarawan unggul yang bisa menjelaskan kepada saya, siapakah yang menentukan konsep waktu? Atau jangan-jangan sebenarnya hal ini sudah saya ketahui tapi saya lupakan begitu saja? Siapakah yang dengan semena-mena menentukan satu detik adalah sekian, datu menit adalah sekian, dan seterusnya? Lalu mana awalnya? Lalu kapan ujungnya? Sudahlah. Topik tadi terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://farm3.static.flickr.com/2023/2168462838_23797621fb.jpg?v=0" alt="" width="475" height="356" /></p>
<blockquote><p><em><strong>OUT OF TOPIC #1</strong><br />
</em></p></blockquote>
<blockquote><p><em>Adakah sejarawan unggul yang bisa menjelaskan kepada saya, siapakah yang menentukan konsep waktu? Atau jangan-jangan sebenarnya hal ini sudah saya ketahui tapi saya lupakan begitu saja? Siapakah yang dengan semena-mena menentukan satu detik adalah sekian, datu menit adalah sekian, dan seterusnya? Lalu mana awalnya? Lalu kapan ujungnya?</em></p>
<p><em>Sudahlah. Topik tadi terlalu berat, kapasitas otak saya yang sudah setengah trance ini tidak mampu untuk berandai-andai sampai sejauh itu. </em></p></blockquote>
<p>Saat ini, hampir semua manusia modern yang saya kenal di kota besar sungguh menjadi tidak sabaran soal waktu. Semua orang dikejar waktu. Bahkan saya yakin, deadline bagi sebagian orang yang bekerja akan jauh lebih menakutkan dibandingkan dedemit jenis apapun. Saya yakin.</p>
<p>Satu invisible-countdown-clock yang pasti dihadapi semua manusia adalah jelas, kematian. Mungkin selain itu, masing-masing manusia punya countdown dengan versi yang berbeda-beda. Kapan Ujian Nasional? Kapan Sidang Skripsi? Kapan Kerja? Kapan Kawin? Kapan Punya Anak? Kapan Punya Rumah? Kapan-kapan, kita berjumpa lagi.</p>
<p>Saya sendiri <em>(ada yang masih ingat? lirik-lirik postingan sebelumnya dong!)</em> masih terus menerus dikejar waktu. Terus menerus dihantui countdown menuju ujian nasional di mana-mana. Di tembok bimbingan belajar, di papan tulis kelas, sampai di profile facebook. Rasanya setiap detik menjadi begitu sia-sia jika kita lewatkan tanpa belajar. Tanpa rumus. Tanpa angka. Padahal siapa yang tahu, mungkin detik-detik yang saya pergunakan untuk belajar itu yang sia-sia. Sementara detik yang saya habiskan untuk melamun, justru malah mendadak melahirkan sebuah jalan cerita novel yang brilian? Mungkin.</p>
<p>Jadi kesimpulannya, saya sudah belajar satu hal. Waktu adalah uang. Waktu adalah emas. Waktu adalah&#8230; Segalanya! Eh, itu tiga ya?</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Oke, pernah nonton film Click? <em>(nyambung ya?)</em></p>
<p>Kalau bertanya sinopsis, imdb.com saja. Saya hanya ingin membahas sedikit ceritanya. Si tokoh yang bosan dengan kehidupan sehari-hari, akhirnya menemukan kebahagiaan ketika dia bisa fast-forward waktu. Saya juga ingin sekali memiliki kelebihan ini! Lewat saja bagian Ujian Nasional, langsung masuk SMA. Tapi coba lihat apa yang terjadi pada Adam Sandler di akhir film!</p>
<p>Dia&#8230;</p>
<p><span id="more-121"></span></p>
<p>Silahkan, imdb.com.</p>
<p>Sudah dibaca? Oke. Saya juga tidak mau hal menyeramkan yang dialami Adam Sandler itu terjadi juga pada saya. Tapi apakah kita sadar? Tanpa remote itu, kita mungkin sedang menekan tombol fast-forward selama ini.</p>
<blockquote><p><em><strong>OUT OF TOPIC #2</strong><br />
</em></p>
<p><em>Pernahkah kita melihat?</em></p>
<p><em>Jawabannya tentu iya! Kecuali untuk pembaca yang membaca menggunakan braille, saya mohon maaf dan saya turut mendoakan yang terbaik untuk anda semua. </em></p>
<p><em>Tapi itu adalah jawaban yang muncul dari logika. Justru mungkin sebenarnya kita yang buta.</em></p>
<p><em>Untuk peragaan siapkan sekeping DVD (film porno SANGAT disarankan) dan sebuah player yang berfungsu dengan baik. Masukkan keping DVD, tekan play. Sudah?</em></p>
<p><em>Tekan fast-forward 25X. </em></p>
<p><em>Apa yang pembaca lihat? Apa yang bisa pembaca nikmati? (pertanyaan ini saya tujukan terutama untuk pembaca yang menuruti saran sesat saya di atas)</em></p>
<p><em>Sama saja seperti kita buta. Kita mungkin bisa melihat. Tapi apakah mungkin kita bisa menikmati? Apakah mungkin kita bisa benar-benar &#8220;melihat&#8221;?</em></p></blockquote>
<p>Orang-orang yang hidup di jalur cepat, dengan ratusan deadline bertumpuk setiap saat, memiliki kebiasaan untuk memandang terlalu jauh ke depan. Berpacu dengan waktu. Titik tumpu mereka adalah masa depan, dan sekarang mereka sedang berlari untuk mencapai garis finish itu. Sayangnya, finish tak dapat diraih, start baru tak dapat ditolak. Tiba-tiba muncul deadline baru, tugas baru, yang membuat garis finish itu semakin menjauh lagi, dan kita harus terus berlari untuk mengikutinya.</p>
<blockquote><p><em><strong>OUT OF TOPIC #3</strong><br />
</em></p>
<p><em>Pernah Berlari? </em></p>
<p><em>Pernahkah anda merasakan perbedaan lari untuk lomba dan lari untuk cuci mata?</em></p>
<p><em>Pada saat kita lari untuk lomba, kita menjadi terlalu goal oriented. Kita melihat lurus ke depan, mencari-cari garis finish. Kita tak peduli lagi apakah ada orang, atau ada binatang aneh. Yang penting gue mau finish dulu nih, gila, kebelet pipis! Itu hanya contoh. Sedangkan jika kita lari untuk sekedar cuci mata, pasti mudah sekali bagi kita untuk menemukan hal baru. Bahwa ternyata tetangga kita ganti mobil. Atau anak gadis Pak RT sekarang memakai jilbab.</em></p>
<p><em>Apakah sekarang kita terlalu sering mencari garis finish dan sudah lupa melihat ke sekeliling kita?</em></p></blockquote>
<p>Dan akhirnya, sampailah umat manusia pada masa ini. Masa dimana waktu sungguh memegang peranan penting. Masa dimana kehilangan satu detik berarti kehilangan segalanya. Saya, hanya karena kelalaian mentransfer uang selama dua hari, terpaksa harus kehilangan kesempatan untuk menonton Jason Mraz dua kali. Pelari olimpiade, hanya karena kelalaian start 0,001 detik, terpaksa harus kehilangan kesempatan memenangkan medali emas.</p>
<p>Umat Manusia yang licik dan cerdik ini juga tentu mencari cara untuk main petak umpet dengan waktu. Kita harus bisa mengelabui waktu!</p>
<p>Dicipkatakanlah mobil-mobil bertorsi tinggi. Kereta magnet supercepat. Jalur bis tanpa hambatan. Sepatu lari dengan bantalan paling rumit. Internet. Facebook. Plurk. Sampai fenomena terakhir yang luar biasa dahsyat, Blackberry.</p>
<p>Untuk apa semua itu diciptakan? Atas nama waktu. Atas nama satu-satunya satuan yang tidak bisa kita putar kembali. Hanya untuk menyelamatkan detik-detik kita yang berharga.</p>
<p>Sekarang, lihat sekitar kita. Kita hidup di abad duapuluhsatu. Abad dimana kita bisa tahu seseorang yang ada di belahan dunia lain mendadak &#8220;In a Relationship&#8221;. Kita bisa tahu bahwa si Z baru pulang makan bubur ayam di Jalan Dago. Kita tidak sabar untuk men&#8221;colek&#8221; artis idola kita <em>(ampun, ini sih dulu mimpi!)</em> hanya dengan tekan tombol satu kali. Kita hanya butuh tiga menit untuk mencari tahu siapa yang menang Grammy Awards walaupun di kelas sedang ada ulangan Biologi <em>(HAHA GUE BANGET!)</em>. Kita diberondong oleh perubahan status setiap tiga jam sekali. Kita ditembaki ratusan ping, buzz, nudge.</p>
<p>Mendadak saya kangen sekali melihat tulisan Loading.</p>
<p>Saya tahu mengapa tiba-tiba banyak orang yang rindu surat menyurat. Saya tahu mengapa tiba-tiba banyak orang yang rindu hidup di kampung.</p>
<p>Manusia butuh untuk terkadang rehat sejenak, menenunda sesaat. Delay, istilahnya.</p>
<p>Sekalipun waktu tidak bisa diputar kembali, tapi akan sangat melelahkan jika kita mengejarnya terus menerus. Karena waktu <em>(menurut saya)</em> bahkan tidak memiliki bentuk. Ia adalah cepat. Ia adalah lambat. Ia adalah waktu, yang seharusnya dinikmati dan bukan disesali apalagi dikejar.</p>
<p>Tadi saya baru saja menyantap Sashimi yang enak sekali rasanya. Entah atas dorongan siapa, saya tergerak untuk online di messenger, lewat telepon genggam biasa. Blam! Dua berita buruk menghantam saya secara TIBA-TIBA, menghilangkan semua kenikmatan sashimi tanpa sisa dari ujung lidah.</p>
<p>Saya mendadak kangen masa-masa dimana semua berita disampaikan dengan begitu terlambat.</p>
<p>Sebenci-bencinya saya dengan berita duka, saya lebih seuka mendengarnya dari Ibu Guru, pagi hari sebelum ketua murid memberikan salam. Dibandingkan harus menerimanya lewat BlackBerry Messenger ketika kita sedang asyik berkendara di jalan raya.</p>
<p>Vina Panduwinata pernah bernyanyi soal surat cinta kan? Bagaimana perasaan dia mencium amplopnya yang wangi, warna merah hati. Sekarang, apakah ada musisi yang pernah pernah membuat lagu &#8220;SMS Cintaku Yang Pertama&#8221;? Tidak. Itu karena perjuangan seorang laki-laki mencuri gincu ibunya, memakainya acak-acakan, lalu menempelkan bibirnya di kertas surat akan jauh lebih berharga dibandingkan beberapa sentimeter gerakan ibu jari untuk membentuk titik dua, strip, dan bintang (:-*). Lagipula, hari gini, siapa sih yang masih deg-degan nunggu SMS? Kalau di zaman dahulu kan muda-mudi kasmaran pasti deg-degan setiap pak pos lewat.</p>
<blockquote><p><em><strong>SUPER OOT!</strong><br />
</em></p>
<p><em>Terakhir, berhubung saya sempat menyinggung soal lari dan BlackBerry, saya jadi terpikir sebuah analogi yang lucu. Mungkin cabang olahraga lari marathon tidak akan ada jika pada zaman dahulu tentara-tentara Yunani itu sudah sibuk bertukar PIN. Yuk mari.</em></p>
<p><em>Sekian, terima kasih.</em></p></blockquote>
<p>&#8212;</p>
<p>Jadi kenapa kita masih menekan fast-forward? Eh, belum sadar? Maksudnya, kapan kita (saya sih, tepatnya) bisa jadi manusia yang bertumpu pada masa kini? Kapan kita bisa menjadi manusia yang bisa menikmati <em>a &#8220;present&#8221; from God</em> secara seutuhnya?</p>
<p>Terlalu banyak hal yang kita lewatkan ketika kita tak diberikan waktu untuk menunggu. Diam sejenak. Mengambil nafas. Sama halnya seperti loading di Internet. Ternyata, halaman yang kadang menyebalkan itu memiliki fungsi yang jauh lebih mulia. Sekedar untuk membuat kita berhenti. Siapa tahu, halaman website yang terbuka selanjutnya berisi rahasia-rahasia terbesar dalam kehidupan kita, seperti apa yang ditemukan oleh Gambir di dalam Herosase? <em>(buat yang nggak ngerti, ini ngutip dari pintu terlarang! ooh, belum nonton? sama, saya juga!)</em></p>
<p>Kata-kata pamungkas dari saya,<br />
<strong>Hanya Tuhan yang Tahu, karena Dia yang Memiliki Waktu.</strong></p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>Pesan Moral:</strong></p>
<ul>
<li>Iyo lagi bete ngeliat countdown UN yang semakin kecil angkanya.</li>
<li>Iyo pengen beli DVD player baru sama LCD 32 inci buat di kamar.</li>
<li>Iyo bete banget gara-gara ga bisa nonton Jason Mraz hari Sabtu.</li>
<li>Iyo lagi seneng banget lari pagi. Akhirnya.</li>
<li>Iyo pengen beli BlackBerry.</li>
<li>Iyo belum nonton Pintu Terlarang.</li>
<li>Iyo denger dari kakaknya, loading facebook di Curve lambat banget ya? Apa beli yang Bold aja?</li>
<li>Iyo keseringan baca <a href="http://thursdaypeople.com"><strong>ThursdayPeople</strong>.com</a>, terutama tulisan-tulisannya <a href="http://thursdaypeople.com/kiaracaesaria"><em>kiaracaesaria</em></a>. Jadi aja, kebawa-bawa nulis dengan tanda kurung tutup dan buka. (seperti ini contohnya, haha!)</li>
<li>Iyo ngantuk. Off dulu ya, Plurkville!</li>
<li>Iyo baru sadar kalau yang lagi dibuka itu WordPress, bukan Plurk.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyiyo.com/?feed=rss2&amp;p=121</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seratus.</title>
		<link>http://simplyiyo.com/?p=115</link>
		<comments>http://simplyiyo.com/?p=115#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 00:30:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wisnu Aryo Setio</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyiyo.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Seratus. 100. Hundred. Dalam dollar, 100 adalah pecahan terbesar. Dalam rupiah, 100 adalah pecahan terkecil. Dunia ini memang penuh angka. Tapi angka-angka itu akan berbeda di setiap pasang mata manusia yang memandangnya. Bagi saya, saat ini, hari ini, seratus adalah hal yang sangat sakral. Seratus mungkin bisa saja diberi tambahan kata Rupiah. Atau Dollar. Atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seratus. 100. Hundred.</p>
<p>Dalam dollar, 100 adalah pecahan terbesar. Dalam rupiah, 100 adalah pecahan terkecil. Dunia ini memang penuh angka. Tapi angka-angka itu akan berbeda di setiap pasang mata manusia yang memandangnya.</p>
<p>Bagi saya, saat ini, hari ini, seratus adalah hal yang sangat sakral.</p>
<p>Seratus mungkin bisa saja diberi tambahan kata Rupiah. Atau Dollar. Atau Kilometer. Atau Kilogram. Tapi yang saya takutkan dan yang saya perjuangkan adalah kata seratus yang ditambahkan kata hari.</p>
<p>Seratus hari.</p>
<p>Untuk mempercantik dan mempertegas, mari kita tambahkan kata &#8216;lagi&#8217;</p>
<p>Seratus hari lagi.</p>
<p>Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama Tahun Ajaran 2008/2009.</p>
<p><strong>Seratus hari lagi.</strong></p>
<p><span id="more-115"></span></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Seperti yang sudah saya sebut di atas, tepat 100 hari lagi dari hari ini, saya beserta ribuan manusia-manusia Sekolah Menengah Pertama yang duduk di kelas sembilan akan menghadapi sebuah kejadian besar. Sebuah peristiwa yang bisa dihitung luar biasa. Yaitu Ujian Nasional. UN, kami menyingkatnya. Kalau organisasi besar internasional itu biasa kami sebut dengan PBB. (HAHA)</p>
<p>Sepandai apapun seorang siswa, mereka juga memiliki kekhawatiran yang sama besarnya dengan yang lain yang kurang pandai. Mengapa? Ujian Nasional bukanlah perhitungan pintar atau tidak pintar. Bukan ajang adu jago atau tidak jago. Bukan menilai teliti atau tidak teliti. Ujian Nasional adalah akumulasi dari ribuan hal. Mulai dari faktor keberuntungan alias hoki, faktor kelihaian menekan pensil, faktor cuaca, faktor kesehatan, faktor perasaan, sampai bagi beberapa orang, faktor sinyal, pulsa, serta Inbox.</p>
<p>Ujian Nasional menurut saya tidak akan pernah bisa adil. Tidak akan. Akan ada banyak sekali hal-hal kecil yang mungkin saja membuat kita berjaya, atau naudzubillah, membuat kita tak berdaya. <em>Divine Intervention</em> akan terjadi secara massal. Banyak anak-anak yang mungkin kesulitan, secara mendadak mendapat bantuan dari langit. Tapi mungkin anak paling jenius di kelas baru saja mendapat musibah, sehingga kondisi mentalnya sangat terpukul. Inilah wajah sebenarnya dari Ujian Nasional. Potret dari sebuah ketidakadilan dalam menilai kapasitas otak seorang manusia.</p>
<p>Lalu sekarang sistem apa yang dapat adil? Saya tidak tahu, saya bukan Menteri Pendidikan. Yang saya tahu, perjuangan seorang siswa di sekolah memang tidak mudah. Memang banyak yang cuma bermain-main saja, ada juga yang serius belajar. Tapi kami semua sudah menghadapi ribuan soal, ratusan tugas, puluhan ulangan serta ujian. Saya rasa, akan sangat tidak adil jika semua yang kita bangun dalam waktu tiga tahun itu hanya ditentukan dengan empat hari ujian.</p>
<p>Belum lagi, kecerdasan manusia memang berbeda-beda. Saya yakin banyak sekali teman saya yang tidak tertarik Matematika tapi mungkin berbakat olahraga. Banyak juga yang tidak bisa berbahasa Inggris tapi luar biasa dalam sastra Indonesia. Saya senang mengutip perkataan dari guru Bahasa Inggris saya.</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Seorang jenius bukanlah orang yang bisa menguasai banyak sekali hal dengan sedikit-sedikit, tapi merupakan seseorang yang memiliki cukup satu atau dua bidang yang ia tekuni. Dan bidang itu ia kuasai seluruhnya, serta ia bisa berprestasi di dalamnya.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Tidak semua orang ingin jadi Insinyur. Tidak semua orang ingin jadi Dokter. Tidak semua orang ingin masuk ITB. Sampai saat ini saya sangat menghargai hal itu.</p>
<p>Tapi untuk bisa mendapatkan pendidikan di sekolah yang berkualitas bagus, kita harus bisa menguasai semuanya. Kemarin guru saya mentargetkan, kami semua harus mendapatkan nilai 10 di pelajaran Matema<em>tai</em>ka. Baiklah, saya hanya bisa menahan nafas. Saya sudah tahu bahwa di sekolah kami, kami tidak mengejar kelulusan. Semua anak memang yakin lulus. Tapi ini adalah kontes adu angka. Sembilan itu tidak cukup. Tidak akan cukup. Sepuluh adalah sebuah standar. Sekolah saya sudah beberapa tahun mempertahankan rekor, sebagai sekolah dengan grafik prestasi yang terus meningkat. Semua guru dan orang tua siswa tentu ingin kalau sekolah kami terus dan terus meningkat lagi. Anak-anak juga bukannya tidak peduli, tapi malah sibuk berebut kursi. Gichie sahabat saya pernah berkata (yah, elo kesebut lagi chie!):</p>
<blockquote><p><em>Ini bukan sebuah perjuangan untuk mendapatkan <em>kelulusan</em>. Ini adalah <strong>perang bintang</strong> untuk mendapatkan kursi di <a href="http://www.sman3-bdg.net/">Tiga</a>.</em></p>
<p>Kelinci Putih &#8211; <a href="http://kelinciputih.wordpress.com/2007/03/24/tee-minus-one-month/">Tee Minus One Month</a><em><br />
</em></p></blockquote>
<p>Oke, dia berhasil menang perang. Dia lulus, dia diterima di Tiga, dan dia menjadi humas OSIS.</p>
<p>Tapi apakah Tuhan juga memberikan hasil yang sama bagi saya dan teman-teman saya di Ujian Nasional kali ini?</p>
<p>Sebagai seorang siswa tidak berdaya, satu kunci yang saya pegang sampai saat ini adalah untuk berserah diri kepada Tuhan. Saya tidak punya kunci yang lain. Apalagi kunci jawaban IPA dan Matematika. Kalau ada yang punya, Inbox e-mail saya di simplyiyo@gmail.com selalu terbuka dua puluh empat jam! <img src='http://simplyiyo.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Haha, kidding.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Seratus hari lagi juga merupakan sebuah simbol bahwa saya harus berhenti sekaligus memulai. Saya harus berhenti memelihara sifat saya yang hobi menunda-nunda. Saya harus memulai untuk belajar, walau dari hal yang paling kecil sekalipun. Seperti apa yang saya tulis di tulisan sebelumnya, saya percaya pada perubahan.</p>
<p>Sebelum saya membaca tulisan Mas Mraz (yang akan saya tonton pada tanggal 6 Maret nanti di Jakarta, woohoo!), saya selalu percaya bahwa saya adalah orang yang *ehem* berbakat di bidang yang berhubungan dengan huruf, tapi sangat bodoh di bidang yang berhubungan dengan angka. Jika saya kesulitan dalam hal Matematika, dengan mudah saya berdalih. &#8220;Wuetss, gue sih ga jago ngitung. Gue jagonya nulis sama ngomong.&#8221;</p>
<p>Saya tahu, kalimat di atas sangat buruk. Pertama karena saya sangat sombong (Nulis aja ga jago-jago banget!). Kedua karena dengan mengucapkan kalimat di atas tadi saya sudah tidak sejalan apa yang pernah saya ucapkan. Seperti menelan ludah sendiri yang sudah dibuang ke lantai! (Ini juga merupakan kalimat andalan saya di acara kaderisasi OSIS beberapa bulan lalu, dan sekarang saya terkena getah kalimat ini)</p>
<p>Maka itu, saya harus percaya bahwa saya bisa berubah. Salah, bukan cuma bisa, tapi PASTI BISA! Bukan cuma pasti bisa, tapi HARUS BISA! Saya harus percaya kalau saya bukan cuma manusia yang diberi kelebihan di bidang huruf, tapi saya juga harus jago menari bersama angka-angka dan rumusnya yang luar biasa. Saya harus yakin bahwa Ujian Nasional akan bisa saya lewati walau dengan perjuangan. Saya harus yakin bahwa saya bisa jadi anak yang jujur. Saya harus yakin!</p>
<p>Tapi saya juga harus sadar bahwa tinggal seratus hari lagi saya akan berada di Sekolah Menengah Pertama. Ya, saya memang ingin segera bercelana panjang abu-abu. Tapi walau begitu, sejujurnya banyak sekali yang saya dapatkan selama tiga tahun ini.</p>
<p>Seorang Iyo, yang asalnya merupakan Ario. Yang asalnya masih udik melihat ada WC berdiri (urinoir) di sekolah. Yang jujur, lugu, polos, agak kampungan malah. Yang kadang tersesat bersama ratusan anak lain dalam sebuah perjalanan mencari identitas.</p>
<p>Sampai sekarang disinilah saya, mengetik tulisan ini. Menyukai menulis, ngeblog, plurking, dan suka lagu Jason Mraz serta Efek Rumah Kaca. Berhasil membuktikan diri sebagai orang nomer satu di sekolah (maksudnya, ketua OSIS). Berusaha untuk tetap menjadi seorang Iyo, yang netral. ditengah teman-teman yang selalu menginginkan perubahan ke satu arah tertentu.</p>
<p>Hal-hal seperti inilah yang membuat saya akan sangat merindukan masa-masa SMP. Saya akan merindukan ruangan ekskul saya, Info5, yang pernah dilengkapi internet unlimited dan ruang rahasia untuk bergosip. Saya akan merindukan ruang OSIS tempat pernah meledakny tawa dan tumpah air mata. Ruang OSIS yang &#8220;bukan-RO-namanya-kalo-nggak-berantakan&#8221;. Saya juga akan merindukan Teras Biru yang teduh itu. Tempat untuk menunggu atau ditunggu. Tempat untuk melihat hujan dan bernyanyi lagu.</p>
<p>Saya akan merindukan orang-orangnya. Guru-gurunya. Teman-temannya. Tanamannya. Baunya. Buku-buku perpustakaannya. Hotspotsnya yang ada tiga. Saya akan merindukan semuanya.</p>
<p>Mungkin ini adalah sebuah tulisan perpisahan saya dengan masa Sekolah Menengah Pertama. Seperti yang kita semua tahu, saya adalah penulis yang sangat mood-oriented. Dan saat ini, sampai seratus hari ke depan, saya hanya ingin untuk berkonsentrasi. Untuk bisa belajar lebih keras sekaligus lebih cerdas lagi.</p>
<p>Seratus hari. Hanya seratus hari lagi sampai momen itu.</p>
<p><em>Sudah siapkah kamu, Iyo?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyiyo.com/?feed=rss2&amp;p=115</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Live High, Live Mighty.</title>
		<link>http://simplyiyo.com/?p=103</link>
		<comments>http://simplyiyo.com/?p=103#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 03:58:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wisnu Aryo Setio</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyiyo.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[(Oops, tulisannya panjang!) Saya ingin memulai tulisan kali ini dengan berbagai flashback. Pertama, di tahun 1994, lima belas tahun sebelum hari ini, lahir seorang bayi yang kurus kecil dan diberi nama Wisnu Aryo Setio. Bayi kurus itu sekarang berubah menjadi manusia yang tidak kurus (saya cuma tidak ingin bilang gemuk) dan rajin memandangi layar komputer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object width="480" height="295" data="http://www.youtube.com/v/qnNMNj88Ba0&amp;hl=en&amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/qnNMNj88Ba0&amp;hl=en&amp;fs=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object></p>
<p>(Oops, tulisannya panjang!)</p>
<p>Saya ingin memulai tulisan kali ini dengan berbagai flashback. Pertama, di tahun 1994, lima belas tahun sebelum hari ini, lahir seorang bayi yang kurus kecil dan diberi nama Wisnu Aryo Setio. Bayi kurus itu sekarang berubah menjadi manusia yang tidak kurus (saya cuma tidak ingin bilang gemuk) dan rajin memandangi layar komputer sambil sesekali mengetik di keyboardnya. Lalu, dua tahun yang lalu, seorang Iyo memutuskan untuk pindah dari blog lama miliknya di <a href="http://simplyiyo.blogspot.com">blogspot</a>, dan mulai menulis tulisan pertamanya.</p>
<p>Tentu pembaca sudah bisa menebak kemana arah tulisan ini. Saya ingin menjadikan tulisan ini sebagai nisan prasasti, sebuah pendanda akan berbagai macam hal yang berhubungan tentang saya, sifat saya, beserta tulisan-tulisan saya sebelumnya. Tepat di tulisan ini, blog saya di <strong>http://simplyiyo.com</strong> berulang tahun yang ke dua. Dan juga menginjak lima puluh tulisan. Saya tahu bahwa ini bukanlah prestasi. Lima puluh dalam dua tahun adalah bukti bahwa Iyo yang dulu adalah Iyo yang tidak produktif, Iyo yang hanya menulis sesuai dengan moodnya. Apakah Iyo yang lima belas tahun akan memiliki sifat yang sama, dan di peringatan tiga tahun blog ini saya akan mencapai angka tujuh puluh lima? Semoga&#8230; Tidak!</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Mari kita terus melakukan flashback, satu tahun yang lalu saya menuliskan berbagai resolusi yang sangat amat muluk-muluk untuk dicapai. Semuanya terasa begitu sulit, dan jauh sekali untuk dicapai, ketika saya menulis itu. Tapi pertanyaannya, apakah semua resolusi itu kini sudah terpenuhi seperti apa yang saya tulis satu tahun lalu?</p>
<p>Jawabannya&#8230; akan saya jawab dengan sebuah jawaban yang menggantung. Dengan sebuah flashback lagi. Dengan perkataan (yang sebenarnya sangat tidak berhubungan dengan pertanyaan) dari salah satu idola baru saya. Inspirasi saya dalam berbagai hal: Jason Mraz. Di bawah ini adalah beberapa kutipan dari blog miliknya, yang sangat saya suka. Sebenarnya dia juga mengutip sebuah berita di koran ternama, hehe. :p</p>
<blockquote>
<h3 class="post-title entry-title"><a href="http://freshnessfactorfivethousand.blogspot.com/2008/11/gratitude-is-good-for-your-health.html">Gratitude is Good for Your Health</a></h3>
<p>Finally, some research reports coming in on the power of Saying Thank You. This is from today&#8217;s pages of USA Today.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Stepping up the gratitude<br />
Giving thanks year-round can make you healthier</span><br />
<span style="font-style: italic;"><span style="font-weight: bold;">Your Health By Kim Painter</span></span></p>
<p>Thursday, in between the cheese ball appetizers and the pumpkin pie desserts, most of us will indulge in something proven to have powerful health benefits.</p>
<p>No, it&#8217;s not that extra serving of stuffing. It&#8217;s the expression of gratitude — the simple act of thanking God, thanking others or just counting your blessings. Saying thanks, it turns out, isn&#8217;t just pious or polite. It&#8217;s good for you.</p>
<p>But there&#8217;s a catch: You have to do it even when the calendar does not say &#8220;Thanksgiving.&#8221;</p>
<p>&#8220;It doesn&#8217;t really work if you do it only once a year,&#8221; says Sonja Lyubomirsky, professor of psychology at the University of California-Riverside.</p>
<p>Practicing gratitude is like exercising, says Robert Emmons, professor of psychology at the University of California-Davis: Use it, and you won&#8217;t lose it, even when times are tough, as they are for many folks right now.</p>
<p>Lyubomirsky and Emmons are among researchers who have studied the power of gratitude and learned, for example, that:</p>
<ul>
<li>People with high blood pressure not only lower their blood pressure, but they feel less hostile and are more likely to quit smoking and lose weight when they practice gratitude. This was demonstrated by calling a research hotline once a week to report on the things that make them grateful.</li>
<li>People who care for relatives with Alzheimer&#8217;s disease feel less stress and depression when they keep daily gratitude journals, listing the positive things in their lives.</li>
<li>Those who maintain a thankful attitude through life appear to have lower risks of several disorders, including depression, phobias, bulimia and alcoholism.</li>
<li>Most people can lift their mood simply by writing a letter of thanks to someone. Hand-deliver the letter, and the boost in happiness can last weeks or months.</li>
</ul>
<p>Practicing gratitude in these systematic ways changes people by changing brains that &#8220;are wired for negativity, for noticing gaps and omissions,&#8221; Emmons says. &#8220;When you express a feeling, you amplify it. When you express anger, you get angrier; when you express gratitude, you become more grateful.&#8221;</p>
<p>And grateful people, he says, don&#8217;t focus so much on pain and problems. They also are quicker to realize they have friends, families and communities to assist them in times of need. They see how they can help others in distress as well, he says.</p></blockquote>
<p>Maaf, dalam bahasa Inggris. Saya tidak punya cukup banyak waktu untuk menerjemahkannya. Inti yang bisa saya ambil dari tulisan tadi adalah bahwa sepotong kata simpel yaitu &#8220;Terima Kasih&#8221; kepada Tuhan, kehidupan, bahkan dunia dan isinya dapat membuat hidup kita lebih sehat dan lebih bahagia. Sayang, orang Amerika sana sering kali lupa bersyukur, berterima kasih. Mereka hanya melakukannya setiap setahun sekali di momen Thanksgiving. Sedangkan saya memiliki kesempatan emas untuk melakukannya setiap saat, setidaknya lima kali satu hari. Dalam ayat kedua surat pertama yang selalu saya baca berbunyi, <strong>&#8220;Alhamdulillahhi Rabbil Al Amin.&#8221;</strong> Segala Puji Bagi Tuhanku, Penguasa Alam.</p>
<p>Lalu apa hubungannya dengan resolusi saya tahun lalu?</p>
<p>Setelah saya baca kembali, memang tidak ada resolusi yang bisa saya penuhi secara sempurna. Bahkan ada yang belum sama sekali saya lakukan setelah satu tahun. Tapi dengan melakukan proses sedikit demi sedikit, itu sudah merupakan anak tangga bagi saya untuk mencapai semua yang saya inginkan itu. Saya memang belum bisa memasak, tapi saya pernah memasak dan hasilnya enak. Saya memang belum jago mengendarai mobil, tapi saya pernah dan saya tidak menabrak. Saya memang bukan seorang atlet berperut kotak-kotak, tapi saya sudah berdamai dengan treadmill dan lari pagi. Semua berjalan lambat, tetapi pasti. Tidak ada hal yang instan di dunia ini, kan?</p>
<p>2008, serta umur 14 tahun, telah memberikan kenangan yang teramat sangat manis bagi saya. Semua dimulai dari hal-hal kecil yang menyenangkan sampai hal-hal besar yang tak terduga. Di umur empat belas saya juga perlahan-lahan mulai mengetahui rahasia-rahasia bagaimana cara &#8220;menghidupi&#8221; hidup. Dan salah satu yang saya temukan di umur empat belas tahun, salah satunya adalah ilmu bersyukur. Setelah saya mempraktekannya di dunia nyata, saya sempat ingin mati. Mengapa? Bukan karena saya depresi! Tapi karena pada saat itu, hidup saya terasa begitu bahagia dan sempurna sehingga saya ingin mengabadikannya. Syukurnya saya tidak sebodoh itu. Dan kehidupan saya sampai saat ini telah melukiskan sebuah senyum besar di wajah saya yang membuat saya ingin terus dan terus bersyukur.</p>
<p><strong>Bahwa saya telah diberikan kesempatan untuk hidup, dan menjalani kehidupan ini beserta semua manis dan pahitnya.</strong></p>
<p><span id="more-103"></span></p>
<p>Bagian kedua dari tulisan ini tidak akan lagi berfokus kepada kilas balik, tapi akan berfokus kepada masa kini dan masa depan. Salah satu film kesukaan saya di tahun 2008 (loh katanya nggak akan flashback!), Kung Fu Panda, telah mengajarkan saya untuk menjadi manusia yang fokus kepada hari ini, detik ini. Kemarin adalah sejarah, besok adalah misteri, tapi hari ini adalah hadiah. Anugerah Tuhan yang tidak terkira. Maka itu, sebagai manusia yang harus pandai bersyukur, kita harus menghargai anugerah Tuhan itu dengan mempergunakannya sebaik mungkin. Fokus kita pada masa kini, tanpa kita sadari juga merupakan sebuah cara untuk membangun anak tangga menuju masa depan.</p>
<p>Lagi-lagi saya harus memberikan kutipan dari Mr. A to Z yang menurut saya sangat luar biasa. Dia membuat tulisan ini untuk memancing orang-orang agar memilih Obama saat itu. Tapi ternyata, tulisannya berdampak jauh lebih banyak.</p>
<blockquote>
<h3 class="post-title entry-title"><a href="http://freshnessfactorfivethousand.blogspot.com/2008/10/change-is-going-to-come.html">A change IS going to come</a></h3>
<p>I bring this up as today’s lesson: Nothing is final. One day you’re high. The next day you’re low. You might have a funky, expressive, or awful haircut today, but soon it will grow into something else, something new and random. Maybe you grew up liking pop music and boy bands, but now you like a specific mash up of Electronic &amp; Classical. You might decide you don’t want to smoke cigarettes anymore; that it’s just not who you are. Maybe you were a staunch republican but now have curiosities about the <a href="http://www.barackobama.com/index.php">well-spoken and well-organized Democratic Nominee</a>. Perhaps you were madly in love last week, but woke up today feeling comfort in solitude, without a desire to be held.</p>
<p><em><strong>Everything is fine. Not finAL.</strong></em></p>
<p>We tend to instantly identify with “things.” And we believe in so much, when in fact, a belief isn&#8217;t known to be true. It&#8217;s a hope for the truth. We hold grudges because of what someone said when we were young. We store hurtful words and replay them in our minds until we think it to be true. And some of us believe a TV commercial and think we need a faster computer, a smarter phone, a stronger pill, a more relaxed-fit jean, etc. <strong>We think that certain things, thoughts, or actions make us who we are and sometimes we become addicted to those thoughts or behaviors and then become too afraid to let them go.<br />
</strong><br />
I write and post a lot therefore many people assume I have every self-published word memorized or that I live these shared thoughts constantly. This is not the case. <em>My brain doesn’t reference myself very well actually, and I’m sure I contradict myself every other day in one way or another. </em><strong>One day I feel like I have all the wisdom of the world and the next day my soul wears thin and I stutter just ordering ice cream. </strong></p>
<p>And everything is fine.</p>
<p><strong>Because I trust in the ever-changing climate of the heart. </strong>(At least, today I feel that way.)<em> I think it is necessary to have many experiences for the sake of feeling something; for the sake of being challenged, and for the sake of being expressive, to offer something to someone else, to learn what we are capable of</em>. <strong>These meanderings, rants, and blogs for instance, provide a great deal of comfort just sharing it, even though i put a part of myself on the line to be criticized or considered an ass.</strong><br />
Oh well, Courage is triumph of the soul is guess. and an Ass can still be of great service.</p>
<p><a href="http://www.barackobama.com/index.php">So Remember, <span style="font-weight: bold;">You have the right to change your mind.</span></a><br />
About anything.<br />
Anytime.<br />
This is not the ending.<br />
<strong>P.S. – No doesn’t mean forever. It simply means, “Not right now.”</strong><br />
<em>And on the topic of Not right now, whatever happened to you in the past is not happening now. </em><br />
You will be safe behind your honest decisions and mood swings.<br />
I promise.</p>
<p><span style="font-style: italic;">-mraz<br />
Berlin</span></p></blockquote>
<p>Luar biasa! Saya hampir menangis saat membacanya. Semua kata-kata yang saya tulis italic dan bold adalah kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan saya. Intinya, apa yang berusaha dikatakan oleh Jason Mraz adalah bahwa kita semua tidak akan pernah mencapai kata final dalam kehidupan ini. Kita akan selalu hidup dalam kontradiksi. Semua keputusan bisa saja berubah dalam waktu lima menit, lima jam, lima tahun, atau bahkan lima detik! Saya sampai saat ini masih percaya akan stempel-stempel yang dicap di jidat kita oleh para psikolog. D I S C test, melankolis-sanguinis-koleris-pragmatis, semua jenis-jenis penyamarataan sifat manusia. Tapi setelah saya membaca tulisan tadi saya jadi makin yakin bahwa kita sebagai manusia pada hakikatnya bisa berubah, dan harus berubah, menjadi lebih baik dan lebih baik lagi! Kitab saya juga dengan jelas menyebutkan itu.</p>
<p>Saya juga percaya pada perubahan suasana hati, karena itulah yang membuat saya kaya dalam berkarya. Seorang musisi tentu tidak akan bertahan lama jika ia hanya bisa membuat lagu dengan tema yang sama pada setiap albumnya. Jatuh cinta, patah hati, jatuh cinta lagi, putus nyambung. (semuanya judul lagu!) Sekarang contohlah Slank, Iwan Fals, SORE, Efek Rumah Kaca, dan Jason Mraz sendiri, mereka adalah fotografer kehidupan. Mereka punya lagu yang tepat untuk setiap suasana hati. Dan saya juga ingin begitu, walau dalam bentuk tulisan. Jika pembaca pernah membaca tulisan-tulisan saya dari masa ke masa, semua dengan jelas menggambarkan apa yang terjadi pada diri saya saat itu juga.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Dua tema besar ini yang akan selalu saya simpan di kepala saya selama menjalani umur lima belas ini. Terima kasih &amp; Perubahan. Gratitude &amp; Change. Hal yang akan menjadi resolusi utama saya dalam menjalani kehidupan, mungkin tidak hanya selama satu tahun kedepan, tapi juga untuk selama-lamanya.</p>
<p>Saya ingin masuk SMA Negeri 3 Bandung. Untuk mencapainya, saya harus berubah! Kurangi kebiasaan mencontek (oops!), sering belajar, dengarkan penjelasan guru. Jika nanti saya masuk, saya harus bersyukur. Jika saya tidak (Naudzubillah, Heaven Forbid!) saya juga harus belajar untuk berlapang dada dan terus bersyukur, karena mungkin sekolah itu bukan yang terbaik bagi saya.</p>
<p>Saya ingin <a href="http://ThursdayPeople.com"><strong>ThursdayPeople.com</strong></a> (dalam tiga hari mencapai 1.500 views!) beserta proyek menulis saya yang lain sukses. Untuk mencapainya, saya harus berubah! Seringlah berlatih menulis, gali terus ide-ide baru, perbanyak promosi yang bagus. Jika nanti saya sukses, saya harus bersyukur. Jika saya tidak (Naudzubillah, Heaven Forbid!) saya juga harus belajar untuk berlapang dada dan terus bersyukur, karena mungkin kesuksesan akan saya raih di percobaan kedua atau tahun selanjutnya. J.K Rowling saja ditolak berkali-kali, kan?</p>
<p>Saya sudah menyiapkan dalam kepala, apa saja yang harus saya ubah dan harus saya syukuri. Saya ingin menjadi blogger yang sering membalas komentar orang lain, dan bersyukur bahwa masih ada orang yang peduli dan memberi komen. Saya ingin menjadi orang yang kurus dan sehat, dan bersyukur bahwa saya masih punya treadmill beserta DVD yang belum ditonton untuk mencapainya. Semua, di tahun ini maupun tahun-tahun berikutnya akan berjalan terus seperti itu. Semoga, tidak seperti kata Jason Mraz, saya bisa terus konsisten untuk menjadi terus seperti ini. Jika saya tidak konsisten, setidaknya saya masih punya tulisan ini sebagai pengingat, sebagai penanda, bahwa saya pernah berpikir seperti ini.</p>
<p>Mari berubah, dan mari berterimakasih. Alhamdulillah.</p>
<p>Oh, lima belas tahun, apa lagi yang akan menanti saya? SMA Negeri 3 Bandung? ThursdayPeople.com 1juta views? Buku BestSeller karya saya sendiri? Timbangan berkurang setengah? Tinggi jadi 180 lebih? Bisa main tiga alat musik?</p>
<p>Saya hanya bisa bilang: <strong>Amyn.</strong> <a href="http://thursdaypeople.com/figuran/abdul-muis-sang-penjual-kelapa-di-jalan-dago">Pake Y, biar gaul!</a> Hehehehe.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyiyo.com/?feed=rss2&amp;p=103</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
